Kehidupan di kediaman Aisyah Humaira tidak pernah benar-benar sunyi, bahkan ketika malam baru saja beranjak pergi dan digantikan oleh semburat oranye di ufuk timur. Namun, pagi ini ada suasana yang sedikit berbeda. Tidak ada suara Muezza yang mengeong keras meminta sarapan, juga tidak ada suara Maryam yang menyanyi di kamar mandi. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencurigakan dari arah kamar Zaid.
Aisyah, yang baru saja selesai merapikan mukenanya setelah dzikir pagi, melangkah perlahan menuju kamar putra sulungnya. Ia mendapati Zaid sedang duduk bersila di atas sajadahnya dengan tangan terangkat tinggi, mulutnya komat-kamit dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Pipinya yang biasanya tembam ceria, kini tampak sedikit pucat.
"Ya Allah... tolonglah hamba-Mu ini. Jadikanlah sekolah hari ini libur nasional mendadak. Atau setidaknya, jadikanlah Ibu Guru Aminah lupa membawa tasnya, atau jadikanlah perut hamba sedikit mules agar tidak perlu berangkat..." bisik Zaid dengan nada penuh kepasrahan yang melodramatis.
Aisyah bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada, menahan tawa yang hampir meledak. "Zaid, Sayang, Umi tidak tahu kalau doa subuhmu sekarang sudah berubah menjadi sesi negosiasi darurat dengan langit. Ada apa? Apakah ini tentang ujian matematika yang kamu lupakan semalam karena asyik membangun istana robot?"
Zaid tersentak, bahunya merosot. "Umi... bagaimana Umi bisa tahu? Matematika itu sulit, Umi. Rumus pembagian dan perkalian pecahan itu rasanya lebih rumit daripada membedakan mana kucing Muezza dan mana kucing tetangga kalau sedang gelap!"
Aisyah masuk dan duduk di samping putranya. "Zaid, dalam Islam, kita mengenal konsep Ikhtiar dan Tawakkal. Berdoa itu wajib, tapi berdoa tanpa belajar itu namanya 'menguji kesabaran malaikat'. Allah mencintai hamba-Nya yang berusaha sekuat tenaga, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya."
Zaid menghela napas panjang. "Tapi Umi, aku sudah telat untuk belajar. Apakah tidak ada doa 'cepat pintar' dalam satu menit?"
"Ada," jawab Aisyah sambil mengacak rambut Zaid. "Doanya adalah: 'Bismillah, saya akan berusaha jujur dan tidak menyontek'. Ayo, segera bersiap. Umi akan buatkan sarapan 'Nutrisi Otak' yang istimewa pagi ini!"
Di meja makan, suasana kembali hidup. Umar sudah rapi dengan kemeja kerjanya, sedang menyesap teh hangat sambil membaca berita tentang arsitektur berkelanjutan di tabletnya. Saat Zaid duduk dengan wajah lesu, Umar memberikan semangat dengan caranya yang khas—logis namun hangat.
"Zaid, Ayah dulu juga pernah benci matematika. Tapi Ayah sadar, tanpa matematika, gedung yang Ayah bangun tidak akan tegak lurus. Gedung itu bisa miring seperti menara Pisa, dan Ayah akan jadi arsitek paling terkenal karena kesalahan arsitektur," ujar Umar sambil terkekeh. "Ujian itu bukan untuk menghukummu, tapi untuk melihat sejauh mana kamu memahami petualangan angka."
Zaid akhirnya berangkat ke sekolah dengan berat hati namun penuh dengan bekal doa (dan roti gandum selai kacang buatan Aisyah). Namun, inilah titik di mana "komedi kehidupan" keluarga Humaira kembali bermain.
Siang harinya, Aisyah sedang asyik merangkai bunga di ruang tamu ketika pintu depan terbuka dengan suara keras. Zaid masuk dengan wajah yang sangat bingung, tidak terlihat sedih, tapi juga tidak terlihat senang.
"Umi... doa aku tadi pagi terkabul, tapi sepertinya alamatnya sedikit tertukar," ucap Zaid sambil meletakkan tasnya.
Aisyah mengerutkan kening. "Maksudmu? Ibu Guru Aminah lupa membawa tas?"
"Bukan, Umi. Saat ujian baru berjalan sepuluh menit, tiba-tiba sekolah gempar. Bukan karena banjir atau libur, tapi karena ada seekor kambing milik warga sekitar yang lepas dan masuk ke ruang kelas kami! Kambing itu berlari ke meja Ibu Guru Aminah dan... dia memakan tumpukan kertas soal ujian matematika yang ada di meja!"
Aisyah ternganga, lalu tawanya pecah seketika. "Kambing? Memakan soal ujianmu?"
"Iya, Umi! Suasana jadi kacau karena para guru mencoba mengejar kambing itu, sementara teman-temanku malah bersorak kegirangan. Ujian akhirnya ditunda sampai besok karena kertas soalnya sudah jadi santapan siang si kambing," cerita Zaid dengan mata berbinar-binar. "Tapi aku jadi merasa bersalah, Umi. Apakah aku berdosa karena mendoakan kekacauan?"
Aisyah memeluk Zaid sambil menghapus air mata tawanya. "Itu namanya kebetulan yang lucu, Zaid. Allah mungkin memberimu waktu satu hari lagi untuk belajar dengan benar. Ingat, kambing tidak akan datang dua kali untuk menyelamatkanmu dari rumus pecahan!"
Sore itu, kediaman Humaira dipenuhi dengan suara Zaid yang menghafal perkalian dengan semangat baru, didampingi oleh Maryam yang ikut-ikutan menghitung jumlah kaki Muezza. Aisyah menyadari bahwa terkadang, Allah memberikan jawaban atas doa kita dengan cara yang paling tidak terduga dan penuh humor, hanya untuk mengingatkan kita agar tetap berusaha dan selalu bersyukur atas setiap momen kecil dalam hidup.
