Setelah petualangan yang memukau di Times Square, Lev dan Sindy kembali ke rutinitas perjalanan mereka, menyusuri jalanan New York dengan bus kota. Mereka berdua merasa lebih dekat. Sindy menganggap Lev sebagai kakaknya, seorang yang dewasa, penuh ketenangan, dan bisa diandalkan. Sementara Lev, melihat Sindy sebagai adiknya, yang riang, penuh semangat, dan seringkali membuat hidupnya lebih berwarna.
Namun, ada satu masalah yang tak kunjung terpecahkan: mencari makanan halal. New York adalah kota multikultural, tetapi mencari makanan yang benar-benar halal di tengah-tengah hiruk pikuk kota adalah sebuah tantangan.
"Lev, kamu yakin mau makan salad lagi?" tanya Sindy suatu siang. "Perutmu pasti lapar. Butuh karbohidrat."
"Iya, Sindy. Lebih baik makan salad daripada makan makanan yang tidak halal," jawab Lev, dengan nada pasrah.
Sindy merasa iba. Ia tahu Lev sudah bosan dengan salad. Ia juga tahu Lev adalah seorang koki yang handal, tetapi karena keterbatasan bahan dan pengetahuan tentang tempat makan halal, Lev harus rela makan salad setiap hari.
"Bagaimana kalau kita cari makanan halal yang benar-benar halal?" usul Sindy.
"Bagaimana caranya? Kita tidak tahu tempatnya," kata Lev.
Sindy mengeluarkan ponselnya. "Gampang! Kita bisa pakai Google Maps. Kita cari 'halal food near me'."
Lev terkejut. "Sindy, kamu ini pintar juga, ya."
"Tentu saja! Aku kan mahasiswa teknik informasi," kata Sindy, dengan bangga.
Mereka akhirnya menemukan sebuah restoran halal di dekat tempat mereka berada. Restoran itu sederhana, tetapi ramai. Aroma rempah-rempah yang lezat langsung menyambut mereka.
Lev merasa sangat senang. Ia memesan nasi biryani, hidangan khas Timur Tengah yang ia rindukan. Sindy memesan nasi biryani juga, karena ia penasaran dengan masakan Lev.
Saat hidangan datang, Lev dan Sindy langsung melahapnya. Lev merasa seperti berada di surga. Rasanya begitu otentik, begitu lezat.
"Enak banget, Lev! Lebih enak dari nasi kuningmu," kata Sindy, sambil bercanda.
Lev tertawa. "Tidak. Nasi kuningku tetap yang paling enak."
Mereka makan dengan lahap. Perut mereka yang kosong akhirnya terisi penuh.
"Aku jadi berpikir, Lev. Kenapa kita tidak cari makanan halal dari tadi?" tanya Sindy.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Sindy. Tapi kamu memang penyelamatku," kata Lev.
Sindy tersenyum. "Sama-sama, Bro. Sekarang kamu sudah tidak lowbat lagi."
Setelah dari restoran, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka merasa lebih bersemangat, karena perut mereka sudah kenyang. Mereka berjalan di sepanjang jalanan, melihat berbagai macam orang, dan menikmati suasana kota.
Di New York, mereka belajar bahwa mencari makanan halal tidak sesulit yang mereka bayangkan. Dengan sedikit usaha dan bantuan teknologi, mereka bisa menemukan makanan yang halal dan lezat. Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa perut yang kenyang bisa membuat hati lebih senang.
Malam itu, di rumah Mrs. Rosenberg, mereka berdiskusi.
"Sindy, aku jadi berpikir. Kalau kamu bisa membuatku bahagia hanya dengan menemukan makanan halal, kenapa orang lain tidak bisa?" tanya Lev.
Sindy tersenyum. "Setiap orang punya caranya masing-masing, Lev. Yang penting, kita harus saling berbagi kebahagiaan."
Lev mengangguk. Ia tahu, Sindy benar. Di New York, ia belajar bahwa kebahagiaan itu tidak hanya datang dari hal-hal besar, tetapi juga dari hal-hal kecil. Seperti menemukan makanan halal di kota yang besar. Perjalanan mereka masih jauh, tetapi mereka tahu, mereka sudah memiliki bekal yang cukup: perut yang kenyang, hati yang senang, dan persahabatan yang kuat.
