Bab 4: Di Balik Cadar Tipis: Aku Hanya Orang Asing

Bab 4: Di Balik Cadar Tipis: Aku Hanya Orang Asing

Lev
0
Sebuah novel Islami paling sedih tentang Elena, mualaf asal Sofia, Bulgaria, yang mempertanyakan arti keberadaannya di mata Allah dan manusia. Kisah haru tentang kesepian, iman, dan kematian.


Pagi itu, Sofia diselimuti kabut tebal yang membuat jarak pandang hanya sejauh beberapa meter. Bagi Elena, kabut itu terasa seperti pelukan yang jujur, buram, dingin, dan penuh ketidakpastian. Ia memutuskan untuk pergi ke pasar loak di pinggiran kota, berharap bisa menjual beberapa buku arsitektur mahalnya untuk menyambung hidup dan membeli obat pereda nyeri yang harganya kian melambung di tahun 2026 ini.

Ia mengenakan khimar panjang berwarna abu-abu, senada dengan warna langit. Untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri memakai cadar tipis untuk menutupi wajahnya yang kian tirus dan pucat. Ia tidak ingin orang melihat "kematian" yang mulai terpancar dari matanya.

Di dalam bus kota, Elena berdiri di pojok belakang. Ia memegang tiang besi dengan tangan yang gemetar. Di depannya, dua orang remaja putri sedang asyik bermain ponsel, membicarakan tren busana musim dingin terbaru di Paris. Mereka tertawa, hidup mereka tampak begitu ringan dan penuh warna. Elena menatap pantulan dirinya di kaca bus; sosok hitam yang diam, seolah-olah ia adalah lubang hitam yang menyerap semua cahaya di sekitarnya.

“Apakah aku pernah menjadi seperti mereka?” batinnya. “Pernahkah aku tertawa tanpa memikirkan apakah besok aku masih bisa bernapas?”

Tiba-tiba, bus mengerem mendadak. Tubuh Elena yang lemah terjerembap ke depan, tas berisi buku-buku beratnya jatuh berserakan di lantai bus. Tak ada seorang pun yang mengulurkan tangan. Orang-orang hanya menepi, memberi ruang seolah takut bersentuhan dengan pakaiannya. Elena mencoba bangkit dengan sisa tenaganya, memunguti buku-buku itu satu per satu dengan napas yang memburu.

"Kenapa orang-orang berpakaian seperti ninja sekarang?" bisik salah satu remaja tadi sambil terkikik. Suaranya cukup keras untuk didengar seluruh penumpang.

Elena tidak membalas. Ia hanya menunduk dalam, merasakan panas yang menjalar di matanya. Di balik cadarnya, ia menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak terdengar. Ia merasa seperti hantu yang masih memiliki detak jantung; ada namun tak diinginkan, hadir namun dianggap tiada.

Sesampainya di pasar loak, kenyataan kembali memukulnya. Buku-buku arsitekturnya yang dulu ia beli dengan harga jutaan lev, kini hanya dihargai beberapa keping koin oleh tengkulak.

"Ini sudah tidak laku, Nona. Sekarang semua orang pakai AI untuk desain. Buku-buku ini hanya jadi sampah kertas," ujar si pedagang dengan nada kasar.

Elena menerima uang recehan itu dengan tangan gemetar. Uang itu bahkan tidak cukup untuk membeli sebotol vitamin. Saat ia berjalan pulang, rasa sakit di perutnya kembali menyerang. Kali ini lebih hebat dari biasanya. Ia terpaksa bersandar pada dinding bata sebuah gang sempit yang gelap. Tubuhnya merosot ke tanah.

Dunia di sekitarnya terus berjalan. Suara klakson mobil, langkah kaki orang-orang yang terburu-buru, dan kicauan burung gagak di kejauhan. Tidak ada yang berhenti untuk bertanya, "Apakah kau baik-baik saja?"

Dalam rasa sakit yang luar biasa itu, Elena menatap ke langit kecil di antara celah gedung-gedung tinggi. Ia merasa jiwanya perlahan mulai terlepas dari raganya.

“Ya Allah,” rintihnya dalam hati. “Jika aku mati di gang ini sekarang, akankah ada yang mengabari ibuku? Ataukah mereka hanya akan memanggil petugas kebersihan untuk mengangkut tubuhku? Aku benar-benar asing, ya Allah. Aku asing bagi kotaku, asing bagi keluargaku, dan kini aku merasa asing bagi tubuhku sendiri.”

Namun, di tengah keputusasaan itu, ia teringat sebuah hadis yang pernah ia baca: "Berbahagialah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)."

Ia mencoba tersenyum di balik cadarnya, meski senyum itu terasa getir. Ia menyadari bahwa di dunia yang serba riuh ini, menjadi "tidak berarti" mungkin adalah sebuah anugerah tersembunyi. Karena dengan tidak memilik apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa, ia tidak memiliki beban untuk pergi kapan saja.

Elena menyeret langkahnya kembali ke apartemen. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang amat tinggi. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai—babak di mana ia harus berdamai dengan kesunyian yang permanen.

Navigasi & Informasi untuk Pembaca:
Bab ini menekankan pada perasaan keterasingan sosial yang dialami oleh banyak mualaf di lingkungan sekuler. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami isolasi serupa, Anda dapat mencari komunitas pendukung melalui Islamic Relief International atau Muslim Aid.

Pantau terus kisah Elena di Bab 5: Sajadah yang Basah oleh Pertanyaan, di mana ia mulai menghadapi kenyataan medis yang akan mengubah pandangannya tentang sisa umur yang ia miliki. Temukan informasi kesehatan dan dukungan emosional di Psychology Today.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default