Setelah petualangan yang tak terlupakan di New York, Lev dan Sindy melanjutkan perjalanan mereka ke ibu kota Amerika Serikat, Washington D.C. Kota ini terasa berbeda dari kota-kota sebelumnya. Di sini, aura sejarah sangat kuat. Gedung-gedung pemerintahan yang megah, monumen-monumen yang menjulang tinggi, dan museum-museum yang menyimpan sejarah Amerika membuat Lev merasa seperti berada di dalam buku pelajaran.
“Lev, di sini tuh kayak di film-film yang tentang presiden-presiden Amerika,” kata Sindy, dengan semangat.
“Iya. Aku juga merasa begitu. Kita berada di pusat kekuasaan dunia,” jawab Lev, dengan nada serius.
Mereka menyewa kamar di sebuah penginapan kecil di dekat Capitol Hill. Pemilik penginapan itu, seorang wanita bernama Eleanor, adalah seorang sejarawan yang sudah lama tinggal di Washington D.C. Eleanor menyambut mereka dengan ramah, dan ia langsung akrab dengan Lev dan Sindy.
“Kalian dari mana?” tanya Eleanor, dengan senyum ramah.
“Kami dari Alaska, Nek. Kami sedang jalan-jalan keliling Amerika,” jawab Sindy.
“Oh, itu jauh sekali! Kalian pasti capek,” kata Eleanor. “Masuk, masuk. Aku sudah siapkan teh hangat untuk kalian.”
Lev dan Sindy merasa nyaman di rumah Eleanor. Eleanor tidak banyak bertanya tentang agama atau latar belakang mereka, tetapi ia selalu memastikan mereka merasa seperti di rumah. Ia bahkan memberikan Lev beberapa buku tentang sejarah Washington D.C., karena ia tahu Lev suka membaca.
Keesokan harinya, mereka mulai menjelajahi Washington D.C. Mereka mengunjungi National Mall, sebuah taman yang sangat besar di tengah kota. Di sana, mereka melihat banyak orang yang sedang bersantai, piknik, atau berolahraga.
Di National Mall, mereka mengunjungi banyak monumen-monumen penting, seperti Washington Monument, Lincoln Memorial, dan World War II Memorial. Lev terkesan dengan keindahan monumen-monumen itu. Ia juga terkesan dengan sejarah di baliknya.
“Lihat, Lev! Ini tempat di mana Martin Luther King Jr. berpidato ‘I Have a Dream’,” kata Sindy, dengan nada haru.
Lev mengangguk. “Aku tahu. Pidato itu sangat menginspirasi.”
Di Washington D.C., mereka juga mengunjungi banyak museum, seperti National Air and Space Museum dan National Museum of Natural History. Lev terkesan dengan koleksi museum-museum itu. Ia merasa seperti berada di dalam ensiklopedia.
“Aku jadi berpikir, Lev. Sejarah itu penting, ya?” tanya Sindy.
“Tentu saja. Sejarah itu mengajarkan kita tentang masa lalu. Tentang kesalahan yang kita buat, dan tentang kebaikan yang kita lakukan,” jawab Lev.
Di Washington D.C., mereka juga bertemu dengan banyak orang yang bekerja di pemerintahan. Ada yang dari Gedung Putih, ada yang dari Capitol Hill, ada yang dari Mahkamah Agung. Mereka semua terlihat sibuk, tetapi mereka juga terlihat bersemangat.
“Aku jadi berpikir, Lev. Bagaimana rasanya jadi orang penting di sini?” tanya Sindy.
“Tidak tahu. Tapi aku tahu, mereka juga manusia biasa. Sama seperti kita,” jawab Lev.
Malam itu, di rumah Eleanor, Lev dan Sindy berdiskusi.
“Sindy, aku jadi berpikir. Washington D.C. itu kota yang penting, ya?” tanya Lev.
“Iya. Tapi Washington D.C. juga punya banyak masalah. Banyak orang yang miskin. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Sama seperti kota-kota lain,” kata Sindy.
“Betul. Tapi di sini, mereka punya harapan. Mereka punya mimpi. Dan mereka punya keinginan untuk membuat dunia menjadi lebih baik,” kata Lev.
Sindy mengangguk. Ia tahu, Lev benar. Di Washington D.C., ia belajar bahwa sejarah itu tidak hanya tentang masa lalu. Sejarah itu juga tentang masa depan. Dan ia tahu, ia akan terus menebar rahmat, di mana pun ia berada.
