Lev menghabiskan sore harinya dengan duduk di teras belakang rumah, memandangi sungai yang mengalir tenang. Tawaran Cindy untuk pergi ke Dresden terus terngiang di benaknya. Ia tidak bisa melupakan ucapan Cindy tentang Vania yang ingin sekali melihat Frauenkirche dan keindahan Dresden. Pikiran untuk pergi ke sana terasa menakutkan, namun pada saat yang sama, juga memberikan secercah harapan.
"Ayah, Ibu," kata Lev, saat melihat orang tuanya duduk di teras, ditemani oleh Tante Rosa dan Pakde Harun. "Aku... aku sudah memutuskan."
Semua mata tertuju pada Lev. Raut wajah mereka dipenuhi harapan.
"Aku akan pergi ke Dresden bersama Cindy," lanjut Lev, suaranya mantap.
Tante Rosa langsung berdiri dan memeluknya. "Alhamdulillah, Nak! Kamu akhirnya mau keluar dari kamar! Tante senang sekali!"
Ayah Lev menepuk bahu putranya. "Kamu yakin, Nak? Ini keputusan yang besar."
"Aku yakin, Ayah," jawab Lev. "Vania selalu ingin pergi ke sana. Aku ingin melihat apa yang dia impikan. Mungkin... dengan begitu, aku bisa merasakan kehadirannya lagi."
Cindy, yang berdiri tak jauh dari sana, tersenyum haru. Ia tahu, Lev membuat keputusan ini bukan karena ingin melupakan Vania, melainkan untuk menghormati kenangan indah mereka.
"Ini bukan tentang melupakan, Lev," kata Cindy, mendekat. "Ini tentang merelakan dan melanjutkan hidup. Vania pasti akan bangga melihatmu."
Lev mengangguk, matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kelegaan.
"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Ibu Lev.
"Tergantung Lev," jawab Cindy. "Semakin cepat semakin baik. Aku sudah rindu salju Dresden."
Lev tersenyum. "Kalau begitu... secepatnya."
Malam harinya, keluarga mengadakan makan malam perpisahan untuk Cindy, dan juga sebagai perayaan kecil atas keputusan Lev. Suasana di meja makan terasa lebih hidup, penuh dengan tawa dan obrolan. Cindy menceritakan kejadian-kejadian lucu yang ia alami selama berada di Banjarmasin, mulai dari insiden boneka bebek hingga pertunjukan dangdutnya. Semua orang tertawa, termasuk Lev.
"Cindy, kamu memang punya bakat jadi komedian," kata Pakde Harun.
"Aku kan dokter psikologi, Pakde," jawab Cindy, dengan bangga. "Terapi humor ini adalah keahlianku."
Meskipun canda dan tawa mendominasi, ada momen haru di tengah-tengah obrolan. Tante Rosa tiba-tiba memeluk Cindy erat. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah membuat Tante dan kami semua bahagia lagi. Kamu sudah membuat Lev kembali."
Cindy membalas pelukan Tante Rosa. "Bukan aku, Tante. Lev yang membuat keputusan ini. Aku hanya membantunya menemukan jalannya."
Malam itu, Lev dan Cindy menghabiskan waktu di teras, memandangi bintang-bintang.
"Terima kasih, Cindy," kata Lev, suaranya tulus. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tidak datang."
"Kamu akan baik-baik saja, Lev," jawab Cindy. "Kamu punya keluarga yang mencintai kamu. Kamu hanya butuh waktu untuk membuka hati lagi."
Lev menatap Cindy. "Aku tahu. Tapi... kamu membuat semuanya terasa lebih ringan. Dan tawaranmu untuk ke Dresden... itu seperti harapan baru untukku."
"Sama-sama," kata Cindy. "Persiapkan dirimu, Lev. Dresden itu bukan Banjarmasin. Di sana, kamu tidak akan menemukan sungai yang mengalir tenang seperti ini. Tapi kamu akan menemukan keindahan yang lain."
"Aku siap," jawab Lev.
Malam itu, di bawah langit Banjarmasin yang bertabur bintang, Lev akhirnya menemukan secercah harapan. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa melupakan Vania. Tapi ia juga tahu, hidup harus terus berjalan. Dan dengan kehadiran Cindy, seorang sepupu yang konyol tapi penuh kasih, ia siap melangkah maju, menuju lembaran baru di Dresden.
