Bab 29: Bisikan di Ruang Hening

Bab 29: Bisikan di Ruang Hening

Lev
0

Pengakuan Argus menciptakan kekacauan emosional. Setelah berdebat panjang, Lev, Vania, dan Anatasya akhirnya menyadari bahwa mentor mereka tidak berniat jahat. Perasaannya yang bercampur aduk antara penyesalan dan keinginan untuk menebus kesalahan masa lalu begitu nyata, membuat mereka memaafkannya. Namun, kepercayaan mereka tidak lagi seratus persen. Sebuah keraguan kecil tertinggal, seperti bayangan yang tak bisa dihilangkan.

"Kita harus menghadapi Sombra," kata Lev, suaranya dipenuhi tekad. "Tetapi kita harus melakukannya dengan hati-hati. Kita tidak bisa lagi mempercayai siapa pun selain kita berempat."

Vania mengangguk. "Aku setuju. Kita tidak tahu siapa lagi yang Sombra coba manipulasi."

Anatasya, yang paling analitis, menambahkan, "Kita harus menggunakan semua pengetahuan yang kita miliki. Kita harus membaca buku-buku kuno, kita harus berlatih, dan kita harus memanfaatkan setiap kelemahan Sombra."

Dengan bantuan Argus dan Elara, mereka mulai mempersiapkan diri. Argus memberikan mereka buku-buku kuno lain yang berisi informasi tentang mantra-mantra kuno, dan Elara membantu mereka berlatih menggabungkan kekuatan mereka.

Suatu malam, saat mereka sedang berlatih di inti Arcanum, Lev mendengar sebuah bisikan. Bukan bisikan dari Sombra, melainkan bisikan dari dalam dirinya sendiri. Bisikan itu memanggil namanya, memanggilnya untuk pergi ke tempat yang ia tidak tahu.

Lev, yang tadinya terganggu, mencoba untuk mengabaikannya. Tetapi bisikan itu semakin kuat. Ia merasa ada kekuatan lain yang mencoba mengendalikannya.

"Ada apa, Lev?" tanya Anatasya, melihat Lev terlihat tidak fokus.

"Aku... aku mendengar sesuatu," jawab Lev. "Sebuah bisikan."

Vania dan Elara juga mendengar bisikan itu. "Itu bukan bisikan biasa," kata Vania. "Itu... memanggil kita."

Mereka mengikuti bisikan itu. Bisikan itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang tidak pernah mereka ketahui. Ruangan itu terlihat seperti ruang ritual kuno, dipenuhi dengan simbol-simbol kuno dan lilin-lilin yang menyala.
Di tengah ruangan, ada sebuah cawan batu yang memancarkan cahaya redup. Bisikan itu semakin kuat saat mereka mendekati cawan itu.

"Sentuhlah cawan itu," bisik suara itu. "Sentuhlah, dan kamu akan mendapatkan kekuatan yang tak terbatas."

Lev, yang tadinya ragu, melangkah maju. Ia merasakan bahwa cawan itu memanggilnya. Ia merasakan bahwa cawan itu bisa memberikannya kekuatan yang ia dambakan. Tetapi, ia juga teringat akan bahaya dari godaan Sombra.

Vania, Anatasya, dan Elara melihat Lev, dan mereka tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tahu bahwa Lev sedang diuji.

"Jangan, Lev," kata Vania. "Itu jebakan."

"Sombra mencoba memanipulasimu lagi," tambah Anatasya.

"Dia ingin mengambil jiwamu," kata Elara.

Lev berhenti. Ia melihat teman-temannya, dan ia tahu bahwa mereka benar. Ia tidak akan mengkhianati mereka lagi.
Tiba-tiba, dari kegelapan, muncul Sombra. Ia tidak lagi menyamar sebagai Luna. Ia muncul dalam wujud aslinya, kabut hitam yang pekat, dengan dua mata merah yang menyala-nyala.

"Kau menolak tawaranku," bisik Sombra. "Kau akan menyesal."
Sombra menyerang mereka. Kali ini, ia lebih kuat dari sebelumnya. Ia menggunakan kekuatan kegelapan yang lebih kuat dari sebelumnya.

Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, Anatasya, dan Elara yang harus menghadapi Sombra lagi. Mereka tahu bahwa ini adalah pertempuran terakhir, dan mereka harus memenangkannya. Namun, kali ini, mereka tidak hanya melawan Sombra. Mereka juga melawan ketakutan dan keraguan dalam diri mereka sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default