Bab 2: Gemuruh di Masjid Perth City

Bab 2: Gemuruh di Masjid Perth City

Lev
0
Mengapa Zahra ingin tertidur dan tak bangun lagi? Ikuti kisah Zahra Al-Maliha dalam novel Islami paling menyentuh tahun 2026. Berlatar di Perth, Australia, sebuah perjalanan slice of life tentang depresi, kehilangan, dan menemukan kembali cahaya Allah di ujung Swan River. Baca 15 bab lengkap di sini.

Matahari pagi di Perth menyelinap masuk melalui celah gorden, namun bagi Zahra Al-Maliha, cahaya itu terasa seperti sapaan yang kasar. Ia terbangun. Jantungnya berdenyut pelan, membawa kekecewaan yang berat saat menyadari bahwa ia masih bernapas. Doanya malam tadi—doa agar tidurnya menjadi yang terakhir—ternyata belum dikabulkan.

Dengan langkah gontai dan raga yang terasa seperti beban, Zahra memutuskan untuk keluar. Bukan karena ia ingin menikmati kota, tapi karena dinding-dinding apartemennya seolah mulai menghimpitnya. Ia menaiki bus Transperth gratis (CAT bus) menuju pusat kota. Kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin saat bus melewati Murray Street.

Tujuannya adalah sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, namun kini terasa seperti pengadilan bagi nuraninya: Masjid Perth di William Street.

Masjid itu adalah bangunan tua yang indah, berdiri tegak di tengah kepungan kafe-kafe modern dan butik-butik Northbridge. Bata merahnya yang khas menyimpan sejarah panjang umat Islam di Australia Barat. Zahra melangkah masuk, melepas sepatunya dengan gerakan mekanis. Aroma karpet masjid dan udara yang tenang menyambutnya, namun alih-alih merasa damai, Zahra justru merasa semakin kerdil.

Di dalam sana, beberapa pria tua berserban duduk membaca Al-Qur'an, dan di area wanita, seorang ibu sedang membisikkan ayat-ayat suci kepada anaknya. Zahra duduk di pojok paling belakang, bersandar pada dinding kayu. Ia melihat orang-orang itu dengan rasa iri yang menusuk. Bagaimana bisa mereka tampak begitu yakin dengan Tuhan? Bagaimana bisa mereka tersenyum seolah beban dunia tidak ada artinya?
Ia mencoba mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, namun tangan itu terasa seberat timah. Bibirnya kelu.

"Ya Allah," batinnya menjerit, namun suaranya tertahan di tenggorokan. "Mereka bilang Engkau dekat, lebih dekat dari urat leher. Tapi mengapa aku merasa Engkau begitu jauh? Mengapa langit-Mu di Perth terasa begitu tinggi dan tak tergapai oleh rintihanku?"

Zahra menundukkan kepala hingga keningnya menyentuh lutut. Ia teringat masa-masa di Jakarta, saat ia menjadi sosok yang penuh semangat, yang percaya bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya. Namun, rentetan kehilangan yang dialaminya—kematian ayahnya yang mendadak, kebangkrutan keluarga, dan terakhir, kepergian ibunya yang merenggut sisa cahaya di matanya—telah mengubahnya menjadi kerangka tanpa jiwa.

Ia pindah ke Australia bukan untuk mengejar gelar master di UWA. Ia pindah karena ia tidak sanggup lagi melihat sudut-sudut kota Jakarta yang dipenuhi kenangan menyakitkan. Ia pikir dengan terbang sejauh 3.000 kilometer ke selatan, rasa sakit itu akan tertinggal di garis khatulistiwa. Ternyata tidak. Rasa sakit itu ikut duduk di kursi pesawat bersamanya. Ia menetap di hatinya, bahkan menjadi lebih kuat di tengah kesepian Perth yang asing.

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya dengan kerudung berwarna pastel mendekatinya. "Are you okay, Sister?" tanya wanita itu dengan aksen Australia yang kental, suaranya lembut namun penuh perhatian.

Zahra tersentak. Ia segera menghapus air mata yang tanpa sadar jatuh ke pipinya. "I'm fine. Just... tired," jawab Zahra singkat dengan suara serak. Ia tidak ingin bicara. Ia tidak ingin dikasihani. Baginya, belas kasihan orang lain hanyalah pengingat betapa hancurnya hidupnya saat ini.

Zahra segera bangkit, mengambil tasnya, dan keluar dari masjid dengan terburu-buru. Ia berlari kecil menembus kerumunan orang di Northbridge, mengabaikan tatapan heran beberapa pejalan kaki. Ia merasa tidak pantas berada di rumah Tuhan. Ia merasa doanya yang menginginkan kematian adalah sebuah dosa besar yang membuatnya terasing dari rahmat-Nya.

Ia terus berjalan hingga kakinya membawanya ke arah Forrest Place. Di tengah alun-alun kota, ia berdiri diam sementara orang-orang berlalu lalang seperti bayangan yang kabur. Di sinilah ia, Zahra Al-Maliha, seorang wanita yang memiliki segalanya di atas kertas—beasiswa, kecerdasan, masa depan—namun ia hanya menginginkan satu hal yang tidak diberikan oleh dunia: Berhenti merasa.

Angin sore yang tajam bertiup dari arah pelabuhan, menerbangkan beberapa helai rambut yang keluar dari kerudungnya. Zahra menatap langit yang mulai berubah jingga.

"Jika di masjid pun aku tak bisa menemukan-Mu, maka di mana lagi aku harus mencari?" bisiknya putus asa.

Malam itu, ia kembali ke apartemennya dengan kehampaan yang lebih dalam. Ia membuka laptopnya, melihat tumpukan tugas kuliah yang tak disentuhnya selama satu minggu. Ia tidak peduli jika beasiswanya diputus. Ia tidak peduli jika ia dideportasi. Baginya, satu-satunya perjalanan yang bermakna hanyalah perjalanan menuju "tidur panjang" yang ia dambakan.

Sebelum mematikan lampu, Zahra melihat sebuah pesan masuk di ponselnya dari nomor yang tidak ia kenal. Sebuah kutipan pendek dalam bahasa Arab yang berarti: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."

Zahra mendengus pahit, melempar ponselnya ke ujung kasur, dan kembali menyelimuti dirinya dalam kegelapan. Ia ingin tertidur, dan kali ini, ia berdoa lebih keras agar jantungnya berhenti berdetak sebelum fajar menyapa Swan River.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default