Bab 7: Fahmi Jadi Detektif Selebriti

Bab 7: Fahmi Jadi Detektif Selebriti

Lev
0

Pukul empat sore di rumah keluarga Salman. Suasana biasanya tenang karena Aisyah dan Fikri masih di kantor atau majelis taklim. Namun, hari ini diisi dengan misi rahasia yang digagas oleh Fahmi, si anak ketiga yang jahil dan kreatif.

Fahmi sedang duduk di depan komputer meja di ruang belajar. Di sebelahnya, Mila si bungsu duduk manis sambil memakan keripik singkong. Misi mereka: Menemukan alamat rumah content creator paling terkenal se-Indonesia, Atta Halilintar.

“Oke, Mila,” kata Fahmi dengan nada serius, meniru gaya detektif di film kartun. “Target kita adalah menemukan markas AHHA. Menurut data intelijen dari YouTube, Bang Atta itu tinggal di Jakarta. Kita harus cari lokasinya.”

Mila mengangguk penuh semangat, meski tidak mengerti sepenuhnya. “Nanti kalau ketemu, kita nyanyi bareng Bang Atta, ya, Kak Fahmi!”

Fahmi mulai membuka browser dan mengetikkan kata kunci pencarian dengan jari-jari kecilnya yang lincah: "Alamat rumah Atta Halilintar di Jakarta".

Google Search segera menampilkan ribuan hasil. Fahmi mulai membaca satu per satu tautan yang muncul.

“Katanya di Pondok Indah, Mi. Wah, kayaknya gede rumahnya,” gumam Fahmi. “Tapi ini ada yang bilang di Kemang. Yang mana yang bener, ya?”

Anak kelas empat SD itu mencoba membuka Google Maps. Dia mengetikkan "Rumah Atta Halilintar" di kolom pencarian peta. Tentu saja, aplikasi peta tidak memberikan alamat pasti, hanya menunjukkan area umum di Jakarta Selatan.

Fahmi mulai frustrasi. Misi detektifnya tidak semudah di konten YouTube idolanya.

“Susah banget, Mi. Kayaknya Bang Atta sengaja sembunyiin alamatnya biar nggak didatangi fans,” keluh Fahmi.

Di tengah kebingungan Fahmi, Rizki, si sulung, masuk ke ruang belajar. Dia baru saja pulang kuliah dan melihat adik-adiknya sedang serius menatap layar komputer.

“Lagi ngapain kalian berdua? Serius amat kayak mau bedah katak,” tanya Rizki.

“Kakak! Kita lagi cari alamat Bang Atta Halilintar!” seru Fahmi penuh harap. “Kakak kan pinter, pasti bisa bantu!”

Rizki tersenyum geli. Dia mendekat dan melihat riwayat pencarian Fahmi.

“Fahmi, Fahmi. Nggak semudah itu nyari alamat orang di internet,” kata Rizki. “Masalah privasi itu penting. Publik figur terkenal se-Indonesia kayak Bang Atta pasti menjaga privasinya dong.”

“Yah, jadi nggak bisa ketemu dong?” Mila mulai cemberut.
Rizki mengacak rambut Mila gemas. “Bisa ketemu, tapi mungkin di acara publik, bukan di rumahnya. Lagipula, daripada cari alamat di Google, mending kita contoh sisi positifnya Bang Atta. Dia kan pekerja keras, bisa sukses di usia muda. Itu yang harus ditiru.”

Fahmi tampak berpikir. “Iya juga sih, Kak. Dia bisa beli rumah gede dari hasil kerja kerasnya bikin konten Islami dan hiburan.”

Saat itulah, Aisyah pulang dan masuk ke ruang belajar. Dia melihat Rizki, Fahmi, dan Mila sedang serius membahas Atta Halilintar.

“Ada apa ini? Kok serius banget bahas Bang Atta?” tanya Aisyah.

“Fahmi mau jadi detektif, Mi. Cari alamat rumah Atta Halilintar,” lapor Rizki.

Aisyah terkejut. “Ya Allah, Fahmi. Nggak boleh begitu, Nak. Itu melanggar privasi orang lain. Dalam Islam, kita diajarkan untuk menghargai privasi dan tidak mencari-cari kesalahan atau hal pribadi orang lain.”

Wajah Fahmi langsung berubah masam. Dia merasa bersalah. “Maaf Umi, Fahmi cuma pengen tahu aja.”

“Nggak apa-apa, Nak. Umi tahu niatmu baik, cuma caranya saja yang kurang tepat,” kata Aisyah lembut. “Kalau mau mengidolakan seseorang, fokus pada karyanya, bukan kehidupan pribadinya.”

Misi detektif Fahmi pun berakhir. Meskipun gagal mendapatkan alamat idolanya, Fahmi mendapatkan pelajaran berharga tentang etika dan privasi. Kehidupan di Banjarbaru mengalir dengan damai, dan keluarga Salman belajar satu hal lagi: bahkan dalam mengagumi selebriti terkenal di seluruh Indonesia, ada adab Islami yang harus dijaga.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default