Kesuksesan Dubai Chocolate viral membawa sedikit kesibukan baru bagi keluarga Rahmat, tapi mereka tidak pernah melupakan akar tradisi dan kewajiban sosial keagamaan mereka. Bulan Rabiul Awal tiba, dan di Banjarmasin, bulan ini disambut dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang meriah. Setiap masjid dan langgar (musala) mengadakan acara, dan partisipasi warga sangat tinggi, terutama dalam hal menyiapkan hidangan khas.
Keluarga Rahmat, sebagai bagian aktif dari masyarakat setempat, kebagian tugas membuat salah satu kudapan wajib Maulid: Apam Barabai.
Apam Barabai adalah kue apam khas dari daerah Barabai (Hulu Sungai Tengah) yang terkenal seantero Kalimantan Selatan. Ciri khasnya adalah tekstur yang lembut, rasa manis legit dari gula merah, dan aroma tape singkong yang khas sebagai pengembang alami. Kue ini sering disajikan dalam acara-acara besar keagamaan atau pernikahan.
"Alhamdulillah, tahun ini kita kebagian jatah buat Apam Barabai lagi," ujar Ibu Salma di dapur, sambil merendam beras untuk dibuat tepung.
"Seru, Bu! Berarti dapur kita bakal ramai lagi," sahut Sarah, yang sudah expert dengan adonan sejak suksesnya proyek Dubai Chocolate.
Ayah Rahmat, Zaki, dan Aisyah bertugas menyiapkan peralatan dan bahan-bahan pendukung. Suasana di rumah terasa penuh semangat gotong royong. Ibu Salma dan Sarah mulai mengaduk adonan tepung beras, gula merah cair, dan tape singkong yang sudah dihaluskan. Proses fermentasi adonan ini membutuhkan waktu, mengajarkan mereka tentang kesabaran.
"Apam ini mengajarkan kita tentang proses, Nak," kata Ibu Salma kepada Sarah. "Enggak bisa instan. Harus sabar nunggu adonannya mengembang sempurna, sama seperti kita sabar menunggu pahala dari perbuatan baik."
Aisyah yang sedang mencuci cetakan apam, menyahut, "Berarti kalau Apamnya bantet, kurang sabar ya, Bu?"
"Ya, bisa jadi," Ibu Salma tertawa.
Setelah proses fermentasi yang pas, aroma tape mulai tercium. Saatnya mencetak dan mengukus. Ratusan cetakan kecil apam disiapkan. Ayah Rahmat dan Zaki membantu menuang adonan ke dalam cetakan dan menatanya di dalam kukusan besar. Dapur menjadi sangat sibuk dan panas.
"Ayah, hati-hati panas!" Zaki mengingatkan saat Ayah Rahmat mengangkat kukusan.
"Siap, Kapten!" Ayah Rahmat menjawab, keringat bercucuran di dahinya.
Mereka bekerja sama bagai sebuah tim yang solid. Tumpukan Apam Barabai berwarna cokelat keemasan yang sudah matang mulai menggunung di atas meja. Aromanya yang manis dan khas sangat menggoda.
Malam harinya, setelah Apam dikemas rapi dalam plastik-plastik kecil, Ayah Rahmat dan Zaki mengantarnya ke masjid setempat untuk disajikan setelah acara pembacaan maulid dan tausiyah.
Di masjid, suasana sangat semarak. Warga berkumpul, bersalawat, dan mendengarkan ceramah. Setelah acara inti selesai, tibalah saatnya "makan bersama", momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, tua muda.
Apam Barabai buatan keluarga Rahmat disajikan bersama dengan berbagai hidangan khas Maulid lainnya seperti kue lam, bingka, dan nasi samin. Warga makan dengan lahap, sambil sesekali memuji kelezatan apam yang lembut dan manisnya pas.
"Apamnya Rahmat ini memang paling juara setiap tahun," puji Pak RT, membuat Ayah Rahmat tersipu malu.
Bagi keluarga Rahmat, momen ini adalah puncak dari kebersamaan dan nilai-nilai Islami yang mereka yakini. Berbagi hidangan khas Apam Barabai bukan sekadar tradisi, tapi wujud cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan cara mereka memupuk rasa persaudaraan di lingkungan tempat tinggal. Di Banjarmasin, kuliner tradisional dan nilai agama berjalan beriringan, memperkaya kehidupan bermasyarakat mereka yang harmonis dan penuh berkah.
