Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela yang berdebu, menyentuh kelopak mata Elena yang bengkak karena terlalu banyak menangis semalam. Ia terbangun masih di atas sajadahnya, dengan tulang rusuk yang terasa linu karena kedinginan. Ia bangkit perlahan, merapikan mukena sederhana yang ia beli secara daring—satu-satunya harta yang membuatnya merasa terlindungi dari kasarnya dunia luar.
Hari ini adalah hari Senin. Di kalender kecilnya, ia telah melingkari tanggal ini. Ini adalah hari di mana ia harus pergi ke kantor administrasi kota untuk mengurus dokumen identitasnya. Sejak memeluk Islam, Elena memilih nama baru untuk dirinya: Layla. Baginya, Layla yang berarti "malam" adalah cerminan dari jiwanya yang menemukan ketenangan justru di saat dunia sedang gelap dan sunyi.
Namun, menggunakan nama itu di Sofia bukanlah perkara mudah.
Elena mengenakan pakaian terbaiknya—sebuah rok panjang gelap dan blus longgar. Ia melilitkan jilbabnya dengan sangat rapi, mencoba menutupi rasa tidak percaya diri yang terus membisik di telinganya. Saat ia melangkah keluar dari apartemen, tatapan tajam dari tetangganya, Nyonya Petrova, langsung menyambutnya. Nyonya Petrova adalah seorang wanita tua yang selalu duduk di teras sambil memegang rosario, dan setiap kali melihat Elena, ia akan meludah ke samping atau membuat tanda salib di dadanya.
"Elena, kau tampak seperti hantu," ejek Nyonya Petrova dengan suara serak. "Kau membuang kecantikanmu demi kain penutup kepala itu. Kasihan orang tuamu."
Elena hanya menunduk, mempercepat langkahnya. Kata-kata itu seperti sembilu yang mengiris luka lama. Aku bukan Elena yang dulu lagi, tapi aku juga belum menjadi Layla yang kuat, batinnya.
Sesampainya di kantor administrasi, suasana terasa mencekam bagi Elena. Antrean panjang dan bau kertas tua memenuhi ruangan. Saat gilirannya tiba, petugas wanita di balik kaca loket menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan sinis.
"Nama?" tanya petugas itu tanpa ekspresi.
"Elena Georgieva... tapi saya ingin mengajukan perubahan nama resmi menjadi Layla," jawabnya dengan suara bergetar.
Petugas itu berhenti mengetik. Ia melepas kacamata bacanya dan menatap Elena dengan dahi berkerut. "Layla? Itu bukan nama Bulgaria. Kenapa kau ingin mengubah namamu menjadi nama asing? Apakah namamu yang sekarang tidak cukup bagus untukmu?"
"Ini tentang keyakinan saya," jawab Elena lirih, tangannya saling meremas di bawah meja.
"Keyakinan tidak harus mengubah nama di paspor, Nak. Kau hanya akan mempersulit hidupmu sendiri. Di negeri ini, nama seperti itu akan membuatmu sulit mencari kerja, sulit mendapatkan asuransi, bahkan mungkin sulit mendapatkan pemakaman yang layak," petugas itu berbicara dengan nada menggurui yang menyakitkan.
Elena terdiam. Kalimat terakhir petugas itu—pemakaman yang layak—bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Ia teringat rasa sakit di perutnya yang semakin sering datang. Ia membayangkan jika ia mati nanti dengan nama Layla, apakah ada tanah di Sofia yang bersedia menerimanya? Ataukah ia akan dibuang seperti sampah yang tak bertuan?
Ia meninggalkan kantor itu tanpa hasil yang memuaskan. Nama resminya tetap Elena, namun di dalam hatinya, ia tetaplah Layla. Seorang wanita yang terombang-ambing di antara dua identitas, dua dunia yang saling menolak.
Dalam perjalanan pulang, Elena melewati sebuah taman kota. Ia duduk di bangku kayu yang basah oleh sisa salju. Ia melihat daun-daun kering yang jatuh dan diinjak-injak oleh orang yang lewat.
"Aku adalah daun ini," pikirnya. "Dulu aku hijau dan dipuja saat musim semi. Sekarang aku cokelat, kering, dan tak berarti. Jika aku hancur menjadi tanah, tak ada yang akan sadar bahwa dulu aku pernah memberikan oksigen bagi kehidupan."
Keputusasaan mulai merayap kembali. Ia merasa bahwa menjadi mualaf telah mencabut akarnya dari bumi, namun ia belum sepenuhnya mampu menyentuh langit. Ia merasa tak terlihat. Jika ia berteriak di tengah alun-alun Sofia, suaranya mungkin hanya akan dianggap sebagai desiran angin lalu.
Ia merogoh ponselnya, mencoba mencari kontak yang bisa ia hubungi. Ibunya? Ayahnya? Tidak ada satu pun nama yang bisa ia tekan tanpa rasa takut akan penolakan. Ia akhirnya hanya membuka aplikasi Al-Qur'an dan membaca sebuah ayat yang lewat di berandanya:
“Dan janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Air mata Elena jatuh di layar ponselnya. Ia menyadari satu kebenaran pahit: Di dunia ini, ia mungkin hanya dianggap sebagai "wanita asing yang aneh", "pengkhianat bangsa", atau "manusia tak berarti". Dunia mungkin akan baik-baik saja tanpa kehadirannya. Namun, dalam setiap helai nafasnya yang makin terasa berat, ia dipaksa untuk percaya bahwa ada Satu Dzat yang tidak pernah menganggapnya tidak berarti.
Sambil berjalan pulang dengan langkah gontai, Elena berbisik pada dirinya sendiri, "Jika esok aku tiada, biarlah dunia melupakanku. Asalkan Engkau, ya Allah, mengingatku sebagai hamba-Mu yang bertahan hingga akhir."
Optimasi & Informasi Tambahan untuk Pembaca:
Bab ini menggambarkan tantangan administratif dan sosial yang sering dihadapi mualaf di Eropa Timur. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang prosedur hukum perubahan nama atau hak-hak mualaf di luar negeri, Anda dapat merujuk pada European Court of Human Rights terkait kebebasan beragama.
Jangan lewatkan Bab 4 yang akan menceritakan bagaimana Elena mulai menghadapi kenyataan pahit tentang penyakitnya di tengah keterasingan sosial yang semakin mendalam. Temukan buku-buku inspirasi mualaf lainnya di Amazon Books - Muslim Converts.
