Bab 19: Mengenal Islam di Komunitas Sydney

Bab 19: Mengenal Islam di Komunitas Sydney

Lev
0

Pertengkaran kecil di perpustakaan menjadi titik balik bagi Lev dan Jessica. Setelah saling memaafkan, ikatan persahabatan mereka terasa semakin kuat. Jessica, yang sudah melihat sisi toleransi Islam di Perth, ingin tahu lebih banyak. Ia merasa belum cukup hanya mendengar cerita dari Lev.

"Lev, apa kamu bisa mengajakku ke komunitas Muslim di Sydney?" tanya Jessica suatu malam, saat mereka sedang bersantai di balkon apartemen. "Aku ingin melihat bagaimana mereka hidup, berinteraksi, dan beribadah. Seperti yang kamu ceritakan di Perth dulu."

Lev tersenyum. "Tentu, Jess. Di Sydney, komunitas Muslim juga sangat beragam. Banyak dari mereka berasal dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Aku yakin kamu akan suka."

Keesokan harinya, Lev dan Jessica pergi ke sebuah masjid besar yang terletak di pinggir kota. Masjid itu sangat ramai, terutama saat waktu shalat zuhur. Anak-anak berlarian di halaman, para ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan, dan para bapak-bapak berbincang-bincang dengan hangat. Suasana yang akrab dan kekeluargaan langsung terasa.

Lev memperkenalkan Jessica kepada beberapa teman Indonesianya yang sudah lama tinggal di Sydney. Mereka semua menyambut Jessica dengan ramah, menanyakan asal-usulnya dan pengalamannya di Australia. Jessica, yang sudah terbiasa dengan keramahtamahan komunitas Muslim, merasa nyaman dan terbuka.

"Kami sering mengadakan acara makan-makan di sini, terutama saat hari libur," kata seorang ibu asal Aceh. "Kami masak makanan khas dari daerah masing-masing, dan kami berbagi dengan siapa pun yang datang. Tidak peduli agamanya apa."

Jessica terkesan dengan toleransi yang ditunjukkan oleh ibu itu. Ia merasa bahwa di komunitas ini, perbedaan bukan menjadi masalah, melainkan menjadi kekayaan. Ia melihat bagaimana seorang ibu dari Lebanon tertawa lepas dengan seorang ibu dari Malaysia, meskipun mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Setelah shalat zuhur, Lev dan Jessica bergabung dengan rombongan yang sedang makan siang. Mereka disuguhi berbagai macam makanan, mulai dari rendang, sate, hingga kebab. Jessica mencicipi semua makanan itu dengan antusias, dan setiap kali ia memuji masakannya, para koki amatir itu tersenyum bangga.

Di sela-sela makan siang, Jessica bertanya kepada seorang remaja Muslim yang seumuran dengannya, "Apakah kamu tidak merasa sulit bergaul dengan teman-teman yang berbeda agama?"

Remaja itu, yang bernama Aisha, tersenyum. "Awalnya, ya. Tapi aku belajar bahwa persahabatan itu bukan tentang agama, Jess. Itu tentang saling menghormati dan memahami. Teman-temanku tidak pernah memaksaku untuk minum alkohol atau makan babi, dan aku tidak pernah memaksakan keyakinanku pada mereka. Kami saling menerima apa adanya."

Jessica mengangguk, mencerna kata-kata Aisha. Ia menyadari bahwa di komunitas ini, toleransi bukan hanya sekadar kata-kata, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mereka hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan saling membantu.

Sebelum pulang, Jessica sempat berbincang dengan seorang imam masjid, seorang pria paruh baya yang bijaksana. "Islam mengajarkan kami untuk menyebarkan kedamaian, Nak," kata imam itu. "Kedamaian dimulai dari diri sendiri, lalu menyebar ke keluarga, ke komunitas, dan ke seluruh dunia."

Jessica merasa ada sesuatu yang istimewa di komunitas ini. Mereka memiliki ikatan yang kuat, tapi juga sangat terbuka pada orang luar. Hal ini membuat Jessica semakin menghargai toleransi dalam beragama.

Dalam perjalanan pulang, Jessica terdiam. "Lev, aku merasa ada sesuatu yang istimewa di komunitas itu," katanya. "Mereka memiliki ikatan yang kuat, tapi juga sangat terbuka pada orang luar. Itu membuatku berpikir, bahwa yang selama ini aku tahu tentang Islam ternyata tidak sepenuhnya benar."

Lev tersenyum. "Stereotip memang seringkali menyesatkan, Jess. Tapi aku senang kamu bisa melihatnya sendiri. Kamu bisa melihat Islam dari sisi yang berbeda."

Kunjungan ke komunitas Muslim di Sydney tidak hanya memperkaya pengetahuan Jessica tentang Islam, tetapi juga mempererat tali persahabatan antara mereka. Jessica, yang selama ini hanya mengenal Islam dari media, kini melihat Islam dari sisi yang lebih manusiawi, damai, dan penuh toleransi. Hal ini semakin membuat Jessica kagum pada Lev, dan semakin penasaran dengan petualangan yang menanti mereka di kota-kota Australia berikutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default