Setelah Chicago, petualangan Lev dan Sindy berlanjut ke New York, kota yang tidak pernah tidur dan menjadi impian banyak orang. Perjalanan kali ini terasa berbeda. Chicago memberikan mereka pelajaran tentang perjuangan imigran dan toleransi di tengah stereotip, dan New York menjanjikan pengalaman yang sama sekali baru: melihat bagaimana Islam tumbuh di tengah kota yang begitu padat dan penuh energi.
Mereka tiba di New York dengan kereta api. Begitu keluar dari stasiun, Lev langsung merasa takjub. Bangunan-bangunan pencakar langit menjulang tinggi, seolah-olah menyentuh langit. Ribuan orang berlalu lalang, dengan berbagai macam bahasa, warna kulit, dan gaya pakaian. New York adalah sebuah mozaik, sebuah perpaduan yang indah dari berbagai macam budaya.
"Gila! Di sini benar-benar beda banget ya, Lev?" seru Sindy, dengan mata berbinar-binar. "Kayak di film-film yang sering aku tonton."
Lev hanya tersenyum. Ia merasa kecil di tengah kota yang begitu besar. Ia teringat kembali pada pesan ayahnya, "Jadilah aktor terbaik di panggung kehidupan." Kini, ia berada di panggung yang paling besar di dunia.
Mereka menyewa 2 kamar di rumah seorang wanita tua bernama Mrs. Rosenberg. Ia adalah seorang Yahudi yang ramah dan penuh perhatian. Mrs. Rosenberg menyambut mereka dengan hangat, meskipun ia sudah tua dan sering sakit.
"Kalian dari mana?" tanya Mrs. Rosenberg, dengan logat khas New York.
"Kami dari Alaska, Nek. Kami sedang jalan-jalan keliling Amerika," jawab Sindy.
"Oh, itu jauh sekali! Kalian pasti capek," kata Mrs. Rosenberg. "Masuk, masuk. Aku sudah siapkan teh hangat untuk kalian."
Lev dan Sindy merasa nyaman di rumah Mrs. Rosenberg. Ia tidak banyak bertanya tentang agama mereka, tetapi ia selalu memastikan mereka merasa seperti di rumah. Ia bahkan memberikan Lev beberapa buku tentang sejarah New York, karena ia tahu Lev suka membaca.
Keesokan harinya, mereka mulai menjelajahi New York. Mereka mengunjungi Central Park, sebuah taman yang sangat besar di tengah kota. Di sana, mereka melihat banyak orang yang sedang bersantai, piknik, atau berolahraga.
Di Central Park, mereka bertemu dengan seorang pemuda bernama Jamal. Ia adalah seorang imigran dari Somalia yang sudah lama tinggal di New York. Jamal bekerja sebagai pemandu wisata di Central Park. Ia menyambut Lev dan Sindy dengan ramah, dan ia langsung akrab dengan Lev.
"Assalamualaikum. Dari mana, Bro?" tanya Jamal, dengan senyum ramah.
"Waalaikumsalam. Dari Indonesia," jawab Lev.
"Subhanallah. Jauh sekali. Saya dari Somalia. Sudah lama di sini," kata Jamal.
Jamal bercerita tentang kehidupannya sebagai imigran di New York. Ia bercerita tentang perjuangan yang ia hadapi, tetapi juga tentang harapan yang ia miliki. Ia mengatakan, di New York, ia bisa mewujudkan mimpinya.
"Di sini, kita bisa jadi apa saja yang kita mau. Asalkan kita kerja keras dan tidak menyerah," kata Jamal.
Lev terinspirasi. Ia melihat bahwa di balik hiruk pikuk kota, ada kisah-kisah perjuangan yang mengharukan. Ia juga melihat bahwa di New York, ada komunitas Muslim yang kuat dan saling mendukung.
Jamal mengajak mereka ke Islamic Center of New York, sebuah masjid yang terletak di dekat Central Park. Masjid itu sangat besar dan megah. Di dalamnya, Lev bertemu dengan banyak orang dari berbagai etnis dan negara. Ada yang dari Timur Tengah, ada yang dari Asia Selatan, ada juga yang kulit hitam, dan bahkan ada yang kulit putih.
"Di sini, kita semua sama. Tidak ada perbedaan. Kita semua adalah Muslim," kata Jamal, dengan nada bangga.
Lev merasa hangat. Ia tahu, di New York, ia tidak sendirian.
Setelah dari masjid, mereka kembali ke rumah Mrs. Rosenberg. Lev merasa lebih tenang. Ia tahu, di New York, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia bisa menjadi seorang Lev Ryley dari Banjarmasin, yang siap menebar rahmat di mana pun ia berada.
Di malam hari, Lev dan Sindy berdiskusi.
"Sindy, aku jadi berpikir. New York itu kayak Indonesia, ya?" tanya Lev.
Sindy terkejut. "Masa sih? Beda banget, Lev!"
"Iya, beda. Tapi New York itu punya banyak suku, banyak agama, banyak bahasa. Sama kayak Indonesia. Tapi di sini, mereka bisa bersatu. Kenapa kita tidak?" kata Lev.
Sindy mengangguk. Ia tahu, Lev benar. Di New York, ia belajar bahwa toleransi itu tidak datang begitu saja. Toleransi itu harus dibangun. Dengan kesabaran, dengan pengertian, dan dengan kasih sayang. Dan ia tahu, ia akan terus menebar rahmat, di mana pun ia berada.
