Bab 8: Jurus Jitu Rina Meredam Amarah (Konseling Ala Guru Bahasa Inggris)

Bab 8: Jurus Jitu Rina Meredam Amarah (Konseling Ala Guru Bahasa Inggris)

Lev
0

Malam di Tanjung Murung Pudak terasa dingin, angin dari arah pegunungan Meratus berhembus sedikit lebih kencang dari biasanya. Suasana hati Muhammad Hifni juga sama dinginnya, bahkan cenderung panas membara.

Hifni baru saja pulang dari kantornya di mana ia mendapati laporannya soal proyek desa kemarin, yang sudah ia revisi bersama Pak Udin, malah dikritik habis-habisan oleh Kepala Bagian (Kabag) yang terkenal killer. Bukan soal substansi, tapi soal format penulisan yang dianggap tidak sesuai standar baku kantor.

"Astaghfirullah! Format doang dipermasalahin, padahal substansinya udah bener!" gerutu Hifni sambil melempar tas kerjanya ke sofa ruang tamu. Wajahnya ditekuk seribu, urat lehernya menegang.

Rina yang sedang menyiapkan makan malam di dapur langsung menoleh. Ia tahu persis tanda-tanda itu. Suaminya sedang bad mood tingkat dewa.

"Assalamualaikum, Mas. Marah-marah mulu, nanti cepat tua lho," sapa Rina lembut, mencoba mencairkan suasana.

Hifni menjawab salam Rina dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar. Ia duduk di sofa dengan napas memburu.

"Kenapa lagi, Mas? Kena tegur Pak Kabag?" tanya Rina, kini berdiri di depan Hifni, tangannya bersedekap.

Hifni mendongak, matanya merah padam. "Bukan ditegur lagi, Rina. Dihabisi! Cuma gara-gara format laporan. Dibilang nggak profesional, nggak becus kerja, padahal laporan itu udah saya kerjain sampai subuh!" Hifni meluapkan kekesalannya.

Rina tahu, saat Hifni marah, tidak bisa langsung dilawan dengan nasihat atau argumen. Suaminya butuh didengarkan dulu. Rina duduk di sebelah Hifni, membiarkan suaminya terus bercerita, mengeluh, dan memaki-maki birokrasi yang terasa tidak adil.

Setelah Hifni mengeluarkan semua unek-uneknya selama kurang lebih 15 menit, suasana mulai sedikit tenang. Hifni terdiam, napasnya sudah mulai teratur. Rina menunggu momen yang tepat untuk melancarkan jurus jitunya.

"Sudah enakan, Mas, habis curhat?" tanya Rina sambil tersenyum.

Hifni mengangguk pelan, merasa sedikit lega.

"Oke, sekarang giliran Bu Guru Rina yang bicara. Tapi kita pakai metode speaking test ya, biar seru," kata Rina, kini ekspresinya berubah serius tapi tetap ada kesan bercanda.
Hifni bingung. "Maksudnya?"

"Gini, aku akan kasih kamu keyword dalam bahasa Inggris, nanti kamu artikan dan renungkan maknanya," jelas Rina. "Siap?"

Hifni pasrah. "Terserah kamu deh, Bu Guru."
"Oke, keyword pertama: Patience."

Hifni berpikir sebentar. "Patience artinya kesabaran."

"Betul! Sabar itu kuncinya, Mas. Nabi Muhammad SAW aja selalu sabar menghadapi umatnya yang keras kepala. Kamu baru menghadapi Pak Kabag satu orang aja udah kayak cacing kepanasan," nasihat Rina, mencoba memberikan perspektif Islami.

Hifni terdiam, mencerna nasihat Rina.

"Keyword kedua: Integrity."

"Integritas," jawab Hifni cepat.

"Ya, integritas. Kamu ngerjain laporan itu jujur, datanya valid, substansinya benar kan? Itu integritasmu. Biarlah formatnya salah, yang penting substansinya benar. Jangan sampai karena kritik format, kamu jadi ragu sama integritasmu," Rina memberikan semangat.

Wajah Hifni mulai sedikit cerah.

"Keyword ketiga, dan yang paling penting: Ikhlas."

"Ikhlas," Hifni mengulangi kata itu perlahan.

"Betul, Ikhlas. Kita kerja sebagai PNS kan niatnya ibadah, melayani masyarakat Tabalong. Kalau kita ikhlas, mau diapain aja laporan kita, mau dikritik pedas kayak apa, kita nggak akan sakit hati. Karena niat kita bukan cari pujian manusia, tapi ridho Allah," kata Rina dengan suara lembut, penuh penjiwaan.

Nasihat ala guru Bahasa Inggris yang dibumbui nilai-nilai Islami itu sukses menembus pertahanan amarah Hifni. Hifni merasa malu. Ia terlalu memikirkan egonya, melupakan esensi dari pekerjaannya sebagai abdi negara yang seharusnya ikhlas.

"Makasih, Rina," kata Hifni, kini suaranya sudah kembali normal. "Jurus speaking test kamu manjur banget."

Rina tersenyum puas. "Sama-sama, Mas. Lain kali kalau marah lagi, aku kasih speaking test yang lebih susah."

Mereka beranjak ke meja makan. Khalisa sudah menunggu dengan wajah polosnya. Suasana makan malam menjadi hangat kembali, penuh canda tawa, jauh dari amarah dan kekesalan kantor.

Hifni sadar, Rina adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Istrinya itu bukan hanya sekadar pendamping hidup, tapi juga guru, konsultan spiritual, dan pemadam kebakaran emosinya.
 Di Tanjung Murung Pudak ini, di tengah kesibukan mereka sebagai PNS, mereka saling menguatkan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan merajut kisah sakinah di bawah bimbingan agama. Masalah kantor memang akan selalu ada, tapi dengan 'jurus jitu' Rina, Hifni yakin bisa menghadapi semuanya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default