"Lev! Ayo kita ke restoran malam ini!" ajak Kamil, pemuda lokal dari Chelyabinsk, saat mereka bertemu di masjid untuk shalat maghrib.
"Ada acara apa?" tanya Lev, bingung.
"Hanya... makan malam perpisahan," jawab Kamil, berusaha menyembunyikan senyumnya.
Lev mengernyitkan dahi. "Perpisahan? Tapi saya kan masih di sini beberapa hari lagi?"
"Ah, sudahlah. Jangan banyak tanya," potong Faruq, pengusaha dari Uzbekistan, yang tiba-tiba muncul. "Ikut saja. Ada kejutan."
Lev merasa curiga. Namun, ia memutuskan untuk mengikuti saja. Ia percaya pada teman-teman barunya itu. Lagipula, ia tidak punya rencana lain.
Setelah shalat Isya, Lev, Kamil, Faruq, dan beberapa teman lainnya dari komunitas muslim Chelyabinsk berjalan menuju sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari masjid. Restoran itu terlihat ramai, namun tidak mencolok. Lev tidak mencium adanya tanda-tanda pesta.
Saat mereka masuk, sebuah piring berisi makanan disajikan di meja mereka. Ada nasi, kebab, dan beberapa hidangan halal lainnya. Mereka semua mulai makan dan mengobrol. Lev merasa senang. Ia merasa di rumah. Ia tidak lagi merasa asing. Ia merasa menjadi bagian dari mereka.
Saat Lev sedang asyik makan, lampu tiba-tiba mati. Suasana menjadi gelap. Lev bingung. Ada apa ini? Ia mendengar bisik-bisik, tapi ia tidak mengerti apa yang mereka katakan.
Tiba-tiba, suara nyanyian terdengar. Bukan lagu berbahasa Rusia, melainkan lagu "Selamat Ulang Tahun". Lev menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita dari dapur berjalan keluar, membawa sebuah kue ulang tahun kecil dengan lilin menyala di atasnya. Di belakangnya, berdiri semua teman-teman Lev dari komunitas muslim Chelyabinsk.
Lev terkejut. Matanya membulat. Ia melihat Sofia, melalui layar ponsel yang digenggam oleh Alim, mahasiswa dari Turkmenistan. Sofia sedang tersenyum lebar.
"Selamat ulang tahun, Pahlawan Batik!" seru Sofia dari ponsel. "Aku tahu kamu di sana sendirian. Jadi aku siapkan ini. Maaf tidak bisa datang."
Lev merasa terharu. Ia tidak menyangka. Ia bahkan sudah lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Jauh dari rumah, di tengah kota asing, ia mendapatkan kejutan ulang tahun dari sahabatnya yang berada di kota lain, dan dari teman-teman baru yang baru ia kenal.
Air mata Lev menetes di pipinya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum. Ia meniup lilin di kue ulang tahunnya. Lalu, ia memeluk teman-temannya satu per satu.
"Terima kasih... terima kasih banyak," bisik Lev, suaranya tercekat. "Saya tidak tahu harus bilang apa."
"Bukan apa-apa, Nak," kata Faruq, menepuk pundak Lev. "Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kami tidak bisa membiarkanmu merayakan ulang tahun sendirian."
Sofia, yang masih ada di ponsel Alim, berkata, "Lev! Jangan nangis! Pahlawan tidak boleh cengeng!"
Lev tertawa. "Pahlawan juga punya hati, Sofia."
Mereka semua tertawa. Malam itu, restoran kecil di Chelyabinsk dipenuhi dengan kebahagiaan. Lev merasa begitu dicintai. Ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tahu, di mana pun ia berada, ia akan selalu punya keluarga.
Setelah pesta kecil usai, Lev menelepon Sofia. "Sofia... terima kasih. Ini kejutan terbaik yang pernah saya dapatkan."
"Sama-sama, Pahlawan Batik," balas Sofia. "Aku senang kamu suka. Sekarang, sudah bisa senyum, kan?"
"Sudah," jawab Lev, tersenyum lebar. "Aku akan selalu mengingat malam ini."
"Aku juga," kata Sofia. "Sampai jumpa di Kamchatka! Kalau kamu tidak nyasar."
Lev tertawa. "Tidak akan."
Di hostel, sebelum tidur, Lev menulis di jurnalnya.
“Chelyabinsk. Hari ini, aku berulang tahun. Dan aku mendapatkan kejutan yang tidak pernah aku duga. Aku mendapatkan kejutan dari Sofia, sahabatku yang jauh. Aku juga mendapatkan kejutan dari teman-teman baruku di sini. Mereka membuatku merasa istimewa. Aku belajar, bahwa kebahagiaan itu tidak harus mahal. Kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil, dari kebaikan yang tulus. Dan aku bersyukur. Ya Allah, terima kasih untuk semua kebahagiaan ini.”
Lev tersenyum. Ia memejamkan mata. Ia merasa hangat, meskipun udara di luar sangat dingin. Ia tahu, perjalanannya masih panjang. Tapi ia tidak lagi takut. Ia tahu, di setiap langkahnya, ada doa, ada dukungan, ada persahabatan. Dan itu adalah kekuatan terbesarnya.
