Bab 5: Banjir Besar Pertama dan Panggilan Rawa

Bab 5: Banjir Besar Pertama dan Panggilan Rawa

Lev
0


Malam itu di tepi sungai terasa panjang. Ketegangan antara Liku dan Bano membekas seperti udara pengap sebelum badai. Suku Aru tidur dengan gelisah di punggungan tanah kering yang sempit, hanya beberapa meter di atas permukaan air Barito yang tenang. Liku dan Balan bergantian menjaga, mata mereka tajam mengamati kegelapan hutan di sekitar mereka.

Menjelang dini hari, udara berubah secara drastis. Angin mulai bertiup kencang, membawa aroma ozon dan hujan lebat dari arah hulu, tempat asal mereka. Langit yang tadinya dipenuhi bintang-bintang prasejarah Borneo yang jernih, kini ditelan oleh awan badai hitam pekat.

"Monsun datang lebih awal tahun ini," gumam Balan, khawatir. Hujan di Kalimantan pada era 8000 SM adalah kekuatan alam yang dahsyat, mampu mengubah lanskap dalam hitungan jam.

Rintik hujan mulai turun, pada awalnya lembut, lalu berubah menjadi tirai air yang menghantam hutan dan sungai dengan kekuatan brutal. Suku Aru terbangun karena suara gemuruh air dan badai. Mereka berlindung di bawah anyaman kulit binatang seadanya, berharap badai segera berlalu.

Namun, hujan tidak berhenti. Ia mengguyur tanpa ampun selama berjam-jam. Saat fajar menyingsing, pemandangan di sekitar mereka telah berubah total. Sungai Barito, yang tadinya tenang, kini menjadi monster cokelat yang mengamuk, volumenya meningkat secara eksponensial. Air mulai naik dengan cepat, merangkak naik ke punggungan kering tempat mereka berkemah.

"Air naik! Cepat ke rakit!" teriak Liku, kepanikan memenuhi suaranya untuk pertama kalinya.

Kekacauan pun terjadi. Suku Aru bergegas mengumpulkan barang-barang mereka, tetapi banjir bandang bergerak lebih cepat. Dalam hitungan menit, punggungan tanah kering mereka yang sempit sudah terendam. Arus deras mulai merenggut keranjang perbekalan dan tombak yang tidak terikat dengan aman.

Mereka berhasil mencapai rakit-rakit mereka tepat pada waktunya. Air bah mengangkat rakit-rakit itu dan menghempaskannya ke tengah sungai yang kini berbahaya, penuh dengan batang pohon tumbang yang mengalir deras seperti proyektil mematikan.

"Dayung! Jauhi batang kayu!" perintah Liku, berteriak di atas suara gemuruh badai dan air.

Ini adalah ujian sejati bagi kerja sama mereka. Ketakutan akan kematian menyatukan suku yang terpecah belah. Bano, yang berada di rakit belakang, mendayung dengan kekuatan luar biasa, mengarahkan rakitnya menghindari puing-puing dan bahkan menolong rakit lain yang hampir terbalik. Keraguan dan konflik politiknya lenyap dalam menghadapi naluri bertahan hidup yang murni.

Liku berjuang mati-matian untuk menjaga rakitnya tetap stabil. Rara berpegangan erat padanya, matanya terpejam. Tiba-tiba, sebuah batang pohon ulin raksasa yang terbawa arus menghantam rakit Balan, memecahkannya menjadi dua bagian.

"Balan! Ina!" teriak Liku.

Tanpa berpikir panjang, Liku menjatuhkan dayungnya dan terjun ke air yang bergejolak. Dia adalah perenang yang kuat, tetapi kekuatan banjir kali ini luar biasa. Dia berjuang melawan arus, akhirnya berhasil meraih Balan yang tua dan Ina, yang tersedak air dan panik. Dengan bantuan Bano, yang dengan cepat mengarahkan rakitnya mendekat, mereka berhasil menarik kedua tetua itu ke tempat yang aman di rakit Bano.

Mereka terus terombang-ambing tak terkendali selama berjam-jam. Hutan di tepi sungai kini tampak seperti lautan hijau yang tenggelam. Banjir besar pertama musim monsun telah menghancurkan satu-satunya tempat istirahat mereka. Mereka benar-benar terdorong ke arah hilir, ke jantung daerah rawa yang luas di Kalimantan Selatan kuno.

Saat badai reda di sore hari dan air mulai sedikit surut, mereka menemukan diri mereka berada di wilayah yang benar-benar asing. Hulu sungai yang berbatu dan berhutan lebat telah digantikan oleh lanskap dataran rendah yang datar, di mana pohon-pohon nipah dan bakau mulai mendominasi, tumbuh langsung dari air keruh.

Mereka telah mencapai gerbang menuju dunia rawa gambut.
Suku Aru, basah kuyup, kelelahan, dan kehilangan sebagian besar perbekalan mereka, mendarat di sebidang tanah rawa yang tampak lebih kokoh. Mereka selamat dari bencana alam, tetapi kini menghadapi realitas baru. Keraguan Bano telah dibungkam oleh kekuatan alam, dan suku itu kini bersatu di bawah kepemimpinan Liku dan kebijaksanaan Balan.

Mereka menatap lanskap baru mereka: rawa yang luas dan tak berujung yang membentang ke cakrawala. Di era prasejarah Indonesia, adaptasi adalah kunci utama kelangsungan hidup. Mereka telah dipaksa keluar dari rumah lama mereka dan sekarang harus belajar cara hidup baru di tanah basah ini, sebuah tantangan yang akan menguji kemampuan mereka sebagai manusia purba hingga batasnya. Bagian II dari kisah "Nadi Barito" pun dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default