Bab 20: Jembatan Mahkota II dan Lensa yang Hilang di Tengah Keramaian

Bab 20: Jembatan Mahkota II dan Lensa yang Hilang di Tengah Keramaian

Lev
0

Pagi di Samarinda terasa cerah dan ramai. Sungai Mahakam yang perkasa mengalirkan denyut kehidupan kota. Lev dan Faruq langsung menuju salah satu landmark kebanggaan kota, Jembatan Mahkota II. Jembatan yang megah dan berwarna-warni itu membelah sungai, menghubungkan dua sisi kota.

"Faruq, jembatannya keren sekali!" seru Lev, matanya berbinar-binar. "Warnanya cerah, cocok untuk difoto saat pagi seperti ini."

Faruq tersenyum melihat antusiasme Lev. "Tentu saja. Jembatan ini memang favorit banyak orang, apalagi saat senja."

Mereka memarkir mobil di area yang strategis, dan Lev segera mengeluarkan kameranya. Ia mencari sudut-sudut terbaik untuk mengabadikan keindahan jembatan. Ia memotret dari berbagai sisi, mengambil foto dari jauh maupun dari dekat.

"Faruq, aku mau foto dari dekat, ya," kata Lev, sambil berjalan mendekat ke pagar jembatan.

"Hati-hati, Lev. Di sini ramai," Faruq mengingatkan.

Lev mengangguk, namun matanya sudah terfokus pada sebuah detail ornamen jembatan yang menarik. Saat ia sedang membidik, ia tidak sengaja menjatuhkan sesuatu.
Pluk!

Lev panik. Ia melihat ke bawah, dan menyadari bahwa ia menjatuhkan penutup lensa kameranya. Benda kecil berwarna hitam itu terjatuh ke celah di antara trotoar dan pagar pembatas.

"Aduh, Faruq! Penutup lensaku jatuh!" Lev berteriak.

Faruq segera menghampiri Lev. "Jatuh di mana?"

"Di celah itu, Faruq! Celah kecil itu!" Lev menunjuk dengan panik.

Faruq melihat ke celah itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak mungkin bisa diambil, Lev. Celahnya terlalu sempit."

Lev merasa putus asa. "Tapi, Faruq! Itu penutup lensa cadanganku. Aku tidak punya lagi."

Faruq mencoba menenangkan Lev. "Tenang, Lev. Kita cari solusi lain."

Lev tidak bisa tenang. Ia merasa, ia telah membuat kekacauan lagi. Ia merasa, ia telah mengecewakan Faruq.

"Faruq... aku merasa bodoh," kata Lev, dengan nada menyesal.

"Hey, Lev. Tidak ada yang bodoh di sini. Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja," Faruq menepuk pundak Lev.

Mereka berdua mencoba mencari solusi. Faruq mencoba mencari penjual di sekitar, tapi tidak ada yang menjual penutup lensa.

"Ya sudah, Lev. Kita beli yang baru saja nanti," kata Faruq.

Lev merasa tidak enak hati. "Tapi, Faruq. Uang kita terbatas. Aku tidak mau menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting."

Tiba-tiba, seorang pedagang es kelapa muda yang melihat kejadian itu, datang menghampiri mereka.

"Kenapa, nak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pedagang itu.

Lev menceritakan insiden itu. Pedagang itu tersenyum.

"Tunggu sebentar, nak. Saya punya ide," kata pedagang itu.

Pedagang itu mengambil seutas tali, lalu mengikatkan sebuah magnet kecil di ujungnya. Ia memasukkan tali itu ke dalam celah, dan mencoba menarik penutup lensa itu.

Lev dan Faruq menahan napas. Mereka berdoa dalam hati, semoga penutup lensa itu bisa diambil.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya penutup lensa itu berhasil ditarik. Lev merasa lega, dan sangat gembira.

"Terima kasih, pak! Terima kasih banyak!" Lev berteriak.
Pedagang itu hanya tersenyum. "Sama-sama, nak. Rezeki tidak akan ke mana."

Lev memberikan sejumlah uang kepada pedagang itu, sebagai tanda terima kasih. Pedagang itu menolaknya.

"Tidak usah, nak. Rezeki itu bukan hanya tentang uang. Tapi juga tentang membantu sesama," kata pedagang itu.
Lev merasa terharu. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga lagi. Ia merasa, di setiap perjalanan, pasti ada kebaikan.

Setelah berpamitan dengan pedagang itu, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan mereka. Lev memasukkan penutup lensa itu ke dalam tasnya, ia merasa senang.

"Lev, kamu tahu? Pedagang itu mengingatkan aku pada arti berbagi," kata Faruq.

"Iya, Faruq. Aku juga. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik di sini," jawab Lev.

Mereka berdua berjalan menuju penginapan. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default