Bab 15: Insiden Masak-Masakan

Bab 15: Insiden Masak-Masakan

Lev
0

Setelah drama cemburu dari Pak Riko, Vania merasa perlu untuk menjernihkan pikiran. Ia tidak ingin Lev salah paham dan mengira ia sengaja memancing kecemburuan. Di sisi lain, ia juga tidak ingin Pak Riko terlalu berharap. Vania memutuskan untuk fokus pada proyek sekolah yang sedang ia kerjakan bersama Lev.

Suatu sore, setelah pulang sekolah, Vania menerima pesan dari Lev.

Lev: Vania, bagaimana kalau kita diskusi proyek di luar sekolah? Kebetulan saya sedang ada di dekat rumah Anda. Sekalian saya bisa melihat koleksi buku Anda.

Vania terkejut. Lev tahu rumahnya? Tentu saja. Ia kan sudah mengantarkan Vania pulang beberapa kali setelah mereka diskusi proyek di kafe. Vania membalas pesan Lev.

Vania: Boleh. Anda sudah makan? Kalau mau, saya bisa masakin.

Vania langsung menyesal setelah mengirimkan pesan itu. Memasak bukanlah keahliannya. Apalagi masakan Banjar. Ia lebih jago memesan makanan online. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ia harus tetap maju.

Tak lama kemudian, Lev sampai di rumah Vania. Vania membukakan pintu dengan senyum yang dipaksakan.

"Assalamualaikum," sapa Lev.

"Waalaikumsalam," jawab Vania. "Silakan masuk, Lev."

Lev masuk ke dalam rumah. Ia melihat-lihat koleksi buku Vania yang tersusun rapi di rak.

"Banyak sekali koleksi buku Anda," kata Lev.

"Saya memang suka membaca," jawab Vania. "Oh, iya. Saya masakin makan siang dulu, ya."

"Tidak perlu repot-repot, Vania," kata Lev.

"Tidak apa-apa. Sudah terlanjur," Vania tersenyum.

Vania langsung menuju ke dapur. Ia membuka lemari es, mencari bahan-bahan yang bisa ia gunakan. Ia menemukan ikan patin, bahan utama dari masakan khas Banjar, yaitu gulai patin. Vania merasa yakin ia bisa memasaknya. Ia pernah melihat resepnya di YouTube.

Vania mulai memasak. Ia memotong ikan patin, menyiapkan bumbu, dan mulai menumis. Namun, ia lupa bahwa ia harus mencampurkan bumbu-bumbu tersebut sesuai takaran. Ia memasukkan semua bumbu tanpa menakarnya.

Saat gulai patin sudah jadi, Vania menyajikannya di meja makan. Aroma gulai patin yang seharusnya harum, justru tercium aneh. Vania mencicipinya sedikit, dan rasanya... asin sekali. Vania panik.

"Lev! Makanannya sudah siap!" seru Vania.

Lev datang ke meja makan. Ia mencium aroma gulai patin yang aneh.

"Bau apa ini?" tanya Lev, sambil tersenyum.

"Gulai patin. Saya masak sendiri," jawab Vania, merasa malu.

Lev mengambil sendok, mencicipi gulai patin itu. Ekspresinya langsung berubah. Ia mencoba menelan, tapi rasanya sangat asin. Lev mencoba menahannya, tapi akhirnya ia menyerah dan meminum air putih yang ada di depannya.

"Vania... ini... asin sekali," kata Lev, berusaha menahan tawa.

"Maaf, Lev. Saya tidak jago masak," Vania menunduk.

Lev tertawa. "Tidak apa-apa. Ini pengalaman baru buat saya."
Vania merasa semakin malu. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi... Anda tetap cantik kok, meskipun tidak jago masak," kata Lev, dengan nada menggoda.

Vania terkejut. Ia merasa pipinya memanas.

"Bagaimana kalau kita pesan makan online saja?" Lev mengusulkan.

Vania mengangguk. Mereka pun memesan makanan online. Selama menunggu, mereka membicarakan tentang proyek sekolah, dan sesekali Vania menceritakan kekonyolannya saat memasak. Lev tertawa mendengarnya.

"Saya kira Anda wanita yang sempurna. Ternyata tidak," kata Lev.

"Tidak ada yang sempurna, Lev," jawab Vania.

"Saya senang Anda tidak sempurna," Lev tersenyum. "Karena itu yang membuat Anda menarik."

Vania merasa jantungnya berdebar kencang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa bersikap profesional di depan Lev, dan semoga ia tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu Lev Ryley.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default