Bab 20: Duel Turnamen Petualang Agung - Vania Larasati vs Pemanah Elit & Pertarungan Kecepatan RPG Fantasi

Bab 20: Duel Turnamen Petualang Agung - Vania Larasati vs Pemanah Elit & Pertarungan Kecepatan RPG Fantasi

Lev
0

Babak pertama Turnamen Petualang Agung Aethelgard dimulai. Tim "Tiga Sekawan" diadu melawan tim "Iron Fist", tiga pria bertubuh besar dengan zirah berat. Aturan turnamen babak pertama adalah pertarungan duel satu lawan satu.

Pembawa acara yang bersemangat mengumumkan pertandingan pertama: “Duel Pembuka Turnamen Agung! Vania Larasati dari ‘Tiga Sekawan’ melawan Brutus dari ‘Iron Fist’!”

Brutus adalah pria kekar dengan kapak perang raksasa. Vania, si pemanah lincah, berdiri di seberangnya di arena, busurnya siap. Penonton bersorak riuh.

“Mulai!”

Brutus, dengan zirah beratnya, berlari ke arah Vania. Gerakannya lambat tapi kuat.

“Terlalu lambat!” Vania mencibir. Dia melesat ke samping, menghindari serangan kapak Brutus yang menghantam lantai arena, menciptakan retakan besar.

Vania mulai menembakkan rentetan panah ke arah Brutus. Clang! Clang! Panah-panah itu hanya memantul dari zirah besi Brutus.

“Pertahanannya terlalu kuat!” Vania sadar.

Brutus tertawa. “Zirah besi ksatria sejati tidak bisa ditembus panah kecilmu, nona muda!”

Vania harus mengubah strategi. Dia butuh bantuan dari Lev dan Anastasya, tapi aturan duel melarang mereka ikut campur. Dia harus mengandalkan kelincahannya dan strategi cerdasnya sendiri.

Dia mengingat latihan mereka dan ramen ajaib Anastasya yang memberinya stamina ekstra. Dia mulai berlari mengelilingi arena, memaksa Brutus mengejarnya.

“Capek deh! Cuma bisa lari!” ejek Brutus.

“Justru!” Vania terus berlari, membuat Brutus yang berat mulai kelelahan. Keringat bercucuran dari dahi Brutus.

“Anastasya bilang, kelemahannya adalah panas!” Vania menyadari. Zirah besi akan menyerap panas dan menjadi sangat panas jika dipanaskan terus menerus.

Vania mulai menembakkan panah api ke zirah Brutus secara konsisten. Satu panah, dua panah, tiga panah. Brutus mulai merasa panas di dalam zirahnya.

“Hei! Curang! Ini panas!” gerutu Brutus, gerakannya mulai melambat.

Vania melihat celah. Brutus melambat dan mulai melepas helmnya karena panas. Vania membidik dengan hati-hati.

“Panah Api Terfokus!” Vania menembakkan satu panah api terakhir ke celah di zirah Brutus yang terbuka sedikit di leher.
Panah itu menembus celah dan mengenai kulit Brutus. Brutus menjerit kesakitan, terhuyung, dan akhirnya jatuh tersungkur.

“Pemenangnya: Vania Larasati dari ‘Tiga Sekawan’!”
 Pembawa acara mengumumkan.

Penonton bersorak riuh. Lev dan Anastasya tersenyum bangga. Vania melambai ke penonton dengan penuh kemenangan, menikmati perhatian. 

Pertandingan kedua diumumkan: “Lev Ryley dari ‘Tiga Sekawan’ melawan Grog dari ‘Iron Fist’!”

Grog adalah pria besar lain dengan palu perang raksasa. Lev melangkah ke arena dengan gugup. Ini duel pertamanya sendirian. Dia harus mengandalkan monster uniknya.
“Mulai!”

Grog langsung berlari ke arah Lev, mengangkat palunya. Lev segera memanggil Sippy dan Chicky.

“Sippy, lendir licin di depan Grog! Chicky, Peck Attack!”
Sippy membuat area licin, Grog tergelincir. Chicky langsung melompat ke wajah Grog dan mematuk matanya. Grog menjerit kesakitan, sama seperti Brutus sebelumnya.

Lev kemudian memanggil Bulby. “Bulby, spore bomb ke arah Grog yang jatuh!” Bulby menembakkan spora.

“Detonation!” BOOM! Asap busuk menyelimuti Grog yang sudah jatuh.

Grog pingsan karena bau busuk dan patukan Chicky. Pertandingan selesai dalam hitungan detik.

“Pemenangnya: Lev Ryley dari ‘Tiga Sekawan’!”

Penonton terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak melihat metode kemenangan Lev yang konyol dan bau. Lev hanya mengangkat bahu dan kembali ke timnya.

Pertandingan ketiga: “Anastasya dari ‘Tiga Sekawan’ melawan Korg dari ‘Iron Fist’!”

Korg adalah yang terbesar dari mereka bertiga, dengan perisai raksasa dan pedang panjang. Dia terlihat marah melihat teman-temannya kalah konyol.

“Mulai!”

Korg menyerang Anastasya dengan marah. Anastasya tetap tenang.

“Frost Shard,” Anastasya meluncurkan paku es. Korg menangkisnya dengan perisai besinya.

“Void Blast!” Anastasya meluncurkan sihir void yang kuat. Korg menahannya dengan perisainya, tapi perisainya retak.
Korg panik dan menyerang lebih brutal. Anastasya menghindar dengan gesit (berkat ramen ajaib?). Dia kemudian meluncurkan mantra kompleks.

“Ice Bind!” Tali es keluar dari tanah dan mengikat kaki Korg. Korg jatuh, tidak bisa bergerak.

Anastasya berjalan mendekat, mengangkat tongkatnya. “Inferno Burst!” Bola api besar menghantam Korg yang terikat, melumpuhkannya.

“Pemenangnya: Anastasya dari ‘Tiga Sekawan’!”

Penonton bersorak lagi, terkesan dengan kekuatan dan ketenangan Anastasya. Tim "Tiga Sekawan" menang sempurna 3-0 di babak pertama.

Mereka kembali ke area tunggu dengan bangga. Kemenangan ini membuktikan bahwa strategi unik, kelincahan, dan sihir kuat mereka bisa mengalahkan kekuatan fisik murni. Turnamen baru saja dimulai, dan mereka sudah menjadi tim favorit penonton (dan yang paling lucu). Petualangan RPG fantasi mereka di arena turnamen terus berlanjut.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default