Bab 6: Dermaga Malaka dan Diplomasi "Very Cheap" Nenek Rina

Bab 6: Dermaga Malaka dan Diplomasi "Very Cheap" Nenek Rina

Lev
0
"Ikuti perjalanan seru dan mengharukan Muhammad Hifni dan Rina Rufida dalam Novel Islami 'Bahtera Rindu'. Kisah perjalanan haji dari Martapura tahun 1795 melintasi samudera. Perpaduan sejarah, religi, dan komedi kehidupan keluarga yang menginspirasi."

Terima kasih atas kesabaran Anda menunggu kelanjutan kisah ini. Kita memasuki Bab 6, sebuah bab yang krusial karena untuk pertama kalinya keluarga Hifni akan menginjakkan kaki di tanah asing: Malaka. Bab ini akan menggambarkan bagaimana bahasa, kuliner, dan kecerdasan PNS Martapura diuji di pasar internasional abad ke-18.

Selat Malaka, Juni 1795 Masehi

Setelah berminggu-minggu hanya melihat biru laut dan putihnya buih ombak, teriakan dari arah anjungan kapal memecah keheningan fajar.

"Land ho! Malaka! Melaka terlihat!"

Muhammad Hifni segera membangunkan Rina dan Khalisa yang masih terlelap di atas peti kayu mereka. Hifni merasa perlu merapikan sorbannya dan memastikan catatan keuangannya aman di dalam sabuk kainnya. Baginya, Malaka adalah pusat dunia—tempat bertemunya pedagang Gujarat, Inggris, Tiongkok, dan Arab. Sebagai seorang PNS Kesultanan, ia merasa harus tampil wibawa, meski bajunya sudah sedikit bau garam laut.

"Rina, bangun! Wake up!" seru Hifni, mencoba meniru gaya bahasa istrinya.

Rina Rufida terbangun dengan mata berbinar. Hilang sudah wajah pucat akibat mabuk laut kemarin. "Malaka? Finally! Abah, siapkan kantong kainmu. Aku harus membeli rempah yang tidak ada di Martapura, dan mungkin... kain kerudung baru?"

Khalisa ikut melompat-lompat. "Apa ada naga di Malaka, Ummi?"

"Tidak ada naga, Sayang. Hanya ada banyak orang yang bicara dengan bahasa yang aneh-aneh," jawab Rina sambil sibuk merapikan ulekan batunya yang ia bungkus rapi—takut-takut ada pencuri di pelabuhan yang mengira itu adalah bongkahan emas hitam.

Begitu kapal Bintang Samudera merapat di dermaga Malaka, pemandangan luar biasa tersaji. Hifni terkesima melihat bangunan-bangunan batu dengan arsitektur Eropa dan masjid-masjid beratap tumpang. Namun, tantangan sesungguhnya dimulai saat mereka masuk ke pasar utama dekat pelabuhan.

Rina Rufida langsung berada di garda terdepan. Ia melihat seorang pedagang kain berkebangsaan India-Muslim yang sedang menawarkan dagangannya kepada pelaut Inggris.

"Abah, lihat kain sutra itu. Indah sekali," bisik Rina. Ia mendekat dan mulai melakukan aksinya.

"Excuse me, Mister," sapa Rina dengan percaya diri. Pedagang itu menoleh, terkejut melihat wanita berkerudung khas Banjar bicara bahasa Inggris.

"Yes, Madam? You want silk?" tanya si pedagang.

Rina memegang kain itu, merasakan teksturnya, lalu menggeleng pelan dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih. "No, no... too expensive. This is... not good quality for my Abah," dusta Rina demi menawar harga. "Give me... very cheap price. Discount, please?"

Hifni hanya bisa berdiri di belakang sambil memegangi Khalisa, mulutnya menganga. Ia baru tahu istrinya tahu kata discount. Sementara itu, Khalisa sibuk memperhatikan seorang penjual burung di sudut pasar.

"Abah, lihat! Burungnya bicara seperti Ummi!" seru Khalisa menunjuk seekor burung beo yang menirukan suara orang pasar.

Kejadian lucu terjadi ketika Hifni melihat sebuah tasbih kayu yang diklaim terbuat dari kayu zaitun asli Yerusalem. Hifni yang memang pecinta tasbih segera asyik menawar. Ia menggunakan metode kalkulasi PNS-nya, menghitung nilai tukar mata uang dirham ke mata uang lokal Malaka dengan sangat teliti di atas tanah menggunakan ranting pohon.

"Satu dirham dikurangi biaya angkut, ditambah pajak dermaga... harusnya harganya cuma separuh ini!" gumam Hifni serius.

Ia begitu asyik menghitung sampai tidak sadar bahwa Rina dan Khalisa sudah berjalan jauh ke arah penjual es buah, dan yang lebih parah, lonceng kapal Bintang Samudera sudah berbunyi tiga kali—tanda kapal akan segera angkat sauh!

"Hifni! Muhammad Hifni!" teriak Kapten Daeng Malaka dari kejauhan. "Kalau kau tidak segera naik, kau akan menjadi PNS di kantor pajak Malaka selamanya!"

Hifni tersentak. Ia melihat kapal sudah mulai bergerak perlahan dari dermaga. Dengan panik, ia mengangkat jubahnya, menjepit tasbih di mulutnya karena tangannya penuh membawa bungkusan kertas, dan berlari sekencang mungkin di atas dermaga kayu yang licin.

"Rina! Khalisa! Tunggu akuuu!" teriaknya dengan suara parau.
Rina yang sudah di atas kapal tertawa terpingkal-pingkal sambil melambai-lambaikan sapu tangannya. "Abah! Hurry up! Run, Abah, run!"

Hifni berhasil melompat ke tangga monyet tepat sebelum tangga itu ditarik ke atas. Ia jatuh tersungkur di dek kapal, napasnya tersengal-sengal, tapi tangannya masih memegang erat tasbih kayu zaitunnya.

"Gila..." gumam Hifni sambil terengah-engah. "Ternyata berhaji itu butuh stamina pelari maraton."

Juni 2026

Zain yang membaca catatan ini di beranda rumahnya di Martapura tertawa sampai perutnya kaku. Ia segera mengambil laptopnya dan memperbarui blognya.

"Luar biasa," tulis Zain. "Kakek Hifni hampir saja jadi imigran gelap di Malaka gara-gara menawar tasbih pakai rumus akuntansi PNS. Dan Nenek Rina? Dia adalah pelopor 'Emak-Emak Hunter Discount' di kancah internasional."

Zain menatap ke arah sungai. Ia membayangkan betapa dinamisnya kehidupan kakek buyutnya. Perjalanan haji tahun 1795 bukanlah perjalanan yang kaku dan membosankan. Itu adalah perjalanan penuh warna, penuh risiko, dan penuh tawa.

Zain mengunggah foto tasbih tua yang ia temukan di dalam peti kayu tersebut ke akun Instagram-nya. Tasbih itu sudah menghitam karena usia, namun aromanya masih menyisakan sedikit wangi kayu zaitun.

Caption:

"Hampir tertinggal kapal demi sebuah tasbih dan diskon sutra. Siapa yang menyangka perjalanan haji 231 tahun lalu se-chaotic ini? Pelajaran hari ini: Jangan terlalu lama menghitung matematika di pasar kalau tidak mau ditinggal 'Naga' besar. #Malaka1795 #HajiDiary #ZainHeritage #FunnyHistory"

Pengikut Zain mulai membanjiri kolom komentar.
"Zain, apa Nenek Rina berhasil dapat diskonnya?" tanya seorang netizen.

Zain membalas: "Tunggu Bab 7 bulan depan! Kita akan lihat apakah kain sutra itu benar-benar asli atau hanya akal-akalan pedagang Malaka."

Intip Bab 7 (Juli 2026):

Badai Samudera Hindia: Saat ulekan batu Rina hampir terlempar ke laut saat kapal miring 45 derajat.

Kekhawatiran Hifni: Hifni mulai menulis wasiat darurat di catatan hariannya karena ketakutan melihat ombak setinggi gunung.

Bahasa Langit: Khalisa mulai belajar rasi bintang dari pelaut Bugis untuk mencari arah kiblat.

Pertanyaan untuk Pembaca: "Pernahkah kalian hampir tertinggal pesawat atau kereta karena terlalu asyik belanja? Ayo bagikan cerita tragis-lucu kalian!"

Sampai jumpa di Bab 7 pada bulan Juli 2026!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default