Bab 10: Pantai Rindu Alam: Menikmati Keindahan Sambil Menunggu Waktu Salat

Bab 10: Pantai Rindu Alam: Menikmati Keindahan Sambil Menunggu Waktu Salat

Lev
0
Pagi di Pagatan yang cerah mengantarkan empat sahabat itu ke destinasi selanjutnya: Pantai Rindu Alam. Masih berada di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, pantai ini menawarkan suasana yang lebih terawat dan fasilitas yang lebih lengkap, menjadikannya destinasi favorit keluarga lokal.

"Katanya di sini banyak gazebo nyaman dan spot foto Instagramable," ujar Aisyah, matanya berbinar, senang dengan prospek kenyamanan setelah beberapa hari camping dan hiking menantang.

Mobil Faris melaju dengan santai. Setibanya di lokasi, mereka disambut pintu gerbang yang rapi. Pemandangan di dalam memang sesuai ekspektasi. Pantai yang bersih, deretan gazebo kayu yang tertata apik, dan pepohonan rindang menciptakan suasana yang teduh dan nyaman.

Zahra langsung auto mode konten. "Wah, ini view-nya juara! Zahra bisa bikin ribuan foto di sini!" Ia dan Faris langsung berpencar, sibuk mencari spot terbaik untuk kamera masing-masing.

Lev dan Aisyah memilih salah satu gazebo yang menghadap langsung ke laut. Mereka duduk santai, menikmati angin sepoi-sepoi dan suara ombak yang tenang.

"Enak juga ya, traveling yang santai begini. Nggak melulu petualangan ekstrem," kata Lev sambil tersenyum.

Aisyah mengangguk, mengeluarkan bekal ringan yang sudah disiapkan. "Perjalanan itu harus seimbang, Lev. Ada saatnya kita berjuang, ada saatnya kita istirahat dan menikmati hasilnya. Seperti hidup, harus ada qiyamul lail dan juga waktu untuk santai."

Mereka menikmati pisang goreng hangat buatan Aisyah sambil mengobrol ringan. Waktu berlalu dengan cepat, dan tak terasa, matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan masuknya waktu salat Zuhur dan Ashar (jamaah takhir).

Aisyah segera mengingatkan Faris dan Zahra yang sedang asyik di ujung pantai. "Faris, Zahra! Waktu salat!"

Zahra berlari menghampiri dengan napas terengah-engah. "Iya, iya, Aisyah. Sebentar lagi sunset nih, tanggung angle-nya!"

"Salat dulu, Zahra. Allahu Akbar lebih penting daripada angle terbaik," tegur Aisyah lembut.

Mereka mencari area yang tenang dan bersih di dekat mushola kecil di area pantai. Momen kocak pun terjadi saat mereka bersiap salat. Faris, dengan gaya santainya, mengeluarkan kompas dari tasnya untuk menentukan arah kiblat.

"Bentar, ini arahnya agak miring ke kanan dikit," kata Faris serius.

Zahra yang penasaran, mengeluarkan ponselnya. "Eh, aplikasi kiblatku bilang lurus ke depan, Ris."

Aisyah yang melihat perdebatan kecil itu hanya tersenyum. Lev, dengan tenang, melihat posisi matahari dan mengamati arah mushola permanen yang ada di sana.

"Ikut arah mushola aja deh, guys. Lebih pasti," usul Lev.

"Tapi kompas gue akurat, Lev!" protes Faris, sedikit membela diri.

"Aplikasi gue juga update terus!" timpal Zahra.

Tawa mereka pecah melihat perdebatan konyol itu. Akhirnya, mereka sepakat mengikuti arah mushola yang sudah pasti benar kiblatnya. Momen kecil itu mengingatkan mereka bahwa dalam beribadah pun, terkadang keribetan teknis bisa mengalahkan esensi ketenangan hati. Ibadah bisa dilakukan di mana saja, dengan cara yang santai namun tetap serius dan khusyuk.

Selepas salat, mereka kembali menikmati keindahan Rindu Alam. Faris berhasil mengambil foto-foto yang menakjubkan, dan Zahra mendapatkan banyak konten. Pantai Rindu Alam mengajarkan mereka tentang pentingnya menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrawi, serta menikmati setiap proses dengan hati yang ringan dan penuh rasa syukur. Sore itu, mereka meninggalkan pantai dengan senyum lebar, siap untuk menikmati sunset legendaris di pantai selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default