BAB 7: Jukung, Pasar Terapung, dan Aksi Nyaris Tercebur

BAB 7: Jukung, Pasar Terapung, dan Aksi Nyaris Tercebur

Lev
0

Kunjungan ke Pasar Terapung Lok Baintan adalah agenda wajib yang sudah ditunggu-tunggu Aisyah Humaira dalam itinerary-nya. Minggu pagi buta, sekitar pukul 05.00 WITA, keluarga Ryley sudah bersiap di dermaga kecil dekat rumah mereka. Udara masih dingin dan berkabut, khas subuh di tepi sungai besar.

"Aisha, kita naik kelotok (perahu motor kayu tradisional) dari sini. Lebih otentik," ujar Anindya, mengenakan jaket tebal.

Aisha Kim, dengan hijab tebal dan jaketnya, sedikit menggigil. Ia sudah terbiasa dengan suhu dingin Korea, tapi dingin di tepi sungai di pagi hari ini terasa berbeda.

"Masya Allah, dinginnya menusuk tulang ya, Anin. Sepertinya aku salah kostum," keluhnya sambil tertawa.

Lev Ryley, sang kapten dadakan, sudah duduk di kursi belakang kelotok sewaan mereka. "Aman, Tante Aisha. Nanti kalau sudah di tengah sungai, panasnya langsung terasa," hibur Lev.

Ghina dan Rayyan sudah duduk manis di depan, penasaran. Maryam fokus mempersiapkan kameranya, memastikan baterai penuh.

Kelotok pun melaju perlahan membelah kabut Sungai Martapura. Suasana magis. Perlahan, matahari mulai muncul di ufuk timur, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu. Di sepanjang perjalanan, mereka melihat aktivitas warga lokal: ibu-ibu naik jukung (perahu dayung kecil) membawa dagangan mereka, anak-anak mandi di sungai, dan beberapa nelayan melemparkan jala mereka.

Aisha terpesona. Pemandangan ini seratus delapan puluh derajat berbeda dari pemandangan Sungai Han di Seoul yang dipenuhi pesepeda dan gedung modern. Di sini, perahu dayung adalah moda transportasi utama.

"Ini seperti kembali ke masa lalu. Sangat tradisional dan indah," bisik Aisha, merekam semuanya dengan matanya dan sesekali mengambil foto.

Sekitar 45 menit perjalanan, suara kelotok mulai melambat. Di depan mata mereka, puluhan, bahkan mungkin ratusan jukung berkumpul di tengah sungai. Itulah Pasar Terapung Lok Baintan, ikon wisata kebanggaan Banjarmasin.

Pasar itu hidup, ramai, dan penuh warna. Ibu-ibu pedagang, yang biasa disebut acil, mengenakan topi caping besar, sibuk mendayung jukung mereka yang penuh dengan dagangan: buah-buahan segar (nanas, pisang, rambutan), sayur mayur, dan jajanan pasar.

Anindya dan Aisyah langsung berteriak memanggil para acil itu.

"Acil! Nanasnya acil! Sini!"

Beberapa acil mendayung mendekat ke kelotok mereka. Proses jual beli terjadi di atas air, dari perahu ke perahu. Anindya, dengan keahlian tawar-menawarnya, langsung beraksi.

"Berapa nanasnya, cil? Kurangilah, ulun langganan nih," tawar Anindya, menggunakan bahasa Banjar yang kental.

Aisha ternganga. Ini adalah pasar tradisional paling unik yang pernah ia lihat. Di Seoul, pasar seperti Namdaemun atau Dongdaemun memang ramai, tapi di darat. Ini semua di atas air! Ia mengeluarkan uang rupiahnya dan ikut berbelanja nanas dan rambutan.

"Ini luar biasa, Anin. Mereka menjaga tradisi ini tetap hidup," puji Aisha.

Di tengah kehebohan belanja, Lev Ryley, si ayah humoris, mencoba peruntungan. Ia melihat ada jukung yang menjual kopi hangat dan kue-kue tradisional. Dengan percaya diri, ia berdiri di tepi kelotok dan mencoba menggapai jukung penjual kopi.

"Aduh, kopinya menggiurkan nih," kata Lev.

Anindya memperingatkan, "Abi, hati-hati! Jangan banyak gerak!"

Lev tidak mengindahkan. Ia membungkuk terlalu jauh untuk mengambil gelas kopi dari tangan si acil. Tiba-tiba, keseimbangannya goyah. Kelotoknya sedikit oleng karena hantaman ombak kecil dari kelotok lain yang melintas.

Byur!

Lev Ryley kehilangan keseimbangan dan tercebur ke Sungai Martapura. Untungnya, sungai di area pasar tidak terlalu dalam dan ia bisa berpegangan pada pinggiran kelotok dengan cepat. Airnya yang keruh membuatnya terlihat seperti pahlawan kesiangan yang gagal.

Seketika, pasar terapung yang tadinya ramai dengan suara tawar-menawar, kini dipenuhi tawa meledak-ledak. Para acil dan penumpang lain tertawa terbahak-bahak melihat aksi Lev.
"Hahaha, Abiii! Makanya dengerin Umi!" Anindya tertawa sampai terpingkal-pingkal, sampai menangis.

Aisha, meskipun khawatir, ikut tertawa geli melihat Lev yang basah kuyup dengan ekspresi syok. Ghina dan Rayyan tertawa paling kencang.

Lev Ryley, dengan harga diri yang sedikit terluka dan kemeja basah kuyup, naik kembali ke kelotok dengan bantuan si acil kopi.

"Ya Allah, Bi, ada-ada saja kelakuanmu," kata Anindya, masih menyisakan tawa.

"Ini... ini bagian dari pengalaman otentik lokal, Aisha," bela Lev, mencoba terlihat keren meski basah kuyup.

Maryam, si pendiam, berhasil mengabadikan momen menceburkan diri Ayahnya itu dengan kamera polaroidnya. Fotonya buram, tapi momennya pas.

Setelah insiden lucu itu, belanja dilanjutkan dengan lebih hati-hati. Mereka membeli banyak buah-buahan dan kue basah khas Banjar. Aisha, sang chef, terkesima dengan wadai cincin dan putu mayang yang dibeli Anindya.

Saat kembali ke rumah, matahari sudah terik. Lev langsung mandi dan berganti pakaian. Anindya masih saja menertawakan suaminya.

"Aisha, kamu harus masukkan pengalaman ini di bukumu nanti," goda Anindya.

Aisha tersenyum. "Tentu saja, Anin. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan di tempat yang paling tidak terduga, di tengah tawa, dan kadang-kadang, di tengah sungai," katanya, bijak.

Kunjungan ke pasar terapung itu tidak hanya memberikan mereka buah segar untuk seminggu ke depan, tetapi juga kenangan indah dan pelajaran berharga tentang kearifan lokal Banjarmasin yang begitu hidup dan nyata.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default