Manchester tidak pernah bercanda soal hujan. Namun malam ini, langit seperti sedang menumpahkan seluruh isi Laut Irlandia ke atas aspal Salford. Saat Layla memacu mobil kecilnya keluar dari area rumah sakit, wiper kacanya bergerak liar, namun pandangannya tetap tertutup tirai air yang pekat.
"Ayo, si Merah kecil, jangan mogok sekarang," bisik Layla pada mobilnya. Di saku scrub-nya, pin pemberian Wayne Rooney terasa berat, seolah memberi beban tanggung jawab untuk segera sampai ke rumah.
Namun, harapannya pupus saat ia mencapai Crescent Road. Di depannya, deretan lampu rem berwarna merah menyala terang. Air setinggi lutut orang dewasa telah menelan jalanan di bawah jembatan kereta api. Beberapa mobil terlihat terhenti dengan kap mesin terbuka, menyerah pada alam.
Layla memukul kemudi dengan frustrasi. Ponselnya bergetar—pesan dari Yusuf: "Layla, aku terjebak di Cheetham Hill. Jalanan dikunci polisi. Aku tidak bisa ke rumah Paman Malik. Tolong katakan padaku kau sudah di sana!"
Jantung Layla mencelos. Ayahnya sendirian. Di tengah badai seperti ini, Malik bisa saja bingung, mengira suara guntur adalah suara bom perang, atau lebih buruk lagi, ia mungkin mencoba keluar rumah untuk mencari ibunda Layla yang sudah tiada.
Layla keluar dari mobil, membiarkan hijabnya basah kuyup dalam hitungan detik. Ia harus berjalan kaki. Tidak ada pilihan lain. Saat ia melangkah masuk ke dalam genangan air yang dinginnya menusuk tulang, sebuah van besar dengan stiker besar Manchester City di kaca belakangnya berhenti tepat di sampingnya.
Dua pria bertubuh besar dengan jaket biru langit keluar dari van tersebut. Layla waspada, memegang tasnya erat-erat.
"Heh, Suster! Kau gila berjalan di air setinggi ini?" teriak salah satu pria itu dengan aksen Mancunian yang sangat kental.
"Aku harus pulang! Ayahku sendirian dan dia sedang sakit!" balas Layla, suaranya parau karena tertelan deru hujan.
Kedua pria itu saling berpandangan. Salah satunya, yang memakai topi beanie dengan logo City, menghela napas panjang. "Masuklah ke van. Kami sedang dalam perjalanan menuju Pendleton, tapi kami bisa memutar sedikit. Kau terlihat seperti kucing merah yang malang."
Layla ragu sejenak. Identitasnya sebagai pendukung United berteriak menolak, tapi nuraninya sebagai seorang putri menang. Ia naik ke kursi belakang van yang penuh dengan peralatan bangunan dan aroma kopi instan.
Di dalam van, suasana terasa canggung. Ada syal biru yang tergantung di spion tengah.
"Aku Gary, dan ini saudaraku, Phil," kata pria yang menyetir. "Jangan khawatir, Suster. Kami memang fans City, tapi kami tidak menculik fans United di hari hujan. Itu buruk untuk karma, apalagi di bulan Ramadan-mu, kan?"
Layla terkejut. "Kau tahu ini Ramadan?"
"Tentu saja. Tetangga kami di Moss Side mengirimkan kami samosa setiap sore selama sebulan ini. Kami tahu kalian sedang berjuang melawan lapar," Gary terkekeh.
Sepanjang perjalanan yang lambat menembus banjir, Layla bercerita tentang ayahnya dan bagaimana United adalah satu-satunya hal yang menjaga ingatan Malik. Gary dan Phil mendengarkan dengan diam. Ternyata, ayah mereka juga seorang fans fanatik bola yang telah meninggal dua tahun lalu.
"Ayah kami fans City sejak zaman mereka masih di divisi bawah," Phil bercerita sambil menatap jalanan yang banjir. "Saat dia meninggal, hal terakhir yang dia tanyakan bukan soal warisan, tapi apakah City menang di pertandingan akhir pekan. Aku mengerti perasaanmu, Suster."
Saat van itu akhirnya berhasil mencapai depan rumah Layla—setelah melewati beberapa jalur tikus yang hanya diketahui oleh penduduk lokal—Layla merasa seolah baru saja memenangkan trofi.
"Terima kasih... benar-benar terima kasih," kata Layla tulus.
"Sama-sama," Gary mengedipkan mata. "Tapi jangan bilang-bilang temanmu kalau kau diselamatkan oleh 'Blue Army', ya? Bisa jatuh reputasi kami di pub nanti!"
Layla tertawa dan turun dari van. Ia berlari masuk ke rumah, kuncinya gemetar saat dimasukkan ke lubang pintu. Begitu pintu terbuka, ia menemukan Malik sedang duduk tenang di meja makan, memegang radio tua yang menyiarkan berita cuaca.
"Layla? Kau basah kuyup," kata Malik tenang. "Untung kau pulang. Ayah baru saja mau membuatkanmu teh. Tadi ada orang City yang menelepon ke telepon rumah, katanya kau aman bersama mereka."
Layla tertegun. "Siapa yang menelepon, Yah?"
"Namanya Gary. Dia bilang dia teman kantormu. Dia orang baik untuk ukuran seorang 'Biru'."
Layla terduduk di kursi dapur, air matanya bercampur dengan air hujan di wajahnya. Ia mengeluarkan pin pemberian Wayne Rooney dari sakunya yang basah dan meletakkannya di tangan Malik.
"Ini untuk Ayah. Dari seseorang yang sangat hebat," bisik Layla.
Mata Malik berbinar saat melihat logo United yang berkilau di bawah lampu dapur yang kuning. "Ini... ini indah, Layla. Sangat indah."
Malam itu, di tengah banjir yang melumpuhkan kota, Layla belajar satu hal lagi tentang Ramadan di Manchester: Bahwa iman dan kemanusiaan jauh lebih luas daripada warna jersey. Dan terkadang, Tuhan mengirimkan bantuan melalui tangan orang-orang yang paling tidak kita duga—bahkan melalui mereka yang mendukung rival bebuyutan kita.
Layla pun mulai menyeduh teh, sementara di luar, hujan Manchester masih setia mengguyur, namun hatinya tidak lagi merasa dingin.
Proactive Follow-up: Lanjut ke Bab 7, di mana Layla mendapati Malik tiba-tiba menghilang dari rumah saat waktu sahur karena ia "mengira" ada jadwal pertandingan di Old Trafford yang harus ia datangi? #GGMU
