Chicago adalah kota yang tidak pernah tidur, kota yang ramai dan sibuk. Di tengah hiruk pikuknya, Lev dan Sindy menghadapi tantangan yang tidak terduga: pandangan stereotip tentang agama. Meskipun mereka bertemu banyak orang baik dan toleran, ada juga beberapa yang menunjukkan sikap kurang menyenangkan.
Suatu siang, saat mereka sedang makan siang di sebuah taman kota, mereka mendengar dua orang wanita paruh baya berbicara dengan nada sinis. Salah satu dari mereka menunjuk ke arah Lev, yang mengenakan baju koko dan kopiah.
"Lihat, Bu. Orang-orang seperti itu harusnya jangan di sini," kata salah satu wanita itu.
Lev, yang kebetulan mendengar percakapan itu, merasa sedih. Ia tidak marah, tetapi sedih.
Sindy, yang menyadari ekspresi Lev, langsung menyela. "Lev, jangan didengarkan. Mereka tidak tahu apa-apa," katanya.
"Aku tahu, Sindy. Tapi aku sedih. Kenapa mereka harus berpikir begitu?" tanya Lev.
"Karena mereka tidak tahu, Lev. Mereka tidak pernah berinteraksi langsung dengan orang-orang yang berbeda dari mereka," jelas Sindy.
Lev mengangguk. Ia tahu, Sindy benar. Ia tidak bisa menyalahkan mereka. Ia hanya bisa mencoba untuk mengubah pandangan mereka, sedikit demi sedikit, dengan cara yang baik.
Setelah makan siang, mereka kembali berjalan. Mereka melihat sebuah acara seni di tengah taman. Banyak seniman yang memamerkan karya mereka. Ada yang melukis, ada yang memahat, ada yang membuat instalasi seni.
Lev, yang tertarik dengan seni, melihat sebuah lukisan abstrak yang indah. Ia menatap lukisan itu dengan penuh perhatian. Lukisan itu penuh dengan warna-warna cerah, tetapi juga ada warna-warna gelap yang memberikan kesan misterius.
"Kamu suka?" tanya seorang pria muda yang berdiri di sampingnya.
"Iya. Ini indah," jawab Lev.
"Itu lukisan saya," kata pria itu. "Saya terinspirasi dari keberagaman. Ada warna terang, ada warna gelap. Tapi semuanya bisa bersatu dalam sebuah keindahan."
Lev tersenyum. "Nama Anda siapa?"
"Saya Michael," kata pria itu. "Nama Anda?"
"Saya Lev. Dari Indonesia," jawab Lev.
Michael dan Lev berbincang cukup lama. Mereka berbicara tentang seni, tentang keberagaman, dan tentang kehidupan. Michael, terkesan dengan pandangan Lev tentang toleransi.
"Saya jadi berpikir. Kita ini sama-sama manusia. Kita sama-sama mencari makna dalam hidup. Hanya jalannya yang berbeda," kata Michael.
"Betul. Dan kita harus saling menghormati jalan masing-masing," kata Lev.
Saat mereka sedang berbincang, Sindy datang. Ia memperkenalkan dirinya kepada Michael. Michael, yang juga seorang seniman, langsung akrab dengan Sindy. Mereka bertiga lalu berjalan-jalan di acara seni itu, melihat karya-karya lain.
Di acara seni itu, mereka bertemu dengan banyak orang yang memiliki pandangan berbeda. Tapi mereka semua berkumpul di satu tempat, merayakan keindahan seni.
Malam itu, di rumah Mrs. Rodriguez, Lev dan Sindy berdiskusi.
"Sindy, aku jadi berpikir. Kota ini tidak seburuk yang aku bayangkan," kata Lev.
"Iya, kan? Di sini, ada banyak orang yang baik. Tapi memang, ada juga yang tidak. Tapi yang penting, kita harus tetap menebar kebaikan," kata Sindy.
Lev mengangguk. Ia tahu, Sindy benar. Di Chicago, ia belajar bahwa toleransi itu tidak datang begitu saja. Toleransi itu harus dibangun. Dengan kesabaran, dengan pengertian, dan dengan kasih sayang. Dan ia tahu, ia akan terus menebar rahmat, di mana pun ia berada.
