Bab 22: Tarian Unik dan Persahabatan di Panggung Tambun

Bab 22: Tarian Unik dan Persahabatan di Panggung Tambun

Lev
0

Keesokan harinya, Lev dan Faruq melanjutkan eksplorasi mereka di sekitar Kutai Kartanegara. Setelah mendokumentasikan kehidupan para pekerja tambang, mereka mengunjungi sebuah desa adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur. Desa itu terlihat begitu damai, jauh dari hiruk-pikuk pertambangan.

"Faruq, di sini rasanya berbeda sekali dengan yang tadi," kata Lev, sambil menghirup udara segar.

"Tentu saja, Lev. Di sini, kita bisa melihat keindahan alam dan budaya yang masih alami," jawab Faruq.

Mereka tiba di sebuah lapangan, di mana sebuah acara adat sedang berlangsung. Musik tradisional dimainkan, dan beberapa orang berpakaian adat sedang menari. Gerakan mereka begitu lincah dan enerjik, Lev merasa terinspirasi.

"Wah, Faruq! Tarian mereka keren sekali!" seru Lev.

"Itu adalah tarian khas Dayak, Lev. Mereka menari untuk bersyukur kepada Tuhan dan untuk menghormati leluhur mereka," jelas Faruq.

Lev mengeluarkan kameranya, ia mulai memotret. Ia memotret para penari, ia memotret alat musik tradisional, ia memotret penonton yang antusias. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus.

Saat ia sedang asyik memotret, seorang penari datang menghampirinya. Pria itu terlihat tampan, dengan pakaian adat Dayak yang membalut tubuhnya.

"Assalamualaikum, mas," sapa penari itu.

"Waalaikumsalam, mas," jawab Lev.

"Mas, foto apa?" tanya penari itu.

"Saya sedang mendokumentasikan kehidupan di sini, mas. Boleh saya foto mas?" tanya Lev.

Penari itu tersenyum. "Silakan, mas. Tapi jangan foto wajah saya, ya. Nanti saya malu."

Lev tertawa. "Tidak, mas. Saya akan foto gerakan mas saja."
Penari itu mengangguk. Lev memotret gerakan pria itu, ia melihat, di balik gerakan yang lincah itu, terdapat makna yang mendalam.

Setelah selesai memotret, Lev berterima kasih kepada penari itu. Mereka berdua terlibat dalam perbincangan ringan. Pria itu bercerita tentang tarian, tentang desanya, dan tentang Islam.

"Mas, tarian ini bukan hanya tentang gerakan. Tapi juga tentang perasaan. Kami menari untuk mengekspresikan rasa syukur kami kepada Tuhan," kata penari itu.

Lev mengangguk. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga. Ia merasa, di balik setiap budaya, pasti ada keimanan.

Setelah berpamitan dengan penari itu, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan mereka. Mereka melihat ke belakang, mereka melihat desa itu, mereka melihat para penari. Mereka merasa, mereka telah mendapatkan kenangan yang berharga.
Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default