BAB 6: Cahaya Sebelum Senja di Hutan Pinus

BAB 6: Cahaya Sebelum Senja di Hutan Pinus

Lev
0
Simak kisah pilu Lev Ryley melepaskan Vania Larasati di Banjarbaru. Sebuah novel Islami tentang kanker dan keikhlasan. 

Banjarbaru, 20 Juni 2026

Lev Ryley menghentikan mobilnya di pinggir jalan kawasan Mentaos. Di hadapannya, deretan pohon pinus berdiri tegak, menyaring cahaya matahari sore menjadi garis-garis emas yang jatuh ke permukaan tanah yang tertutup jarum pinus kering. Sebelas tahun telah berlalu, namun aroma khas hutan pinus ini selalu berhasil menarik Lev kembali ke bulan Juni 2015.

"Hari itu, kamu terlihat begitu sehat, Van. Sampai aku lupa kalau maut sedang mengintai di balik senyummu," bisik Lev pada kursi kosong di sampingnya. Di tahun 2026 ini, Hutan Pinus Mentaos telah menjadi tempat wisata yang ramai, namun bagi Lev, tempat ini adalah saksi bisu dari "hadiah terakhir" yang diberikan Allah sebelum kegelapan total menyelimuti hidupnya.

Banjarbaru, Juni 2015

Dua minggu setelah Idul Fitri, sebuah keajaiban seolah terjadi. Vania, yang sebelumnya hanya bisa terbaring pucat di RSUD Idaman, tiba-tiba menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Hasil laboratoriumnya memang tidak membaik secara signifikan, namun fisiknya mendadak bugar. Wajahnya yang semula layu kembali merona, dan nafsu makannya meningkat drastis.

Dokter menyebutnya sebagai fase stabil sementara, namun bagi Lev, ini adalah jawaban atas doa-doanya yang tak putus di sepanjang malam Ramadhan.

"Lev, aku ingin keluar sebentar. Aku rindu menghirup udara Banjarbaru tanpa bau karbol rumah sakit," pinta Vania pagi itu. Ia mengenakan gamis berwarna hijau zamrud dan khimar yang serasi. Meski kepalanya masih ditutupi turban karena rambutnya belum tumbuh, binar di matanya mengalahkan terangnya sinar matahari.

Dengan izin dokter dan pengawalan ketat dari Lev, mereka pergi menuju Hutan Pinus Mentaos.

Siang itu, udara Banjarbaru terasa sangat sejuk. Vania berjalan perlahan di antara pepohonan, menghirup dalam-dalam aroma pinus yang menenangkan. Lev berjalan tepat di sampingnya, tangannya selalu siaga jika tiba-tiba Vania merasa limbung. Namun, hari itu Vania tampak sangat kuat.

"Lihat, Lev! Pohon-pohon ini tetap tegak meskipun angin bertiup kencang," Vania menyentuh batang pohon pinus yang kasar. "Mereka mengajarkan kita tentang keteguhan. Bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak merasakan sakit, tapi tetap berdiri meski akar kita sedang diuji."

Mereka duduk di salah satu bangku kayu yang ada di sana. Lev membuka bekal yang ia siapkan: wadai untuk (roti goreng khas Banjar) dan teh hangat. Mereka tertawa, mengobrol tentang hal-hal ringan, mulai dari kelucuan dosen di kampus hingga rencana-rencana mustahil yang ingin mereka lakukan jika Vania sembuh total.

"Lev," Vania menatap kejauhan, ke arah sinar matahari yang mulai meredup. "Terima kasih ya, sudah mencintaiku dengan sangat sabar. Terima kasih sudah tidak pergi saat aku terlihat paling buruk."

Lev menggenggam tangan Vania. "Aku tidak pernah merasa sabar, Van. Karena mencintaimu adalah anugerah bagiku. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu mengizinkanku menjadi bagian dari perjalananmu."

Vania tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Lev. Sebuah tindakan yang jarang ia lakukan demi menjaga adab, namun sore itu, seolah ada rasa urgensi yang memaksa. "Kalau nanti aku sudah tidak ada, kamu harus sering-sering ke sini, ya? Hirup udaranya, dan ingatlah bahwa aku sudah tenang di tempat yang lebih hijau dari hutan ini."

Jantung Lev berdegup kencang. "Van, jangan mulai lagi. Kamu sedang sehat, lihat? Kita akan sering ke sini bersama-sama nanti."

Vania hanya terdiam, menutup matanya menikmati hembusan angin. Lev tidak tahu bahwa momen di Hutan Pinus ini adalah "salam perpisahan" yang dikemas Allah dalam bentuk kebahagiaan singkat. Ia tidak menyadari bahwa tubuh Vania sedang menghabiskan sisa energi terakhirnya untuk memberikan kenangan manis sebelum sel-sel kanker kembali mengganas dengan kekuatan yang berlipat ganda.

Sore itu berakhir dengan indah. Mereka pulang dengan hati yang penuh harapan. Namun, saat malam tiba dan Vania kembali ke ranjang rumah sakitnya, suhu tubuhnya mendadak naik drastis. Keceriaan di Hutan Pinus tadi siang seolah-olah hanya mimpi yang menguap begitu saja.

Lev yang baru saja sampai di rumah, kembali dipanggil ke rumah sakit dengan perasaan was-was. Fase "cahaya sebelum senja" itu telah berakhir, dan kini, badai yang sesungguhnya siap menerjang mereka berdua di usia yang baru menginjak 20 tahun.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default