Bab 9: Maryam dan Jendela Dunianya

Bab 9: Maryam dan Jendela Dunianya

Lev
0

Berbeda dengan hiruk pikuk belanja sang ibu atau aktivitas organisasi sang kakak, Maryam Safiya adalah oase ketenangan di rumah keluarga Levℛyley. Siswi SMA Islami ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan buku sketsa dan kuas cat airnya. Dunia digital baginya bukanlah tempat untuk berburu diskon, melainkan galeri seni tanpa batas dan perpustakaan raksasa.

Suatu sore, Maryam sedang duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke Sungai Martapura yang tenang di kejauhan. Tangannya lincah menggoreskan warna-warna ultramarine blue dan emerald green ke kanvas kecilnya. Dia sedang melukis suasana pasar terapung, namun dengan twist Islami: perahu-perahu pedagang dihiasi dengan bendera kecil bertuliskan kalimat tayyibah.

Anindya masuk ke kamar Maryam dengan setumpuk paket kecil di tangannya. "Maryam, ini paket alat lukis kamu yang datang. Yang ini cat akrilik baru dari toko di Bandung, yang ini kuas fine art dari toko di Surabaya."

Maryam tersenyum lembut dan menerima paket-paket itu. "Makasih, Bu. Aku unboxing ya."

Sambil unboxing, Anindya melihat lukisan Maryam. "Wah, bagus sekali, Nak. Kamu dapat inspirasi dari mana?"

"Dari Pinterest, Bu. Aku lihat banyak lukisan pasar terapung, tapi jarang yang ada sentuhan Islami. Aku ingin membuat karya yang menunjukkan kalau budaya lokal dan nilai agama bisa berjalan beriringan di Banjarmasin," jelas Maryam, matanya berbinar.

Anindya tertegun. Dia seringkali lupa, di balik hobi belanjanya yang kadang terlihat konsumtif, anak-anaknya menggunakan dunia digital dengan cara yang jauh lebih bermakna. Aisyah untuk pendidikan dan sosial, Ghina untuk review jujur, Rayyan untuk edukasi, dan Maryam untuk seni dan dakwah visual.

"Ibu bangga padamu, Maryam," ucap Anindya tulus.

Beberapa hari kemudian, Maryam mendapat kabar gembira dari sekolahnya. Lukisannya terpilih untuk dipamerkan di pameran seni tingkat provinsi di Banjarmasin. Dia sangat senang, namun juga gugup.

"Bu, Yah, lukisan aku mau dipamerkan. Tapi aku butuh bingkai yang bagus dan proper," kata Maryam saat makan malam.
"Beli di toko fisik aja, Kak. Biar bisa langsung lihat ukurannya pas atau nggak," saran Levℛyley, yang masih memegang teguh prinsip kehati-hatian.

"Aku sudah cek beberapa toko di Banjarmasin, Yah. Bingkainya standar semua, warnanya juga itu-itu aja. Aku butuh bingkai kayu jati minimalis yang warnanya putih gading, biar lukisannya lebih menonjol," jelas Maryam. "Aku nemu toko online di Jepara yang spesialis bingkai kayu jati. Review-nya bagus, bisa custom ukuran, dan harganya masuk akal."

Levℛyley mengangkat alisnya. "Jepara? Jauh sekali, Nak. Kamu yakin?"

Anindya menengahi. "Mas, toko Jepara itu terkenal dengan kualitas ukiran dan kayunya. Traffic penjualannya juga tinggi, rating-nya 4,9. Sepertinya aman kok. Lagian, ini untuk pameran seni anak kita, harus yang terbaik."

Akhirnya, Levℛyley mengizinkan. Maryam melakukan checkout bingkai custom pertamanya.

Seminggu kemudian, paket raksasa dari Jepara tiba. Kali ini bukan Pak Ahmad kurir, tapi ekspedisi kargo. Bingkai kayu jati putih gading itu luar biasa indah, persis seperti yang diharapkan Maryam.

Saat pameran seni berlangsung di Banjarmasin, lukisan Maryam yang terbingkai indah itu menjadi pusat perhatian. Banyak pengunjung yang memuji perpaduan unik antara budaya Banjar dan seni Islami. Salah satu juri bahkan bertanya di mana Maryam mendapatkan bingkai seindah itu.

"Saya beli online, Bu," jawab Maryam jujur, sambil tersenyum.
Di acara pameran itu, Maryam tidak hanya berhasil menunjukkan bakat seninya, tapi juga berhasil membuka jendela baru bagi orang lain tentang potensi dunia digital. Jendela yang tidak hanya berisi belanja konsumtif, tapi juga kreativitas, ekspresi diri, dan penyebaran nilai-nilai positif Islami.

Keluarga Levℛyley, yang hadir lengkap malam itu, merasa bangga. Mereka sadar bahwa setiap anggota keluarga, dengan cara mereka masing-masing—baik melalui belanja online yang heboh maupun seni yang tenang—sedang menjalankan 'dakwah digital' versi mereka sendiri di tengah masyarakat Banjarmasin yang beragam.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default