Bab 21: Jalan-Jalan di Times Square yang Berbeda

Bab 21: Jalan-Jalan di Times Square yang Berbeda

Lev
0

New York memang kota yang penuh paradoks. Di satu sisi, ia menyajikan kedamaian yang tak terduga di dalam sebuah masjid, seperti yang Lev dan Sindy temukan. Di sisi lain, ia menawarkan hiruk pikuk yang memabukkan di tempat-tempat seperti Times Square.

Lev dan Sindy memutuskan untuk menghabiskan malam di Times Square. Gemerlap lampu-lampu papan reklame, keramaian orang-orang dari seluruh dunia, dan suara klakson tak henti-hentinya membuat Lev merasa pusing. Sindy, yang terbiasa dengan keramaian, justru merasa senang. Ia berteriak-teriak, berfoto-foto, dan menari-nari di tengah kerumunan.

“Seru banget, ya, Lev! Kayak lagi di pesta!” seru Sindy, dengan semangat.

Lev hanya tersenyum. “Iya. Seru. Tapi aku pusing.”

Sindy tertawa. “Kenapa? Kamu takut sama lampu-lampu?”

“Bukan. Aku cuma tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini. Di Banjarmasin, malam hari itu tenang,” kata Lev.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka di Times Square. Mereka melihat berbagai macam seniman jalanan, mulai dari penyanyi, penari, hingga pelukis. Lev terkesan dengan kreativitas mereka. Ia melihat bagaimana mereka bisa menghasilkan uang dari bakat mereka.

Di tengah keramaian, Lev melihat seorang pria paruh baya yang terlihat sedih. Pria itu memegang sebuah kotak kardus, dan di dalamnya ada beberapa lembar foto usang. Pria itu tidak meminta uang, ia hanya duduk di sana, dengan wajah sedih.

Lev merasa iba. Ia menghampiri pria itu. “Ada masalah, Pak?” tanyanya.

Pria itu menoleh. “Tidak ada. Saya hanya merindukan masa lalu.”

Lev melihat foto-foto di dalam kotak itu. Foto-foto itu memperlihatkan seorang pria dan seorang wanita yang sedang tersenyum.

“Istri Anda?” tanya Lev.

Pria itu mengangguk. “Istri saya meninggal dua tahun lalu. Saya merasa kesepian.”

Lev merasa terharu. Ia teringat akan pesan ayahnya tentang menebar rahmat. Ia tahu, kebaikan tidak harus dengan uang. Dengan mendengarkan cerita orang lain, kita bisa membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian.

Lev duduk di samping pria itu. Ia mendengarkan cerita pria itu tentang istrinya. Pria itu bercerita tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu, bagaimana mereka menikah, dan bagaimana mereka menghabiskan hidup bersama. Lev mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sindy, yang melihat Lev sedang berbincang dengan pria itu, tidak mengganggu. Ia tahu, Lev sedang melakukan hal yang penting.

Setelah pria itu selesai bercerita, Lev mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. Itu adalah buku yang diberikan oleh Mrs. Rosenberg. Lev memberikan buku itu kepada pria itu.

“Pak, ini buku tentang sejarah New York. Mungkin Bapak bisa membacanya. Mungkin Bapak bisa mengingat kembali kenangan indah Bapak di New York,” kata Lev.

Pria itu menerima buku itu dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Nak. Kamu sangat baik.”

Lev tersenyum. “Sama-sama. Jangan sedih lagi, ya, Pak.”

Setelah dari pria itu, Lev dan Sindy kembali berjalan. Lev merasa hatinya lebih tenang. Ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar.

“Lev… kamu itu hebat, ya,” kata Sindy.

“Hebat kenapa?” tanya Lev.

“Kamu bisa membuat orang lain bahagia hanya dengan mendengarkan. Aku tidak bisa,” kata Sindy.

“Tidak. Kamu juga hebat. Kamu membuatku bahagia setiap hari,” kata Lev.

Sindy tersenyum. “Cih… gombal.”

Mereka melanjutkan perjalanan mereka di Times Square. Di tengah keramaian, di tengah gemerlap lampu-lampu, mereka merasa bahwa mereka telah menemukan makna yang lebih dalam dari sebuah perjalanan. Mereka tidak hanya melihat tempat-tempat yang indah, tetapi juga bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi. Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa kebaikan tidak mengenal batas. Kebaikan itu bisa datang dari siapa saja, dan bisa diberikan kepada siapa saja.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default