Malam di Puruk Cahu selalu punya irama tersendiri bagi Nadira Asfia. Di teras rumahnya yang bergaya panggung modern, ia tidak hanya menghirup udara malam Kalimantan yang segar, tetapi juga menikmati sebuah pemandangan yang baginya adalah meditasi visual: deretan toples kaca berisi ikan Cupang koleksi putrinya, Tiara Andini.
Sebagai seorang Guru Bahasa Indonesia, Nadira adalah pemuja keteraturan. Baginya, menyusun toples ikan harus sama rapinya dengan menyusun subjek, predikat, dan objek dalam sebuah kalimat efektif. Tidak boleh ada air yang keruh, tidak boleh ada toples yang miring.
"Tiara, perhatikanlah," ujar Nadira sambil menunjuk seekor ikan Cupang jenis Halfmoon berwarna biru metalik. "Ikan ini tidak sekadar berenang. Ia sedang menari di atas kanvas air. Gerakannya adalah majas personifikasi yang nyata."
Tiara, yang baru berusia enam tahun, menatap ibunya dengan dahi berkerut. "Majas itu apa, Ma? Bisa dimakan ikan?"
Nadira terkekeh, suara tawa yang masih sama renyahnya dengan saat ia masih menjadi primadona di SMA tahun 2013. "Bukan, Sayang. Majas itu keindahan dalam kata-kata. Sama seperti ikanmu, dia adalah keindahan dalam air."
Nadira kemudian mengambil sebuah botol kecil berisi vitamin ikan. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, seolah sedang melakukan praktikum laboratorium. Pikirannya mendadak terlempar kembali ke kejadian di pasar sore tadi. Pertemuannya dengan Muhammad Hifni bukan sekadar reuni biasa. Ada sesuatu yang janggal dalam dadanya—bukan cinta, melainkan sebuah pengingat tentang waktu yang berlari sangat cepat.
Dulu, Hifni adalah remaja yang sering meminjamkan buku catatan sejarah kepadanya. Sekarang, lelaki itu adalah seorang abdi negara yang tampak kaku namun hangat saat menggendong putrinya. Nadira merasa lucu bagaimana garis takdir menarik mereka kembali ke titik yang sama di Puruk Cahu, kota kecil yang dikelilingi rimbunnya hutan.
"Ma, tadi Ayah Khalisah bilang ikan Mas Koki itu lucu karena pipinya tembem," sela Tiara, membuyarkan lamunan Nadira. "Tapi Tiara bilang ke Khalisah, ikan Cupang kita lebih keren karena dia pemberani. Dia tidak butuh teman untuk merasa kuat."
Nadira tersenyum bangga. "Benar. Tapi ingat, dalam hidup kita juga butuh silaturahmi. Seperti kata pepatah, 'Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jasa'. Kita harus tetap baik pada Khalisah dan ayahnya, karena mereka adalah bagian dari masa lalu dan masa kini kita."
Tiba-tiba, dari arah bawah kursi jati, muncul Pujangga, kucing Persia abu-abu milik mereka yang sangat gemuk. Pujangga adalah pengecualian dalam hidup Nadira yang serba teratur. Kucing itu seringkali "typo" dalam bertingkah laku. Malam ini, Pujangga tampak sangat tertarik pada gerakan ekor ikan di dalam toples paling pinggir.
"Pujangga!" tegur Nadira dengan nada bicara yang sangat baku namun tegas. "Hentikan niat implisitmu itu. Jangan biarkan naluri predator mengalahkan etika bertamu di meja ikan ini!"
Pujangga hanya mengeong malas, lalu merebahkan diri tepat di depan deretan toples, seolah-olah dia adalah penjaga keamanan yang sedang mogok kerja.
Nadira menghela napas. Baginya, memelihara hewan—baik ikan maupun kucing—adalah cara melatih rasa kemanusiaan. "Besok, Tiara, kita akan pastikan Satria (ikan cupang favorit Tiara) dalam kondisi terbaik. Siapa tahu, suatu saat nanti kita akan mengunjungi rumah Khalisah."
Dalam hati, Nadira mulai menata kalimat. Jika suatu saat ia harus bertemu dengan istri Hifni, ia harus memastikan bahwa tata bahasanya tetap sempurna dan tidak ada kesan "reuni mantan" yang akan merusak diksi persahabatan mereka yang baru tumbuh.
Tips Khusus Pecinta Ikan & Kucing (SEO Friendly):
Bagi Anda yang memiliki kucing seperti Pujangga namun ingin memelihara ikan hias, gunakanlah rak yang stabil dan berat. Kucing cenderung suka melompat ke tempat yang goyang. Anda bisa mencari Rak Akuarium Besi Minimalis untuk memastikan keamanan koleksi ikan Anda dari jangkauan hewan peliharaan lainnya. Selalu pastikan area sekitar akuarium kering agar tidak mengundang kucing untuk bermain air.
