Bab 18: Kesenjangan Bahasa

Bab 18: Kesenjangan Bahasa

Lev
0

Lev Ryley tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedikit cemas karena harus bepergian sendirian, tapi juga bersemangat karena akan mengunjungi Iran, sebuah negara yang memiliki sejarah dan kebudayaan Islam yang luar biasa kaya. Ia tahu, Fatimah sudah menunggu kedatangannya. Fatimah akan menjadi pemandunya selama di sana, menggantikan Khadijah dan Aisyah.

"Assalamu'alaikum, Fatimah!" sapa Lev saat melihat Fatimah melambaikan tangan dari kejauhan.

"Wa'alaikumussalam, Lev! Kamu baik-baik saja?" tanya Fatimah, memeluk Lev dengan hangat.

"Alhamdulillah. Aku baik-baik saja. Mesir... luar biasa. Tapi Kairo... lebih padat daripada Banjarmasin," jawab Lev, yang langsung disambut tawa oleh Fatimah.

Fatimah, yang sudah berpengalaman di Iran, menjelaskan beberapa hal penting kepada Lev. "Di sini, kita tidak bisa bicara bahasa Arab, Lev. Mereka bicara bahasa Persia atau Farsi. Meskipun hurufnya hampir sama, tapi tata bahasa dan pengucapannya sangat berbeda."

"Oh, begitu," kata Lev. "Aku pikir sama saja."

"Itu kesalahan banyak orang," jawab Fatimah. "Jadi, kalau kamu mau pesan makanan, jangan pakai bahasa Arab. Pakai bahasa Inggris saja, atau suruh aku yang pesan."

Lev mengangguk, merasa sedikit lega. Ia tidak ingin mengulangi kekonyolan seperti saat memesan jus tebu di Kairo.

Mereka naik taksi menuju hotel. Di dalam taksi, Fatimah menjelaskan tentang perbedaan budaya antara Mesir dan Iran. "Di sini, masyarakatnya lebih konservatif. Jadi, kamu harus lebih berhati-hati. Apalagi kalau mau ambil foto."

"Oh, begitu," kata Lev. "Aku akan ingat itu."

Setelah check-in, mereka memutuskan untuk mencari makan malam. Fatimah membawa Lev ke sebuah restoran kecil yang menyajikan hidangan tradisional Persia. Saat Fatimah memesan makanan, Lev mencoba untuk memesan minuman dengan bahasa Inggris.

"Satu... water," kata Lev kepada pelayan.

Pelayan itu menatapnya dengan bingung. "Air? No, no. Air... bukan water."

Fatimah yang melihat kebingungan itu, langsung menimpali. "Dia mau air putih, Mas. Ab."

"Oh, ab," kata pelayan itu, tersenyum. "Oke, ab."

Lev merasa malu. Ia pikir, bahasa Inggris bisa digunakan di mana-mana. Ternyata, tidak semua orang bisa berbahasa Inggris.

"Lihat kan, Lev? Bahasa itu penting," kata Fatimah. "Dan tidak semua orang bisa berbahasa Inggris. Apalagi di tempat-tempat seperti ini."

"Aku akan belajar, Fatimah," kata Lev. "Aku akan belajar bahasa Persia."

Malam itu, mereka menikmati makan malam dengan hidangan tradisional Persia yang lezat. Fatimah menceritakan tentang perjuangannya sebagai penulis lepas di Iran. Ia menceritakan tentang bagaimana ia harus berhati-hati dalam menulis, bagaimana ia harus pintar-pintar memilih kata. Lev mendengarkan dengan saksama.

"Di sini, menulis itu seperti bermain catur," kata Fatimah. "Setiap langkah harus diperhitungkan. Salah langkah sedikit, bisa berbahaya."

"Aku mengerti," kata Lev. "Tapi kamu tetap menulis?"
"Tentu," jawab Fatimah. "Karena menulis adalah jiwaku. Aku tidak akan menyerah, meskipun sulit."

Lev mengangguk. Ia kagum dengan keberanian Fatimah. Di balik kekritisannya, ada tekad yang kuat. Ia menyadari, setiap orang punya perjuangan masing-masing. Dan perjuangan itu, sama pentingnya dengan sejarah yang ada di buku.

Setelah makan, mereka berjalan-jalan di sekitar restoran. Teheran, di malam hari, terasa lebih dingin. Lampu-lampu kota yang kerlap-kerlip membuat suasana menjadi romantis. Fatimah menunjukkan beberapa bangunan kuno yang masih terawat dengan baik.

"Bangunan-bangunan ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu," kata Fatimah. "Mereka adalah saksi bisu dari sejarah panjang Iran."

Lev mengangguk. Ia tahu, perjalanannya di Iran akan penuh dengan tantangan. Tapi ia juga tahu, ia sudah tidak sendirian. Fatimah akan membantunya. Dan di balik tantangan itu, ada pelajaran berharga yang menantinya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default