Bab 20: Camping di Blue Mountains

Bab 20: Camping di Blue Mountains

Lev
0

Setelah Sydney, Lev dan Jessica merindukan petualangan yang lebih dekat dengan alam. Mereka sepakat untuk pergi camping di Blue Mountains, sebuah kawasan pegunungan yang terkenal dengan pemandangan lembah, air terjun, dan hutan eukaliptusnya.

"Ini akan menjadi pengalaman yang berbeda, Lev," kata Jessica bersemangat. "Tidak ada lagi kota yang ramai, hanya kita dan alam. Kamu siap?"

"Aku siap, Jess!" jawab Lev. "Aku suka alam. Di Banjarmasin, kami sering pergi ke hutan atau ke gunung untuk mencari ketenangan."

Mereka menyewa sebuah mobil van yang sudah dimodifikasi untuk camping. Di dalamnya, sudah tersedia kasur, kompor gas, dan perlengkapan memasak sederhana. Perjalanan dari Sydney ke Blue Mountains memakan waktu sekitar dua jam. Di sepanjang jalan, mereka disuguhi pemandangan pegunungan yang hijau dan indah.

Sesampainya di tempat perkemahan, mereka memilih lokasi yang paling strategis. Ada sungai kecil di dekatnya, dan ada area yang cukup luas untuk mendirikan tenda, meskipun mereka memutuskan untuk tidur di dalam van.

"Ayo kita cari kayu bakar untuk membuat api unggun nanti malam," usul Lev.

Mereka berdua berjalan ke hutan, mengumpulkan ranting-ranting pohon yang kering. Jessica, yang tidak terbiasa dengan hutan, beberapa kali tersandung dan terjatuh. Lev selalu membantunya, sambil sesekali tertawa melihat tingkah konyol Jessica.

Saat api unggun sudah menyala, Lev mengeluarkan bekal makan malam yang sudah ia masak: ayam bakar bumbu rujak. Jessica, yang sudah tidak sabar mencicipi masakan Lev, langsung menyerbu.

"Ini enak sekali, Lev! Bumbu rujaknya terasa pedas dan manis," puji Jessica. "Kamu benar-benar koki andal!"

Setelah makan malam, mereka duduk di dekat api unggun, saling berbagi cerita dan tawa. Lev bercerita tentang masa kecilnya di Banjarmasin, tentang bagaimana ia dan teman-temannya sering bermain di sungai. Jessica bercerita tentang masa kecilnya di Perth, tentang bagaimana ia suka sekali surfing.

Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari semak-semak. Lev, yang terbiasa dengan suara-suara aneh di hutan, tidak kaget. Namun, Jessica, yang terbiasa dengan suara-suara kota, langsung memeluk Lev.

"Lev! Itu suara apa?" bisiknya ketakutan.

Lev tertawa. "Tidak apa-apa, Jess. Itu hanya binatang. Mungkin koala atau kanguru," jawabnya menenangkan.

"Koala? Kanguru?" Jessica melepaskan pelukannya, tapi masih terlihat takut. "Tapi mereka kan tidak mengeluarkan suara begitu?"

"Entahlah. Mungkin mereka sedang bertengkar," canda Lev.
Jessica akhirnya tertawa. Ia merasa aman di dekat Lev. Ia tahu, Lev akan selalu menjaganya.

Malam itu, mereka tidur di dalam van, dengan api unggun yang masih menyala di luar. Suhu di Blue Mountains sangat dingin, tapi mereka merasa hangat di dalam. Lev, sebelum tidur, mengambil sajadahnya dan shalat isya. Jessica, yang melihatnya, tidak lagi bertanya-tanya. Ia tahu, itulah cara Lev berkomunikasi dengan Tuhannya.

Pagi harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali untuk melihat matahari terbit. Pemandangan dari atas gunung sangat memukau. Kabut tipis menyelimuti lembah, dan matahari perlahan-lahan muncul dari balik gunung. Warna-warna jingga dan merah muda memenuhi langit.

"Ini pemandangan yang paling indah yang pernah aku lihat," kata Jessica dengan suara serak, matanya berkaca-kaca.

"Alhamdulillah," kata Lev. "Aku juga, Jess."

Mereka berdua duduk di atas bebatuan, menikmati keindahan alam. Lev merasa bersyukur bisa berbagi momen ini dengan Jessica. Ia menyadari bahwa petualangan mereka bukan hanya tentang melihat tempat-tempat indah, tapi juga tentang menemukan keindahan di dalam diri mereka. Dan di Blue Mountains, mereka menemukan bahwa di balik dinginnya malam, ada kehangatan persahabatan yang tak tergantikan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default