Kehidupan di Anfa, distrik elit Casablanca, cenderung tenang dan privat. Namun, kadang-kadang, dinamika kehidupan bertetangga tetap ada, bahkan di antara orang super kaya. Keluarga Al-Fassi memiliki tetangga sebelah bernama Tuan Khalil, seorang pensiunan diplomat yang hidup lebih konservatif dan bersahaja dibanding keluarga Al-Fassi yang ekspresif secara finansial.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, bel vila Al-Fassi berbunyi. Asisten rumah tangga membukakan pintu, dan Tuan Khalil berdiri di sana, mengenakan djellaba (jubah longgar khas Maroko) katun sederhana.
Zayn, yang baru saja selesai berolahraga di gym pribadinya dan masih mengenakan tracksuit Moncler premium, menyambutnya dengan ramah. "Assalamualaikum, Tuan Khalil. Silakan masuk, silakan."
"Waalaikumussalam, Tuan Zayn. Terima kasih," jawab Tuan Khalil dengan sedikit canggung.
Mereka duduk di ruang tamu. Laila, yang sedang sibuk mengurus pesanan perhiasan barunya, bergabung setelah mengenakan kerudung dan menawarkan teh mint serta kue kering.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Khalil? Apakah ada masalah?" tanya Zayn, sedikit khawatir.
Tuan Khalil berdeham. "Begini, Tuan Zayn. Ini agak sensitif. Anda tahu, saya sangat menghargai privasi dan ketenangan lingkungan kita."
Zayn mengangguk. "Tentu saja. Kami juga."
"Beberapa malam yang lalu, sekitar pukul 3 pagi, ada sedikit... kegaduhan. Terdengar suara mesin mobil yang sangat keras, seperti raungan singa yang marah," jelas Tuan Khalil hati-hati. "Beberapa tetangga juga merasakannya. Kami curiga itu berasal dari garasi Anda."
Zayn dan Laila saling pandang. Mereka tahu persis apa yang dimaksud Tuan Khalil.
"Ah, itu..." Zayn tergagap. "Itu pasti Tariq. Dia baru saja memasang knalpot custom di Porsche-nya."
Tariq, sang pemilik masalah, kebetulan lewat dan mendengar namanya disebut. Dia masuk ke ruang tamu dengan cengengesan. "Assalamualaikum, Om Khalil."
"Waalaikumussalam, Tariq," jawab Tuan Khalil, tatapannya sedikit menghakimi.
"Knalpotnya keren banget, Om. Sound-nya gahar," Tariq mencoba menjelaskan keunggulan modifikasi mobilnya.
Tuan Khalil, yang seumur hidupnya hanya menyetir Peugeot sederhana, tidak terkesan. "Gahar mungkin, Nak, tapi tidak ramah telinga di waktu subuh. Kami orang tua butuh istirahat."
Zayn menengahi. "Mohon maafkan kami, Tuan Khalil. Saya akan pastikan Tariq tidak menyalakan mobilnya di atas jam 10 malam, atau dia harus mengganti knalpotnya kembali ke standar pabrik."
Tariq langsung protes, "Yah, Abi!"
Zayn menatap tajam putranya. "Tidak ada yah-yah-an. Hormatilah tetangga."
Tuan Khalil tersenyum lega. "Terima kasih, Tuan Zayn. Saya tahu Anda orang yang bijak."
Masalah suara knalpot terselesaikan, tetapi Tuan Khalil punya permintaan lain. "Oh iya, Tuan Zayn, mumpung Anda ada di sini. Besok di rumah saya ada acara tahlilan kecil. Insya Allah sederhana saja. Kami butuh tambahan beberapa kursi plastik dan mungkin sound system kecil untuk pengajian."
Wajah Tuan Khalil menunjukkan sedikit keraguan saat meminta barang "sederhana" kepada keluarga yang memiliki lampu kristal Baccarat di ruang tamu.
Zayn tersenyum lebar. "Tentu saja, Tuan Khalil! Kenapa tidak bilang dari tadi? Kami akan kirimkan semua yang Anda butuhkan."
Tuan Khalil menyebutkan beberapa kursi plastik murahan dan speaker kecil. Zayn, dengan kebiasaannya yang suka "meng-upgrade" segala sesuatu, punya ide lain.
"Laila, tolong siapkan 30 kursi lipat kulit dari ruang pesta kita," bisik Zayn ke istrinya. Lalu kepada Tuan Khalil, "Dan soal sound system, kami punya sistem Bose Professional portabel yang tidak terpakai, suaranya jernih sekali untuk pengajian. Kami akan kirimkan besok pagi."
Tuan Khalil terkejut. "Astaghfirullah, Tuan Zayn, tidak perlu yang semewah itu! Kursi plastik saja sudah cukup."
"Tidak apa-apa, Tuan Khalil. Sharaka (persaudaraan) di atas segalanya. Anggap saja amal jariyah kami," kata Zayn.
Tuan Khalil akhirnya pasrah, tahu bahwa menolak tawaran mewah keluarga Al-Fassi hanya akan sia-sia.
Keesokan harinya, mobil van keluarga Al-Fassi datang ke rumah Tuan Khalil, menurunkan puluhan kursi kulit elegan dan sound system Bose canggih. Para tetangga yang datang ke tahlilan terheran-heran melihat acara sederhana Tuan Khalil terasa seperti konferensi internasional karena kualitas audio yang luar biasa jernih.
Keluarga Al-Fassi mungkin punya selera yang sangat mahal, tetapi mereka tahu bagaimana menggunakan kekayaan mereka untuk membantu tetangga, bahkan jika itu berarti memberikan "sentuhan mewah" yang tidak diminta untuk acara tahlilan sederhana.
