BAB 8: Wasiat di Ambang Kesunyian

BAB 8: Wasiat di Ambang Kesunyian

Lev
0
Simak kisah pilu Lev Ryley melepaskan Vania Larasati di Banjarbaru. Sebuah novel Islami tentang kanker dan keikhlasan. 


Banjarbaru, 20 Agustus 2026

Angin Agustus di Banjarbaru tahun 2026 ini membawa aroma kering dari hutan-hutan di pinggiran kota. Lev Ryley duduk di kursi kayu di depan rumahnya, memandangi sebuah surat yang tintanya sudah sedikit memudar. Surat itu ditulis dengan tangan yang gemetar oleh Vania sebelas tahun yang lalu, tepat sebelum jemarinya tak lagi sanggup memegang pena.

"Agustus selalu menjadi bulan yang paling berat, Van," bisik Lev. Matanya menatap ke arah Jalan Ahmad Yani yang sibuk. "Di sinilah kamu memintaku untuk berhenti memintamu bertahan. Di sinilah kamu mengajariku bahwa mencintai yang paling tulus adalah dengan merelakanmu pulang." Di tahun 2026, Lev baru benar-benar memahami bahwa wasiat Vania saat itu bukan tentang kekalahan, melainkan tentang kemenangan iman atas rasa sakit.

Banjarbaru, Agustus 2015

Suasana di ruang perawatan RSUD Idaman terasa sangat berat. Suara detak monitor jantung menjadi satu-satunya penghuni kesunyian di antara Lev dan Vania. Vania kini sudah tidak bisa lagi melihat dunia luar, namun pendengarannya masih berfungsi tajam—sebuah anugerah kecil di tengah badai metastasis yang menyerang sarafnya.

Sore itu, setelah Lev membacakan Surah Yasin dengan suara yang sesenggukan, Vania tiba-tiba menggerakkan jarinya, mengisyaratkan Lev untuk mendekat. Lev segera meletakkan mushafnya dan mendekatkan telinganya ke bibir Vania yang kini kian memucat.

"Lev..." suaranya hampir menyerupai bisikan angin. "Jangan... jangan pernah meminta Allah untuk membiarkanku hidup lebih lama jika itu hanya untuk memuaskan rasa tidak siapmu kehilangan aku."

Lev tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Vania, apa maksudmu? Kita masih berikhtiar. Aku masih punya harapan..."

"Harapanmu... harusnya adalah melihatku tidak sakit lagi, Lev," Vania memutus kalimatnya untuk mengambil napas yang terasa sangat berat. "Tubuhku ini... sudah lelah. Ia ingin istirahat. Jiwaku ingin pulang ke tempat di mana tidak ada lagi jarum suntik, tidak ada lagi rasa mual, dan tidak ada lagi gelap."

Lev menunduk, membiarkan air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit. Ia ingin membantah, tapi ia melihat betapa rapuhnya tubuh di hadapannya itu. Gadis 20 tahun yang dulu begitu lincah, kini hanya tersisa kulit yang membungkus tulang.

"Aku punya wasiat untukmu," lanjut Vania. Suaranya mendadak terdengar lebih mantap, seolah ia sedang mengumpulkan sisa energi terakhirnya. "Pertama, jangan pernah tinggalkan shalat tahajud. Di sepertiga malam, aku akan menunggumu di sana, dalam doa-doa yang menembus langit. Kedua, lanjutkan kuliahmu. Jadilah orang hebat yang bermanfaat bagi umat di Banjarbaru ini."

Vania berhenti sejenak, ia tampak menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. "Dan yang terakhir... izinkan aku pergi dengan ikhlas. Jangan ikat aku dengan air matamu yang penuh protes. Katakan padaku sekarang, Lev... katakan bahwa kamu rida aku pulang kepada Allah."

Permintaan itu terasa seperti pedang yang menghujam dada Lev. Bagaimana mungkin ia bisa merelakan wanita yang menjadi alasan sujud-sujud panjangnya selama setahun terakhir ini? Namun, ia melihat ketulusan di wajah Vania yang buta. Ia menyadari bahwa selama ini ia egois karena memaksakan Vania bertahan di tengah penderitaan yang melampaui batas manusia.

Sambil menggenggam tangan Vania, Lev mendekat ke telinganya. Dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan, ia berbisik, "Vania Larasati... demi Allah yang menggenggam jiwaku dan jiwamu. Hari ini, di saksikan oleh malaikat-malaikat di ruangan ini, aku menyatakan aku rida. Jika Allah ingin menjemputmu, pergilah dengan tenang. Aku ikhlas. Aku melepaskanmu."

Setelah kalimat itu terucap, wajah Vania mendadak berubah menjadi sangat tenang. Sebuah senyum tipis—senyum yang paling indah yang pernah Lev lihat selama setahun ini—terukir di bibirnya. Ia tampak seolah baru saja lepas dari beban yang sangat berat.

"Syukran, Lev... terima kasih telah mencintaiku sampai ke gerbang ini," bisik Vania terakhir kalinya.

Malam itu, setelah dialog tersebut, kesadaran Vania mulai menurun drastis. Ia tertidur sangat dalam, sebuah tidur yang menurut dokter adalah awal dari fase koma. Lev duduk di sampingnya, memandangi wajah tenang itu di bawah lampu bangsal yang temaram. Ia tahu, bab perpisahan fisik akan segera tiba, namun di hatinya, ia merasa bangga karena ia baru saja memberikan hadiah terbesar bagi Vania: yaitu pintu keikhlasan untuk menuju Sang Khaliq.

Agustus 2015 menjadi saksi bagaimana seorang pemuda berusia 20 tahun belajar membedakan antara cinta karena nafsu memiliki, dan cinta karena Allah yang sanggup melepaskan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default