Bab 5: Ujian SeeD dan Kacaunya Misi Dollet

Bab 5: Ujian SeeD dan Kacaunya Misi Dollet

Lev
0

"Perhatian semua kadet! Misi Ujian SeeD dimulai sekarang! Tujuan: Kota Dollet! Tunjukkan kemampuan tempur terbaik kalian!" Suara instruktur berkumandang melalui interkom Balamb Garden yang kini berfungsi sebagai markas bergerak.
Lev, bersama timnya yang terdiri dari Squall dan Zell Dincht (pemuda berambut mohawk dengan energi berlebih), menaiki kapal pendarat. Jantung Lev berdebar kencang. Di dunia nyata, adrenalinnya paling tinggi saat dikejar deadline tugas kuliah. Di sini, dia akan menghadapi monster beneran.

"Baiklah, kita mendarat di pantai Dollet. Tujuannya adalah mengamankan menara komunikasi," jelas Squall singkat, fokus memeriksa Gunblade miliknya. "Jangan mati konyol, Lev."

"Siap, Bos!" sahut Zell penuh semangat.

Lev meremas kalung kecil berbandul sajadah mini yang selalu ia kenakan. "Bismillah, Allahu Akbar," bisiknya, menguatkan diri.

Saat kapal mendarat di pantai berbatu Dollet, peperangan sudah berlangsung sengit. Pasukan Galbadia menyerang kota itu. Tim Lev langsung terjun ke medan tempur. Di sinilah kemampuan gamer Lev diuji di dunia nyata.

"Zell, pakai Booya!" teriak Lev refleks, menyebut nama limit break Zell. Zell menoleh bingung, "Apaan tuh Booya? Ini Limit Break namanya My Final Heaven!" Meski bingung, Zell melancarkan serangannya dengan brutal.

Lev dengan lincah menghindari serangan musuh. Meskipun tubuhnya terasa kaku ala karakter PS1, reflek gamingnya sangat tajam. Dia tahu pola serangan monster-monster ini. Dia sudah menghajar mereka ribuan kali di kamarnya di Banjarmasin.

"Squall, Junction magic Cure ke HP-mu! Biar nggak gampang mati!" saran Lev di tengah baku hantam.

Squall melirik Lev, heran dengan pengetahuan tempur anak baru ini. Tapi dia menurut, dan benar saja, daya tahannya meningkat drastis. "Lumayan juga pengetahuanmu tentang sistem Junction," aku Squall.

Mereka bertiga menerobos kota yang porak poranda. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah air mancur yang masih mengalir jernih. Hari sudah menjelang sore, dan waktu salat Ashar sudah masuk.

"Stop sebentar!" perintah Lev tiba-tiba, membuat Squall dan Zell bingung.

"Mau apa? Musuh ada di mana-mana!" protes Squall.

"Wudhu, bro! Sudah masuk Ashar!" Lev bergegas ke air mancur.

Zell dan Squall saling pandang. "Wudhu? Mandi di sini?"

"Bukan mandi! Bersuci! Kalian jaga belakang, aku salat sebentar di balik tembok itu," ujar Lev sambil mengambil air wudhu dengan gerakan cepat. Dia bersyukur air di sini bersih dan tidak berbau amis seperti beberapa sudut Sungai Martapura.

"Hei! Tidak ada waktu salat di medan perang!" Squall mencoba menarik Lev.

"Ada! Dalam Islam, salat bisa dijamak atau diqasar kalau lagi bepergian atau perang! Tinggal dirapel atau diringkas!" jawab Lev sambil menyelesaikan wudhunya dan segera menggelar sajadah mininya. Dia salat Ashar dalam posisi duduk (karena darurat perang) dengan gerakan cepat, mencoba khusyuk di tengah suara ledakan dan tembakan.

Zell dan Squall, dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan terkesan, terpaksa menjaganya. Ini adalah pemandangan paling aneh yang pernah mereka lihat. Seorang kadet baru salat di tengah perang.

Selesai salat, Lev langsung berdiri dan siap tempur lagi. "Oke, lanjut!"

Mereka melanjutkan perjalanan mendaki bukit menuju menara komunikasi. Di puncak, mereka bertemu dengan Biggs dan Wedge, dua tentara Galbadia konyol yang selalu sial. Lev tersenyum melihat mereka.

"Saatnya boss battle pertama," bisik Lev.

Pertarungan melawan Ifrit (atau monster naga api yang dikira Ifrit oleh Lev) terjadi. Lev menggunakan semua pengetahuannya tentang kelemahan elemen es monster itu.

"Gunakan Blizzard! Junction magic es yang banyak!" teriak Lev.

Dengan strategi jitu dari Lev, monster itu berhasil dikalahkan. Misi berhasil. Tim Lev mencetak poin tertinggi. Mereka berhasil mengamankan menara komunikasi.

Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Tiba-tiba, Seekor robot raksasa berkepala laba-laba, X-ATM092, muncul dan mulai mengejar mereka menuruni bukit. Inilah momen ikonik kejar-kejaran di FF8.

"Kabur! Jangan dilawan! Dia akan hidup lagi terus!" teriak Lev panik, tahu betul robot ini punya kemampuan regenerasi.

Mereka berlari sekuat tenaga menuruni bukit, menghindari laser dan rudal. Aksi kejar-kejaran itu penuh dengan adegan komedi saat Zell tersandung, atau Squall yang hampir jatuh ke jurang. Lev bahkan sempat terpeleset lumpur (tekstur lumpur di sini terasa aneh).

Akhirnya, mereka berhasil mencapai pantai tepat waktu. Kapal pendarat menunggu. Mereka melompat masuk tepat saat robot raksasa itu meledak di air. Misi Ujian SeeD selesai.

Di atas kapal, Zell menepuk punggung Lev dengan keras. "Gila, Lev! Skill tempurmu keren banget! Strategimu jitu semua!"

Squall, meskipun tidak berkomentar banyak, melirik Lev dengan pandangan menghargai.

Lev tersenyum lega. Dia berhasil bertahan hidup di hari pertamanya di dunia game. Dia berhasil menjaga kewajiban agamanya di tengah perang.

"Alhamdulillah," ucapnya pelan.

Di Banjarmasin, di kamar Lev yang sunyi, Haris si pemuda gamer masih menatap CD hitam polos itu. Dia merasa ada yang menghubungkan antara dunia nyata dan dunia game saat itu. Lev Ryley telah memulai petualangan gilanya di dunia FF8, membawa serta iman dan kelucuan khas Banjarmasin ke dunia fantasi yang serius.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default