Bab 24: Kedatangan di Kamchatka

Bab 24: Kedatangan di Kamchatka

Lev
0
Perjalanan panjang Lev Ryley dengan kereta Trans-Siberia akhirnya berakhir di Vladivostok, pelabuhan di ujung timur Rusia. Dari sana, ia melanjutkan perjalanannya dengan pesawat menuju Petropavlovsk-Kamchatsky, ibukota Semenanjung Kamchatka.

Saat pesawat mulai turun, Lev menatap keluar jendela dengan takjub. Pemandangan di bawahnya begitu berbeda dari yang ia lihat di Perm atau Chelyabinsk. Bukan lagi dataran luas yang diselimuti salju, melainkan pegunungan-pegunungan es yang menjulang tinggi, dengan beberapa di antaranya mengepulkan asap. Ini adalah Kamchatka, negeri para gunung berapi.

"Selamat datang di tanah yang sedang terbentuk," bisik seorang penumpang di sebelahnya, seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi kerutan. "Di sini, alam masih liar. Bersiaplah untuk melihat hal-hal yang tidak pernah kau bayangkan."

Lev hanya bisa mengangguk, terpesona. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara kecil Petropavlovsk-Kamchatsky. Udara dingin dan segar langsung menyergap Lev saat ia melangkah keluar dari pesawat. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang murni dan bersih.

Di bandara, Lev mencari hostel yang sudah ia pesan. Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambutnya. "Kau Lev? Dari Indonesia?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang kental.

"Ya," jawab Lev, terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"

"Sofia meneleponku. Dia bilang ada seorang pahlawan batik yang akan datang. Dia minta aku menjagamu," jawab wanita itu, tertawa. "Nama saya Yelena. Selamat datang di Kamchatka."

Lev merasa hangat. Lagi-lagi, Sofia. Ia tidak pernah menduga bahwa persahabatan mereka akan berlanjut sejauh ini. Sofia benar-benar peduli.

Yelena mengantarnya ke hostel yang sederhana, tapi bersih dan nyaman. Kamarnya kecil, tapi jendelanya menghadap ke pemandangan gunung berapi yang menakjubkan. Lev merasa seperti berada di dalam mimpi.

"Kau bisa melihat gunung berapi Koryaksky dan Avachinsky dari sini," kata Yelena. "Itu adalah dua dari puluhan gunung berapi yang ada di sini. Besok, aku akan mengantar kamu ke salah satu gunung berapi itu. Kamu suka mendaki, kan?"

"Ya! Tentu!" jawab Lev, bersemangat.

Malam itu, Lev menelepon Sofia. "Sofia! Kamu benar-benar gila! Kamu menelepon semua orang untuk menjagaku!"

"Tentu saja! Pahlawan batik itu harus dilindungi!" balas Sofia, tertawa. "Lagipula, mereka itu sudah seperti keluargaku sendiri. Mereka tahu aku punya teman dari Indonesia. Aku sudah ceritakan semuanya."

"Kamu sudah cerita semuanya? Termasuk yang konyol-konyol?" tanya Lev.

"Tentu saja! Mereka tahu kamu salah pesan makanan, mereka tahu kamu salah kostum, mereka tahu kamu pahlawan nenek-nenek di Chelyabinsk," kata Sofia, dengan nada geli. "Mereka semua menantikanmu."

Lev merasa malu, tapi juga merasa bahagia. Ia tidak pernah menyangka, persahabatan mereka akan membuat perjalanannya di Rusia begitu hangat.

"Terima kasih, Sofia," kata Lev, tulus. "Kamu sahabat terbaik yang pernah saya punya."

"Sama-sama, Lev. Sekarang, nikmati Kamchatka! Aku tunggu cerita-ceritamu," balas Sofia.

Setelah menutup telepon, Lev menulis di jurnalnya.

“Kamchatka. Tanah yang sedang terbentuk. Di sini, aku merasa begitu dekat dengan alam. Aku melihat gunung-gunung berapi yang menjulang tinggi. Aku merasa kecil, tapi juga merasa besar, karena aku tahu, aku adalah bagian dari ciptaan-Nya. Dan di sini, aku juga menemukan kehangatan dari orang-orang yang tidak aku kenal. Aku bersyukur. Alhamdulillah.”

Lev memejamkan mata. Ia merasa tenang. Perjalanan ini, jauh dari rumah, ternyata membawanya semakin dekat dengan banyak hal. Termasuk dengan dirinya sendiri, dengan Tuhan, dan dengan orang-orang baik di sekitarnya. Ia tidak sabar untuk memulai petualangan di Kamchatka.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default