Bab 6: Perburuan Takjil di Pelataran dan Diplomasi Nasi Boks Lev ℛyley

Bab 6: Perburuan Takjil di Pelataran dan Diplomasi Nasi Boks Lev ℛyley

Lev
0
Ikuti petualangan seru keluarga Muhammad Hifni (Barabai) & Lev ℛyley (Banjarmasin) saat Ramadan di Mekah. Dari misi cari kucing gurun hingga drama belanja online! 



Matahari mulai condong ke ufuk barat, mengubah warna langit Mekah menjadi jingga keunguan yang magis. Di pelataran Masjidil Haram, ribuan meter plastik sufrah (alas makan) mulai dibentangkan oleh para petugas dan relawan. Inilah saat yang paling dinantikan: waktu berburu takjil dan merasakan atmosfer persaudaraan dunia.

"Ayah, ayo cepat! Nanti kucingnya kehabisan tempat!" seru Khalisah sambil menarik-narik ujung baju koko Muhammad Hifni. Di Mekah, Khalisah belajar satu hal penting: jika ingin duduk di dalam masjid saat magrib, harus datang dua jam sebelumnya.

Keluarga Lev ℛyley sudah lebih dulu siaga di dekat Pintu King Abdulaziz. Lev tampak sangat serius, layaknya seorang komandan lapangan. "Oke semuanya, dengerin Papa. Aisyah, kamu amankan saf untuk Mama dan Bu Rina. Maryam, kamu jaga barang-barang, jangan sampai ada koper belanjaan Mama yang ketinggalan. Ghina, siapkan kamera, kita mau rekam momen 'War Takjil' paling damai sedunia!"

Anindya Putri tampak sibuk memperbaiki posisi jilbabnya agar tetap on-camera. "Pa, katanya di sektor sebelah sana ada pembagian nasi boks lauk ayam brokoli yang viral itu. Cariin dong, buat konten 'Menu Buka Puasa Sultan'!"

Lev menghela napas. "Ma, di sini semua sama. Mau sultan atau PNS Barabai, makannya sama-sama kurma dan roti tamis." Namun, demi menyenangkan hati sang istri (dan demi konten yang damai), Lev akhirnya membelah lautan manusia menuju kerumunan petugas yang membawa gerobak makanan.

Di sisi lain, Rina Rufida dan Aisyah Humaira mulai menggelar sajadah. Mereka duduk berdampingan dengan jamaah dari Afrika, Turki, dan Uzbekistan. Tanpa butuh waktu lama, Rina yang fasih berbahasa Inggris langsung akrab dengan seorang nenek dari Mesir. Mereka berbagi cerita tentang sekolah di Indonesia dan sistem pendidikan di Kairo.

"Lihat itu, Bu Rina," bisik Aisyah. "Di sini, perbedaan bahasa bukan penghalang. Cukup dengan senyum dan sebutir kurma, kita sudah seperti keluarga."

Sementara itu, Khalisah dan Rayyan Zuhayr sedang menjalankan misi rahasia. Di bawah pengawasan Maryam Safiya yang diam-diam mensketsa suasana, kedua bocah itu mendekati seorang petugas kebersihan yang sedang dikelilingi tiga ekor kucing pelataran.

"Paman, ini untuk kucingnya," ujar Rayyan sambil menyodorkan potongan kecil roti yang ia dapat dari pembagian takjil. Petugas itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih kontras dengan kulitnya yang gelap, lalu mengelus kepala Rayyan. "Barakallah, ya Habibi," ucapnya.

Namun, di sudut lain, Lev ℛyley sedang terjebak dalam situasi kocak. Ia berhasil mendapatkan dua boks nasi, tapi karena postur tubuhnya yang tidak terlalu besar dibanding jamaah dari Pakistan, ia sempat "terjepit" di antara kerumunan.

"Waduh, waduh! Excuse me, Sir! Saya orang Banjar, kecil-kecil begini gigih!" teriak Lev sambil mengangkat boks nasi itu tinggi-tinggi ke udara agar tidak penyet. Ia tampak seperti seorang pemain rugby yang sedang melakukan touchdown.

Saat adzan Magrib berkumandang dari menara masjid—suara yang begitu dalam hingga menggetarkan kerangka dada—seluruh keributan itu berhenti seketika. Sunyi. Hanya terdengar suara tegukan air zamzam dan kunyahan kurma yang serempak.

Lev kembali ke rombongan dengan baju yang sedikit berantakan tapi wajah yang penuh kemenangan. "Nih, nasi boks perjuangan! Tadi Papa harus pakai teknik coding tingkat tinggi buat baca celah di antara kerumunan orang-orang besar itu," candanya sambil menyerahkan nasi tersebut kepada Anindya.

Mereka berbuka puasa bersama di atas ubin putih yang mulai mendingin. Khalisah duduk tenang, memberikan sisa kulit kurmanya (yang tentu saja tidak dimakan kucing) ke tempat sampah, sementara seekor kucing oren duduk manis tepat di samping sajadahnya, seolah ikut mengamini doa buka puasa mereka.

"Pak Hifni," ujar Lev sambil mengunyah kurma Sukari yang manisnya meresap hingga ke hati. "Di Banjarmasin kita mungkin punya segalanya, tapi makan nasi boks lesehan di sini rasanya jauh lebih mewah dari hotel bintang lima."

Hifni mengangguk, matanya menatap Ka'bah yang mulai disinari lampu-lampu megah. "Itulah berkahnya Ramadan di sini, Pak Lev. Kita diingatkan bahwa di hadapan-Nya, kita semua hanya hamba yang sedang lapar akan rahmat-Nya."

Malam itu, di bawah lindungan langit Mekah, dua keluarga dari Kalimantan Selatan itu merasa dunia begitu sempit namun begitu luas dengan cinta.

Apakah Anda ingin berlanjut ke Bab 7? Di mana Ghina Qalbi mencoba melakukan 'mukbang' makanan Arab namun malah kepedasan karena tidak sengaja memakan cabai hijau besar yang ia kira buncis.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default