Pagi hari di desa pedalaman itu diwarnai dengan adegan perpisahan. Anak-anak yang kemarin memberi kejutan manis kepada Lev kini mengantarkannya dan Faruq ke pinggir sungai. Mereka berdiri melambai, senyum mereka tulus, membuat hati Lev terasa hangat. Faruq dan Lev naik ke perahu, memulai perjalanan pulang.
Di atas perahu, Lev memegang erat bingkai foto sederhana yang terbuat dari kayu, hadiah dari anak-anak. Ia menatap foto itu, ia melihat dirinya dan Faruq tersenyum, dengan latar belakang rumah betang. Foto itu adalah pengingat yang berharga, bahwa di balik setiap kekonyolan, pasti ada kebaikan.
"Faruq, bingkai ini mengingatkan aku pada arti persahabatan," kata Lev.
"Kenapa?" tanya Faruq.
"Karena persahabatan itu seperti bingkai ini. Sederhana, tapi berharga," jawab Lev.
Faruq tersenyum. Ia menatap Lev, sahabatnya yang kini sudah lebih bijaksana.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Lev kini tidak lagi panik saat perahu bergoyang. Ia bahkan sudah bisa menikmati pemandangan di sekitarnya. Ia merasa, ia sudah lebih dewasa.
"Faruq, kamu tahu? Perjalanan ini mengubah aku," kata Lev.
"Apa yang berubah?" tanya Faruq.
"Dulu, aku hanya melihat hal-hal yang lucu, tapi sekarang aku melihat hal-hal yang berharga. Dulu, aku hanya memotret, tapi sekarang aku belajar," jawab Lev.
Faruq mengangguk. "Itu artinya, kamu sudah menjadi fotografer yang lebih baik, Lev."
Mereka tiba di Sampit. Lev dan Faruq langsung menuju penginapan. Di sana, Lev membongkar kopernya. Ia mengeluarkan bukunya, kameranya, dan berbagai peralatannya. Ia juga mengeluarkan bingkai foto kayu dari tasnya, lalu memajangnya di meja.
"Aku akan memajang bingkai ini di kamarku di Banjarmasin," kata Lev.
Faruq tersenyum. "Ide bagus."
Malam harinya, mereka menikmati makan malam di sebuah warung makan di dekat pelabuhan. Mereka memesan ikan bakar, dan kali ini, Lev tidak mencoba-coba sambal terasi yang mematikan.
Saat mereka sedang makan, Lev melihat Faruq melamun. "Faruq, kamu kenapa?"
Faruq tersentak. "Tidak apa-apa, Lev. Aku hanya... merenung."
"Merengungkan apa?" tanya Lev.
"Aku merenungkan, bagaimana perjalanan ini bisa mengubah kita. Aku merenungkan, bagaimana persahabatan kita bisa semakin kuat," jawab Faruq.
Lev tersenyum. "Aku juga, Faruq. Aku bersyukur bisa punya sahabat seperti kamu."
Faruq tersenyum. "Aku juga, Lev. Aku bersyukur bisa punya sahabat seperti kamu."
Mereka berdua tertawa. Mereka merasa bahagia, mereka merasa beruntung.
Keesokan harinya, mereka kembali ke Banjarmasin. Di dalam mobil travel, Lev duduk di dekat jendela, melihat pemandangan yang lewat. Ia merasa sedih, tapi ia merasa bahagia. Ia merasa sedih karena perjalanan ini sudah berakhir, tapi ia merasa bahagia karena ia telah mendapatkan banyak pelajaran dan kenangan yang berharga.
Tiba di Banjarmasin, Lev langsung menuju rumah. Ia melihat rumahnya, ia melihat sungai Martapura, ia melihat warung Acil Ipah. Ia merasa, ia sudah kembali ke rumah yang berbeda.
Di kamar, Lev memajang bingkai foto kayu di meja. Ia menatap foto itu, ia tersenyum. Ia tahu, perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
