Malam di Chelyabinsk sudah larut. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lev Ryley seharusnya sudah tidur. Namun, ia tidak bisa. Ponselnya berdering, menampilkan nama Sofia di layar. Lev segera mengangkatnya.
"Sofia? Ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Lev, khawatir. Jarang sekali Sofia menelepon selarut ini.
Di ujung sana, suara Sofia terdengar putus asa. "Lev... aku... aku tidak mengerti tugas ini. Aku sudah coba berjam-jam. Aku mau menyerah saja."
Lev merasa lega, namun juga bingung. "Tugas apa? Bukankah kamu sudah libur?"
"Liburanku sudah selesai, Lev. Aku kembali kuliah. Dan sekarang aku dapat tugas tentang filsafat Rusia. Tentang... ah, pokoknya rumit sekali. Aku tidak mengerti. Aku sudah baca berkali-kali, tapi otakku rasanya mau pecah."
Lev mendengarkan dengan sabar. Ia membayangkan Sofia yang pasti sedang frustrasi, dengan rambut acak-acakan dan tumpukan buku di sekelilingnya. "Bagaimana aku bisa membantu? Aku bahkan tidak mengerti bahasanya."
"Kamu bisa mendengarku. Itu sudah cukup," jawab Sofia, suaranya terdengar sedikit lebih tenang. "Aku hanya butuh seseorang untuk diajak bicara. Otakku sudah penuh. Aku hanya butuh... ruang."
"Baik. Ceritakan padaku," kata Lev, ia duduk tegak. "Anggap saja kamu sedang menjelaskan kepada anak kecil yang tidak mengerti apa-apa."
Sofia mulai menjelaskan. Ia berbicara tentang filosofi Rusia yang rumit, tentang para filsuf yang nama-namanya sulit diucapkan, dan tentang konsep-konsep yang abstrak. Lev mendengarkan dengan saksama. Ia tidak mengerti apa-apa, tapi ia tidak memotong. Ia membiarkan Sofia berbicara, meluapkan semua frustrasinya.
Di tengah-tengah penjelasan Sofia, tiba-tiba Sofia berhenti dan tertawa. "Astaga, Lev. Aku sedang berbicara denganmu tentang filsafat Rusia, dan kamu di Chelyabinsk. Ini sangat gila."
"Tidak juga," jawab Lev, tersenyum. "Anggap saja ini petualangan baru. Petualangan filsafat."
Sofia tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Kamu benar. Kamu tahu? Setelah bicara denganmu, aku merasa lebih baik. Meskipun aku tidak mengerti apa yang aku bicarakan, setidaknya ada orang yang mendengarkan."
"Tentu saja. Saya kan Pahlawan Batik. Tugas pahlawan itu mendengarkan," canda Lev.
"Ah, iya. Pahlawan Batik yang salah kostum," balas Sofia, tawa mereka berdua memenuhi malam yang sunyi.
Mereka terus mengobrol. Bukan lagi tentang tugas kuliah Sofia, melainkan tentang hal-hal ringan. Tentang hari-hari Lev di Chelyabinsk, tentang komunitas Muslim yang ia temui, dan tentang nenek yang ia tolong. Lev juga bertanya tentang hari-hari Sofia di Perm.
"Aku merindukanmu, Lev. Siapa yang akan membuatku tertawa saat aku sedang pusing dengan tugas?" tanya Sofia.
"Aku akan selalu ada. Telepon saja kapan pun kamu mau. Aku akan mendengarkan," janji Lev.
Percakapan mereka berlangsung hingga hampir Subuh. Mereka berbagi tawa, nostalgia, dan dukungan. Meskipun terpisah oleh jarak ribuan kilometer, mereka merasa begitu dekat. Lev menyadari bahwa persahabatan sejati tidak mengenal jarak. Ia bisa menjadi pendengar yang baik bagi Sofia, dan Sofia bisa menjadi penyemangatnya.
Sebelum menutup telepon, Sofia berterima kasih lagi kepada Lev. "Terima kasih, Lev. Kamu menyelamatkanku malam ini."
"Sama-sama, Sofia. Tidurlah. Jangan lupa shalat subuh," balas Lev, lalu tersadar. "Ups, maaf. Maksud saya... istirahatlah."
Sofia tertawa. "Tidak apa-apa, Lev. Aku mengerti. Kamu juga. Jangan tidur larut lagi."
Setelah menutup telepon, Lev meletakkan ponselnya. Ia menatap ke luar jendela. Salju masih turun. Ia merasa tenang. Ia tidak hanya menjelajahi tempat-tempat baru, tetapi juga menjelajahi hubungan-hubungan baru. Ia belajar bahwa persahabatan bisa menjadi kekuatan yang luar biasa, bahkan saat kita merasa sendirian. Dan ia bersyukur. Ya Allah, terima kasih untuk Sofia.
