Kepulangan dari Makkah meninggalkan jejak rindu yang mendalam bagi Muhammad Hifni dan Rina Rufida. Namun, ada satu hal yang lebih mendesak daripada rasa rindu pada Ka’bah: rasa mual yang luar biasa setiap kali Rina mencium aroma tumis bawang merah di dapur.
Hifni, yang baru saja mengenakan seragam cokelat kebanggaannya sebagai PNS di kantor pemerintahan, tampak panik melihat istrinya terduduk lemas di meja makan. Sebagai pria yang terbiasa bekerja dengan prosedur operasional standar (SOP), Hifni langsung mengambil langkah taktis: menyeduhkan teh hangat.
"Umi, ini pasti pengaruh jetlag atau mungkin karena cuaca di sini lagi tidak menentu," ujar Hifni sambil meletakkan cangkir.
Rina hanya menggeleng lemah. "Bi, I don't think it's just jetlag. Bau parfum Abi saja bikin Umi mau pingsan."
Di sudut ruangan, Khalisah Salsabilla sedang sibuk mengelus "Kiko", kucing domestik berbulu oranye yang baru saja ia beri makan. "Umi, kata Kiko mungkin ada bayi di perut Umi. Soalnya Kiko kemarin tidur di atas perut Umi terus," celetuk bocah 6 tahun itu dengan polosnya.
Hifni dan Rina saling berpandangan. Mungkinkah? Doa yang mereka langitkan di depan Multazam pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan kemarin langsung diijabah secepat ini?
Esok paginya, Rina memutuskan untuk melakukan tes mandiri. Hifni menunggu di luar pintu kamar mandi dengan perasaan lebih tegang daripada saat menunggu pengumuman kenaikan pangkat. Di tangannya, ia memegang tas kerja, siap berangkat ke kantor pusat untuk rapat koordinasi.
"Abi!" suara Rina terdengar gemetar dari dalam.
Rina keluar dengan mata berkaca-kaca, menyodorkan sebuah benda kecil plastik. Ada dua garis merah yang sangat jelas di sana.
"Alhamdulillah... Positive, Bi. Two stripes!" seru Rina, mencampurkan rasa syukur dengan aksen guru bahasa Inggrisnya yang kental.
Hifni terdiam, air matanya hampir jatuh. Ia segera memeluk istrinya. "Doa kita di tanah suci, Mi. Allah langsung titipkan amanah ini."
Namun, suasana haru itu tidak bertahan lama ketika Khalisah tiba-tiba nyelonong masuk sambil menggendong Kiko. "Hore! Jadi Kiko beneran mau punya adik? Tapi nanti adiknya jangan makan wet food Kiko ya, Bi!"
Hifni tertawa kecil sambil mengusap kepala putri sulungnya. "Adik kamu manusia, Khalisah, bukan anak kucing."
"Sama saja, Bi. Sama-sama lucu!" jawab Khalisah mantap.
Pagi itu, Hifni berangkat ke kantor dengan senyum yang tidak luntur sedikitpun. Bahkan saat menghadapi tumpukan berkas disposisi yang membosankan, ia merasa dunia jauh lebih indah. Sementara itu, Rina mulai sibuk mencari tahu di Google tentang asupan gizi ibu hamil, sambil sesekali mengomeli Kiko yang mencoba memanjat rak buku bahasa Inggrisnya.
Kabar bahagia ini baru awal dari petualangan panjang mereka. Mereka belum tahu, bahwa di dalam sana, bukan hanya satu jantung yang berdetak, melainkan dua.
Lanjut ke Bab 3: Ngidam "English Breakfast" dan Pertemuan Canggung di Klinik Gigi? (Di sini kita akan bahas pertemuan dengan drg. Dina!)
