"Pemberhentian berikutnya, Novosibirsk. Istirahat 20 menit. Jangan jauh-jauh."
Suara pengumuman di gerbong kereta memecah keheningan. Lev Ryley segera memakai jaketnya. Ia merasa pegal setelah berjam-jam duduk di kereta, dan ia butuh meregangkan kakinya. Ia membawa ransel kecilnya, yang berisi barang-barang penting seperti paspor, uang, dan ponsel. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan koper yang hilang.
Di peron stasiun Novosibirsk, orang-orang hilir mudik. Ada yang menjual makanan lokal, ada yang hanya berjalan-jalan. Lev membeli beberapa kue kering dari seorang wanita tua berambut perak yang ramah. Ia menikmati kue kering itu sambil berjalan di sepanjang peron, mengamati suasana stasiun yang ramai.
Saat ia sedang asyik mengamati, sebuah pemandangan menarik perhatiannya. Seorang anak kecil yang sedang bermain bola salju dengan temannya. Lev tertawa kecil. Ia teringat saat ia bermain salju dengan Sofia di Perm. Ia mengambil ponselnya, memotret anak kecil itu, dan berniat untuk mengirimkannya ke Sofia nanti.
Tiba-tiba, ia merasa ada yang kosong di punggungnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia meraba punggungnya. Ranselnya! Ranselnya tidak ada!
Lev panik. Ia mencari-cari di sekelilingnya, tapi tidak ada. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melihat ranselnya. Saat ia membeli kue kering? Saat ia berjalan di sepanjang peron? Ia tidak yakin.
Panik melanda Lev. Semua barang pentingnya ada di ransel itu. Paspor, uang, ponsel. Ia tidak bisa melanjutkan perjalanan tanpa barang-barang itu.
"Ya Allah... jangan begini..." gumam Lev, mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mencari.
Ia kembali ke tempat ia membeli kue kering. Wanita penjual kue itu hanya menggeleng, tidak melihat ranselnya. Lev mencari di sepanjang peron, tapi tidak ada. Ia mulai merasa putus asa.
Tiba-tiba, ia mendengar suara. "Muzhchina! Pria! Ini punyamu?"
Lev menoleh. Seorang nenek, yang ia temui di gerbong, berdiri sambil memegang ranselnya. Ransel itu adalah ranselnya. Tanpa ragu, Lev berlari menghampiri nenek itu.
"Ya! Itu punya saya! Terima kasih! Terima kasih banyak!" Lev mengucapkan terima kasih berkali-kali, mencampuradukkan bahasa Indonesia, Inggris, dan isyarat.
Nenek itu tersenyum. "Kau lupa. Kau taruh di bangku saat beli kue. Untung aku lihat," katanya dalam bahasa Rusia.
Lev mengangguk, meskipun ia tidak mengerti. Ia merasa lega. Ia merasa sangat berterima kasih kepada nenek itu. Ia membuka ranselnya, memastikan isinya masih utuh. Semua masih ada. Paspor, uang, ponsel, semua masih ada.
"Terima kasih... terima kasih banyak," kata Lev lagi, sambil memegang tangan nenek itu.
"Sama-sama. Sekarang, cepat kembali ke kereta. Kereta akan berangkat," kata nenek itu, menunjuk ke arah kereta.
Lev melihat ke arah kereta. Benar saja, pintu-pintu gerbong sudah mulai tertutup. Ia segera berlari menuju keretanya, melambaikan tangan kepada nenek itu.
Di dalam gerbong, Lev duduk di kursinya, napasnya tersengal-senggal. Ia merasa lega. Ia hampir saja kehilangan segalanya. Tapi Allah masih menjaganya, melalui nenek yang baik hati.
Ia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Sofia.
“Sofia! Aku hampir kehilangan ransel! Tapi seorang nenek menemukannya!”
“Astaga! Pahlawan Batikku! Sudah berapa kali mau hilang barang?” balas Sofia. “Kamu harus lebih hati-hati!”
“Ya. Aku tahu. Tapi... aku bersyukur. Allah mengirimkan nenek baik hati untuk menolongku.”
“Tuh kan! Aku bilang juga apa. Ada orang baik di mana-mana,” balas Sofia.
Lev tersenyum. Ia kembali merenung. Ia menyadari, bahwa meskipun ia berada di tempat yang jauh dari rumah, Allah selalu mengirimkan orang-orang baik untuk menolongnya. Kebaikan tidak mengenal batas. Kebaikan ada di mana-mana. Dan ia merasa begitu bersyukur.
Malam itu, Lev menulis di jurnalnya.
“Novosibirsk. Aku hampir saja kehilangan segalanya. Tapi seorang nenek baik hati menolongku. Kejadian ini membuatku sadar, bahwa Allah selalu menjagaku. Dia mengirimkan malaikat dalam wujud seorang nenek. Aku bersyukur. Alhamdulillah.”
Di luar jendela, kereta terus melaju. Lev memejamkan mata. Ia merasa tenang. Ia tahu, petualangannya masih panjang. Tapi ia tidak lagi takut. Ia tahu, ia punya Allah. Dan itu sudah cukup.
