Hari berikutnya di Córdoba, Emily dan Lev memutuskan untuk menjelajahi labirin jalan-jalan sempit di kawasan Yahudi, yang dikenal sebagai Judería. Dinding-dinding putih bersih, dihiasi dengan pot-pot bunga warna-warni, menciptakan pemandangan yang indah. Lev sibuk memotret setiap sudut yang ia temukan, mencoba menangkap pesona kota tua itu. Emily, dengan buku sketsanya, sesekali membuat sketsa, tetapi lebih sering menikmati suasana.
Mereka menemukan sebuah kafe kecil di sebuah gang yang sepi. Aroma kopi yang harum tercium dari dalam. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak, memesan kopi dan churros, camilan khas Spanyol. Di dalam kafe, mereka duduk di sebuah meja dekat jendela, mengamati orang-orang yang lalu-lalang.
"Aku merasa seperti berada di film," kata Lev, sambil menyesap kopinya.
"Kau terlalu banyak menonton film," balas Emily, sambil mencelupkan churros ke dalam cokelat panas.
Tiba-tiba, seorang nenek tua yang energik masuk ke kafe. Ia mengenakan gaun flamenco berwarna merah cerah, dan ia langsung menarik perhatian semua orang di kafe. Ia memesan kopi, lalu berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Ada yang mau menari flamenco?" tanyanya, dengan suara yang lantang.
Semua orang di kafe tertawa, tetapi tidak ada yang berani maju. Lev, yang merasa canggung, berusaha menghindari kontak mata dengan nenek itu. Namun, Emily, yang penasaran, mengamati nenek itu dengan saksama.
Nenek itu lalu berjalan ke arah meja Lev dan Emily. Ia berhenti di depan Lev, dan menunjuknya. "Kamu! Kamu terlihat seperti tidak punya kesenangan dalam hidup. Ayo, menari denganku!"
Lev panik. "Aku... aku tidak bisa menari," katanya, dengan wajah memerah.
"Tidak ada yang tidak bisa menari!" kata nenek itu, sambil menarik tangan Lev. "Semua orang punya irama di dalam dirinya."
Lev, yang tidak bisa menolak, akhirnya bangkit dari kursinya.
Emily, yang merasa geli, mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian itu. Nenek itu mulai menari flamenco dengan gerakan-gerakan yang energik, dan Lev, yang kaku seperti kayu, berusaha menirunya.
"Jangan kaku begitu!" teriak nenek itu. "Gerakkan pinggulmu! Rasakan musiknya!"
Lev mencoba menggerakkan pinggulnya, tetapi ia malah terlihat seperti robot yang rusak. Emily dan semua orang di kafe tertawa terbahak-bahak.
Setelah beberapa menit, nenek itu berhenti, tersenyum puas. "Kamu... lumayan. Tapi butuh banyak latihan."
Nenek itu kembali ke kursinya, meninggalkan Lev yang kelelahan dan malu. Lev kembali duduk di kursinya, dengan wajah yang masih memerah.
"Aku akan menghapus video itu," kata Lev, menatap Emily.
"Tidak akan," Emily membalas, sambil tersenyum lebar. "Itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan."
Malam itu, saat mereka berjalan pulang, Lev merasa bahwa ia telah belajar satu hal penting. Terkadang, kita harus keluar dari zona nyaman kita untuk bisa merasakan hal-hal yang tidak terduga. Dan dengan Emily di sisinya, ia tahu bahwa setiap petualangan akan menjadi cerita yang tak terlupakan, bahkan jika itu adalah tarian flamenco yang canggung di sebuah kafe kecil di Córdoba.

I like Emily
BalasHapus