Sore harinya, setelah istirahat sejenak dari petualangan pasar terapung yang basah, Anindya mengajak Aisha untuk menghadiri majelis taklim rutin di lingkungan perumahan mereka. Majelis ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya ibu-ibu cerdas yang aktif berorganisasi dan mengurus keluarga.
"Aisha, kamu harus ikut. Ibu-ibu di sini seru-seru. Siapa tahu kamu bisa berbagi kisah mualafmu, bisa jadi inspirasi," bujuk Anindya.
Aisha, yang pada awalnya sedikit ragu karena merasa belum fasih dalam berbicara di depan umum, akhirnya luluh oleh bujukan Anindya. "Baiklah, Anin. Insya Allah aku coba."
Mereka berdua mengenakan busana muslimah yang serasi, Anindya dengan gamis motif batik dan Aisha dengan abaya modern berwarna emerald green yang membuatnya terlihat anggun.
Di lokasi majelis—sebuah aula kecil di dekat masjid komplek—sudah ada puluhan ibu-ibu yang duduk rapi beralaskan karpet, mengaji bersama. Suasana terasa sangat Islami dan hangat. Anindya, sebagai salah satu anggota aktif, disambut dengan ramah.
"Assalamualaikum, Bu Anindya. Wah, cantik sekali temannya?" sapa Ibu Ketua Majelis, tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam, Bu. Ini sahabat saya dari Korea Selatan, namanya Aisha Kim. Mualaf, Bu," Anindya memperkenalkan Aisha dengan bangga.
Seketika, Aisha menjadi pusat perhatian. Ibu-ibu menyambutnya dengan senyum hangat dan ucapan salam. Aisha duduk di samping Anindya, merasa sedikit canggung namun juga tersentuh oleh keramahan mereka.
Setelah sesi mengaji dan ceramah singkat dari ustadzah setempat tentang pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan Islam), tiba saatnya sesi berbagi pengalaman. Anindya mengangkat tangan dan mengusulkan Aisha untuk bercerita.
Aisha maju ke depan dengan sedikit gugup. Ia memegang mikrofon dan memulai kisahnya, kali ini dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata namun tulus, dibantu terjemahan oleh Anindya sesekali.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ibu-ibu..."
Aisha memulai ceritanya dari masa lalunya sebagai Kim Sora, chef yang sukses di Seoul, namun merasa kosong secara spiritual. Ia bercerita tentang pencariannya akan ketenangan, tentang pertemuannya dengan Islam, dan perjuangannya menghadapi tantangan keluarga dan lingkungan kerja di Korea yang didominasi non-muslim.
"Di Korea, sangat sulit menemukan makanan halal yang terjamin. Saya harus belajar memasak semuanya sendiri, memastikan bahan yang saya gunakan benar-benar halal. Saat itulah saya sadar, Islam mengajarkan kita untuk teliti dan menjaga kesehatan, baik fisik maupun spiritual," cerita Aisha.
Ia juga berbagi tentang bagaimana Anindya membantunya selama proses mualaf, mengiriminya buku-buku Islami dan dukungan moral melalui pesan daring. Ceritanya menyentuh hati para ibu di majelis. Beberapa terlihat menyeka air mata haru.
"Islam datang kepada saya bukan dari ceramah yang formal, tapi dari keramahan orang Indonesia, dari keteguhan hati Anindya mencari makanan halal di Manchester dulu. Hidayah itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari negara yang jauh seperti Korea Selatan," tutup Aisha, dengan mata berkaca-kaca.
Aula majelis mendadak hening, lalu riuh dengan tepuk tangan dan ucapan takbir. Ibu-ibu berebut menyalami Aisha, memeluknya, dan memberikan semangat.
"Masya Allah, Mbak Aisha. Kisahnya luar biasa. Kami yang hidup di negara mayoritas muslim kadang lalai, tapi Mbak yang di Korea malah kuat sekali imannya," ujar salah satu ibu.
Anindya tersenyum bangga melihat sahabatnya yang kini telah bertransformasi menjadi sosok muslimah yang inspiratif.
Malam harinya, di rumah, keluarga Ryley berkumpul di ruang tamu, menikmati teh hangat dan bingka kentang yang dibeli dari pasar tadi pagi. Aisyah Humaira, si sulung, terlihat sangat terinspirasi oleh kisah Aisha.
"Tante Aisha keren banget. Aisyah jadi makin semangat dakwah di kampus," katanya berbinar.
Maryam Safiya mengeluarkan buku sketsanya dan menunjukkan gambar Aisha yang sedang bercerita di majelis taklim tadi sore. Gambarnya indah dan hidup.
"Bagus sekali gambarmu, Maryam," puji Aisha tulus. Maryam tersenyum malu.
Lev Ryley, yang masih sedikit canggung setelah insiden tercebur sungai, mencoba mencairkan suasana. "Tante Aisha, besok Abi akan ajak ke tempat yang lebih keren lagi. Dijamin nggak bakal kecebur," katanya sambil melirik Anindya.
Anindya tertawa. "Besok kita ke Menara Pandang dan Siring Sungai Martapura, Aisha. Pemandangannya indah saat matahari terbenam."
Aisha mengangguk antusias. Ia merasa sangat diterima di keluarga ini. Lebih dari sekadar liburan, kunjungannya ke Banjarmasin mulai terasa seperti perjalanan spiritual yang penuh makna dan kebahagiaan slice-of-life yang sederhana.
