Perjalanan di atas rel kereta api Trans-Siberia terasa begitu lama. Hari-hari berlalu dalam ritme yang monoton, diisi dengan suara roda yang bergemuruh, pemandangan salju yang terus-menerus, dan interaksi singkat dengan sesama penumpang. Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu berhasil memecah monotoni Lev: pesan-pesan dari Sofia.
Di layar ponselnya, pesan dari Sofia selalu muncul dengan cara yang ceria. Pesan-pesan itu membuat Lev tertawa, tersenyum, dan merasa terhubung dengan dunia di luar kereta.
“Pahlawan Batik! Di Perm sudah mulai mencair saljunya. Aku tadi pergi ke kafe tempat kita pertama kali bertemu. Kamu tahu? Si kasir yang cuek itu sekarang tersenyum saat melihatku. Mungkin dia masih ingat pahlawan yang salah pesan makanan. Hahaha.”
Lev membalas pesan itu dengan tawa. Ia merasa senang mengetahui Sofia baik-baik saja.
“Ada tugas baru tentang legenda kuno Rusia. Aku jadi teringat kostum batiknya. Hahaha. Tapi tenang saja, kali ini aku tidak akan salah kostum. Aku akan jadi Snegurochka, putri salju. Kamu mau jadi apa? Pahlawan batik lagi?”
Lev membalas, “Pahlawan batikku sudah pensiun. Tunggu saja. Di Kamchatka nanti akan ada pahlawan baru.”
“Tunggu! Aku menemukan hal aneh! Ada sebuah situs web yang menjual bumbu dapur. Aku menemukan cabai dari Indonesia. Aku beli! Aku akan coba masak nasi gorengmu!”
Lev tersenyum. Ia membayangkan Sofia yang ceroboh sedang memasak nasi goreng di apartemennya di Perm. Pasti seru.
Suatu malam, saat Lev sedang membaca buku di ranjangnya, ponselnya berdering. Itu panggilan video dari Sofia. Lev segera mengangkatnya.
Wajah Sofia muncul di layar, dengan senyum yang lebar. "Halo, Pahlawan Batik!"
"Halo, Putri Salju!" balas Lev.
Sofia menunjukkan sekelilingnya. "Lihat! Apartemenku. Aku sedang mencoba memasak nasi goreng. Tapi... aku tidak yakin dengan rasanya. Kamu mau coba?"
"Tentu! Tapi kan kita jauh," kata Lev sambil tertawa.
"Iya juga," balas Sofia, lalu ia mengambil sesendok nasi goreng dan mendekatkannya ke layar. "Anggap saja ini virtual nasi goreng."
Lev pura-pura mencicipi, lalu mengangguk-angguk. "Enak! Tapi... sepertinya kamu terlalu banyak memasukkan bawang bombay."
"Ah! Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Sofia, terkejut.
"Itu... feeling seorang pahlawan batik," canda Lev. "Tapi tidak apa-apa. Tetap enak."
Mereka berdua tertawa. Obrolan mereka berlangsung hingga larut malam. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan, tentang perbedaan waktu yang kadang membingungkan, tentang kehidupan masing-masing. Lev merasa sangat bersyukur. Di tengah perjalanannya yang panjang dan sunyi, ada Sofia yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
Sebelum menutup telepon, Sofia berkata, "Lev... aku harap kamu baik-baik saja. Aku harap kamu menemukan kebahagiaan di setiap kota yang kamu kunjungi. Dan... jangan lupakan aku."
"Tidak akan, Sofia. Kamu adalah salah satu bagian terbaik dari perjalananku," balas Lev, tulus.
Setelah menutup telepon, Lev merasa tenang. Ia menatap ke luar jendela. Pemandangan salju yang putih membentang luas. Ia merasa jauh dari rumah, tapi ia juga merasa dekat dengan orang-orang yang ia cintai. Persahabatan mereka, yang terjalin begitu tulus, adalah kekuatan yang membawanya terus maju.
Lev menulis di jurnalnya malam itu.
“Kereta Trans-Siberia. Pesan dari Sofia selalu bisa membuatku tersenyum. Panggilan videonya membuatku merasa dekat. Dia adalah sahabat yang luar biasa. Dan aku bersyukur kepada Allah, karena telah mempertemukanku dengannya. Perjalanan ini memang jauh, tapi dengan dukungan seperti ini, semua terasa dekat.”
Lev memejamkan mata. Ia bermimpi tentang Perm, tentang salju pertama, dan tentang nasi goreng yang dimasak oleh Sofia. Ia tersenyum dalam tidurnya. Perjalanan ini masih panjang, tapi ia tidak lagi merasa sendiri. Ia punya Sofia, dan ia punya Allah.
