Matahari Madinah mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang pilar-pilar Masjid Nabawi yang artistik. Di saat jamaah lain memilih beristirahat di hotel untuk menyimpan energi sebelum berbuka puasa, keluarga Lev ℛyley justru sedang berada di tengah hiruk-pikuk Pasar Kuria (Qurban Market) dan deretan pertokoan di sekitar Masjid Nabawi.
Anindya Putri berjalan dengan penuh semangat, mata influencer-nya bergerak lincah memindai deretan manekin yang mengenakan abaya hitam pekat dengan bordir perak yang mewah. "Papa, lihat! Bordirnya rapi sekali, beda dengan yang sering Mama lihat di live shopping lokal!" seru Anindya sambil mengeluarkan ponselnya untuk mulai merekam.
Lev ℛyley hanya bisa memijat keningnya. "Ma, kita di sini untuk ibadah, bukan untuk buka cabang butik di Banjarmasin," candanya sambil tetap setia membawakan tas belanja istrinya yang mulai terisi satu-dua potong kain.
Namun, bintang utama hari itu bukanlah Anindya, melainkan putri keduanya, Maryam Safiya. Gadis SMA yang biasanya pendiam dan lebih suka menyendiri dengan buku sketsanya itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko kain kecil yang tersembunyi di sudut pasar. Matanya terpaku pada gulungan kain pashmina berbahan cashmere lembut dengan warna-warna bumi (earth tone).
"Ma, kain ini... teksturnya bagus sekali untuk dibuat model hijab clean look," bisik Maryam pelan.
Melihat minat putrinya, Anindya langsung mendapat ide cemerlang. "Nah! Maryam, ayo kamu jadi modelnya. Mama yang rekam, kamu tunjukkan cara pakai hijab yang syar'i tapi tetap artistik ala Maryam. Followers Mama pasti suka melihat sisi lainmu!"
Meski awalnya ragu dan malu-malu, Maryam akhirnya luluh. Di depan sebuah cermin besar milik toko tersebut, ia mulai melilitkan kain pashmina itu dengan gerakan tangan yang sangat terampil. Bakat seninya mengalir lewat lipatan kain. Tanpa jarum pentul yang berlebihan, hijab itu terpasang sempurna di kepalanya, membingkai wajahnya yang tenang.
Ghina Qalbi yang lincah langsung mengambil peran sebagai asisten sutradara. "Ayo Kak Maryam, senyum sedikit! Ini konten eksklusif 'Maryam's Secret Style' dari Madinah!" seru Ghina sambil membantu mengatur pencahayaan dari lampu toko.
Di saat bersamaan, keluarga Muhammad Hifni dan drg. Dina Yulianti yang sedang mencari kurma muda (rutab) lewat di depan toko tersebut. Rina Rufida dan Dina langsung terhenti melihat pemandangan itu.
"Wah, Maryam cantik sekali pakai model begitu," puji Rina tulus. Sebagai guru Bahasa Inggris, Rina sering memperhatikan estetika cara berpakaian murid-muridnya, dan gaya Maryam menurutnya sangat elegan.
Khalisah Salsabilla dan Naura Salsabilla yang lelah sehabis "patroli kucing" tadi pagi, kini malah tertarik melihat tumpukan bross kecil berbentuk bunga di atas meja toko. "Umma, aku mau satu yang warna pink!" pinta Khalisah.
Hifni dan Lev ℛyley akhirnya berdiri berdampingan di luar toko, senasib menjaga "keamanan" koper dan kantong belanjaan. "Pak Lev, sepertinya urusan IT Anda kalah jauh dibanding urusan koordinasi belanja Ibu-ibu ini ya?" tanya Hifni sambil tertawa.
"Begitulah, Pak Hifni. Di kantor saya bosnya, di sini saya cuma powerbank berjalan," balas Lev humoris, merujuk pada ponsel istrinya yang terus terhubung ke perangkat pengisi daya miliknya.
Kegaduhan kecil di pasar itu ditutup dengan Maryam yang akhirnya membeli kain tersebut—bukan untuk pamer, melainkan karena ia menghargai tekstur kainnya yang langka. Namun bagi Maryam, momen itu lebih dari sekadar belanja; itu adalah caranya berekspresi di tanah suci. Ia merasa, kecantikan dalam Islam bukan tentang kemewahan, tapi tentang kerapian dan kesucian hati yang terpancar dari cara seseorang membawa diri.
Saat azan Maghrib mulai mendekat, mereka semua bergegas kembali ke masjid. Maryam berjalan dengan hijab barunya, merasa lebih percaya diri namun tetap rendah hati. Di belakangnya, Anindya sudah sibuk mengedit video tutorial hijab tersebut untuk diunggah, sementara Lev diam-diam mengambil foto Maryam dari belakang—sebuah foto sederhana yang menunjukkan betapa bangganya ia pada putrinya yang cerdas dan berbakat seni itu.
Wawasan: Belanja di Madinah disarankan dilakukan setelah shalat Subuh atau antara Ashar dan Maghrib untuk menghindari cuaca yang terlalu panas. Jangan lupa menawar dengan sopan menggunakan kata "Rakhis ya ammi" (Murah ya paman).
Rekomendasi: Cari toko kain di daerah Souq Al-Alawi untuk mendapatkan kualitas terbaik dengan harga miring, seperti referensi di TripAdvisor Madinah.
Apakah video tutorial Maryam akan viral di Banjarmasin? Dan bagaimana strategi Aisyah Humaira saat menyadari adik-adiknya mulai kelelahan karena cuaca panas?
Lanjutkan ke Bab 7: Ghina Qalbi: Live Review Nasi Kebuli Langsung dari Sumbernya!
