Senin pagi di tahun 2026 ini seharusnya menjadi awal minggu yang produktif bagi Imran. Sebagai seorang ASN di Palangkaraya, ia terbiasa dengan rutinitas administrasi yang tertata. Namun, bencana datang dalam bentuk notifikasi pesan singkat yang meleset dari sasarannya.
Semua bermula ketika Imran ingin mengirim pesan kepada Zaki mengenai rencana mereka memesan bibit pohon mangga. Namun, karena jempolnya yang sedikit gemetar akibat kurang tidur (efek menemani Hermione nonton maraton sinetron semalam), pesan itu justru terkirim ke grup WhatsApp keluarga besar yang di dalamnya ada Hermione dan para mertua.
Isi pesannya singkat namun mematikan: "Sayang, yang kemarin sudah beres kan? Kita ketemuan di tempat biasa jam 2 siang ya. Jangan sampai ada yang tahu."
Maksud hati "Sayang" adalah panggilan akrab bercanda untuk Zaki (karena Zaki sering memanggilnya "Chagiya" gara-gara Siti), dan "tempat biasa" adalah warung kopi Amang Iwan. Tapi di mata Hermione, ini adalah naskah drama perselingkuhan yang menjadi nyata.
Drama di Ruang Tamu
Saat Imran pulang istirahat siang, ia mendapati rumahnya gelap gulita meskipun matahari Palangkaraya sedang terik-teriknya. Hermione duduk di kursi goyang sambil memegang sapu tangan, menatap foto pernikahan mereka dengan tatapan yang bisa membuat merinding bulu kuduk.
"Hermione, kenapa lampunya mati? Ada pemadaman?" tanya Imran polos.
"Matikan lampunya, Mas... karena hatiku sudah lebih gelap dari malam yang paling kelam," jawab Hermione dengan suara bergetar yang sangat tertata, persis aktris peraih Panasonic Awards.
Imran menghela napas. "Ya Allah, episode apa lagi ini?" batinnya. "Sayang, aku lapar. Kamu masak apa?"
"Masak? Bagaimana aku bisa memasak jika bumbunya adalah pengkhianatan?" Hermione berdiri secara perlahan (slow motion), lalu menyodorkan layar ponselnya. "Siapa 'Sayang' ini, Mas? Siapa yang Mas ajak ketemuan di 'tempat biasa'? Apakah dia lebih cantik dari aku? Apakah dia tidak punya nama aneh seperti aku?!"
Imran melongo. Ia baru sadar pesannya salah kirim. "Hermione, itu buat Zaki! Tadi aku mau tanya soal bibit mangga!"
"Zaki? Mas mau menjadikan Zaki sebagai tameng? Di sinetron ‘Cinta yang Terlarang’, suami yang selingkuh selalu menyalahkan temannya! Mas jangan coba-coba pakai plot lama itu padaku!" Hermione mulai menangis terisak, menutup wajahnya dengan punggung tangan—teknik menangis elegan yang baru ia pelajari kemarin.
Intervensi Para Tetangga
Suara tangisan Hermione yang "estetik" itu rupanya terdengar sampai ke telinga Siti Nurhaliza dan Krisdayanti yang sedang asyik bertukar masker wajah di teras depan. Mereka segera berlari menuju rumah Imran, diikuti oleh Zaki dan Fahri yang juga baru pulang istirahat.
"Ada apa ini? Kenapa ada suara biola sedih di rumah ini?" tanya Siti Nurhaliza sambil menatap Hermione yang masih terisak.
"Mbak Siti... Mas Imran... dia punya 'Wanita Idaman Lain'!" adu Hermione sambil menunjuk Imran dengan jari gemetar.
Zaki dan Fahri saling pandang, lalu melihat pesan yang diperlihatkan Hermione. Detik berikutnya, Zaki tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya.
"Aduh, Hermione! Itu pesan buat aku!" seru Zaki sambil menunjukkan layar ponselnya sendiri yang berisi balasan Imran yang gagal masuk tadi. "Imran memanggilku 'Sayang' karena dia mau meledekku yang dipaksa Siti bicara bahasa Korea! 'Tempat biasa' itu warung kopi Amang Iwan, kita mau bahas bibit mangga!"
Krisdayanti ikut menimpali sambil membetulkan letak kacamata hitamnya, "Oh dear, Hermione. You watch too many soap operas! Imran ini orangnya terlalu lurus. Dia kalau mau selingkuh pasti izin dulu sama kamu karena takut kualat."
Hikmah di Balik Layar
Hermione terdiam. Isakannya berhenti seketika. Ia melihat bukti di ponsel Zaki, lalu melihat wajah Imran yang sudah sangat pasrah.
"Jadi... ini bukan plot twist?" tanya Hermione memastikan.
"Bukan, Hermione. Ini cuma typo," jawab Imran lemas.
Siti Nurhaliza kemudian merangkul Hermione. "Sudahlah, Jeng. Itulah bahayanya kalau hidup terlalu banyak diatur sama skenario TV. Kita jadi lupa kalau suami kita ini cuma manusia biasa yang jempolnya sering salah pencet."
Malam itu, sebagai permintaan maaf karena telah menuduh Imran, Hermione memasakkan sayur asam patin kesukaan suaminya. Namun, ia tetap tidak bisa melepas hobinya sepenuhnya.
Sambil makan, Hermione berbisik, "Mas... tapi kalau suatu saat Mas benar-benar khilaf, tolong jangan di tempat biasa ya. Nanti aku tidak bisa bikin adegan penggerebekan yang seru."
Imran tersedak tulang ikan. Ia hanya bisa menatap langit-langit rumahnya di Palangkaraya, bersyukur bahwa meskipun istrinya penuh drama, cintanya pada masakan dan dirinya tetaplah nyata, bukan sekadar akting di layar kaca.
Saran Tindakan: Gunakan Tips Komunikasi Pasangan dari Kemenag untuk menghindari konflik akibat salah paham digital.
Baca Selanjutnya: Bab 9: Lomba Memasak Antar Tetangga: Kimchi vs Steak vs Rendang Sinetron
