Senin kembali tiba. Jika biasanya drama Hifni sebatas kancing baju atau speaking test dadakan dari Rina, kali ini ujiannya lebih nyata dan berbau birokrasi lapangan. Hifni mendapat tugas mewakili bagian umum untuk meninjau proyek pembangunan jalan desa di wilayah pinggiran Tabalong.
Proyek ini adalah bagian dari dana aspirasi yang sedang gencar-gencarnya dikerjakan, dan Hifni ditugaskan untuk memastikan administrasi dan pelaksanaan di lapangan berjalan sesuai prosedur.
"Mas, hati-hati di desa. Warga di sana lumayan kritis lho soal proyek pemerintah," pesan Rina saat mengantar Hifni ke mobil.
"Siap, Bu Guru. Doakan Ayah biar lancar jaya," jawab Hifni mantap.
Hifni berangkat bersama Pak Udin, seorang staf senior di kantornya yang sudah hafal seluk beluk birokrasi desa di Tabalong. Setibanya di desa tujuan—sebut saja Desa Harapan Makmur—mereka disambut oleh Kepala Desa (Kades) dan beberapa perangkat desa yang sudah menunggu di balai desa.
Suasananya ramah, khas pedesaan Kalimantan yang hangat. Setelah basa-basi sebentar, rombongan kecil itu bergerak ke lokasi proyek pembangunan jalan rabat beton.
Di lokasi, beberapa warga sedang sibuk bekerja. Hifni mulai menjalankan tugasnya, mencocokkan data teknis di laptopnya dengan kondisi riil di lapangan. Ia mengukur panjang, lebar, dan ketebalan coran beton dengan meteran.
"Pak Kades, ini di RAB (Rencana Anggaran Biaya) ketebalan betonnya 15 cm, tapi setelah saya ukur, di beberapa titik cuma 14,5 cm. Ada selisih setengah senti," ujar Hifni dengan nada formal, mencoba menegakkan integritasnya sebagai PNS pengawas.
Wajah Pak Kades langsung berubah tegang. Warga yang mendengar juga mulai berbisik-bisik.
"Pak Hifni, itu kan cuma selisih dikit aja. Wajarlah, namanya juga kerja lapangan," bela Pak Kades, sedikit panik.
"Dikit-dikit kalau dikalikan volume kan jadi banyak, Pak Kades. Ini kan uang negara, harus akuntabel," Hifni tetap keukeuh dengan pendiriannya, melupakan sejenak kearifan lokal.
Suasana mulai memanas. Warga yang tadinya diam mulai mendekat. Hifni, yang terbiasa duduk di balik meja AC kantor, mulai merasa tertekan oleh tatapan puluhan pasang mata warga desa.
"Maksud Bapak, kami korupsi setengah senti?" tanya salah satu mandor proyek, suaranya terdengar tidak senang.
"Bukan begitu, Pak. Prosedur tetap prosedur," Hifni mulai gelagapan.
Melihat situasi mulai runyam, Pak Udin, staf senior Hifni, segera mengambil alih kendali. Pak Udin ini tipenya pergaulan luas, hafal watak warga desa.
"Tenang Bapak-bapak, Pak Hifni ini orang baru, semangatnya masih tinggi," Pak Udin tertawa renyah, mencairkan suasana. Ia kemudian berbisik ke Hifni, "Pak Hifni, tolong sebentar."
Mereka menjauh sedikit dari kerumunan.
"Pak Hifni, di desa ini, pendekatan kita harus beda. Jangan langsung to the point soal selisih. Warga di sini sangat menjunjung tinggi perasaan dan komunikasi yang baik," bisik Pak Udin. "Mereka ini kerja sukarela juga lho, gotong royongnya masih kental. Setengah senti itu mungkin karena faktor alam atau teknik pengerjaan manual."
Hifni merasa malu. Niatnya baik untuk pengawasan, tapi caranya yang kaku dan formal malah menyulut konflik. Ia gagal paham konteks sosial di lapangan.
"Terus gimana, Pak Udin?"
"Kita ngopi dulu di balai desa. Nanti saya yang bicara pelan-pelan," kata Pak Udin santai.
Mereka kembali ke balai desa. Pak Kades menyajikan kopi hitam panas dan pisang goreng. Di suasana yang lebih santai itu, Pak Udin mulai berdialog dengan Pak Kades dan mandor proyek. Mereka berbicara menggunakan bahasa Banjar halus, yang hanya dimengerti sedikit oleh Hifni.
Setelah diskusi yang alot tapi penuh tawa (karena Pak Udin menyisipkan beberapa lelucon khas Banjar), masalah selisih setengah senti itu selesai dengan solusi musyawarah mufakat. Pihak desa berjanji akan menambah sedikit material di titik-titik yang kurang tebal, dan Hifni mencatat itu sebagai catatan perbaikan untuk laporan.
"Alhamdulillah, beres, Pak Hifni," kata Pak Udin sambil menepuk punggung Hifni.
Hifni menghela napas lega. Ia belajar pelajaran berharga hari itu: birokrasi tidak melulu soal angka dan aturan kaku, tapi juga soal seni komunikasi, kearifan lokal, dan pendekatan humanis.
Saat perjalanan pulang, Hifni merenung. Ia merasa bersalah karena hampir merusak hubungan baik antara pemerintah dan warga desa hanya karena ego menegakkan aturan tanpa melihat konteks.
Sesampainya di rumah, Rina sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Gimana, Mas? Lancar jaya?"
Hifni menceritakan insiden selisih setengah senti dan bagaimana Pak Udin menyelamatkan situasi. Rina hanya tersenyum mendengarnya.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Di Tabalong ini, apalagi di desa-desanya, pendekatan hati itu penting, Mas," komentar Rina. "Kamu terlalu kaku kayak seragam khaki yang belum disetrika."
Hifni tertawa. "Iya deh, Bu Guru. Besok-besok kalau ada tugas lapangan, aku ajak kamu aja jadi konsultan kearifan lokal."
"Boleh aja, tapi bayarannya pisang goreng di balai desa tadi," balas Rina, disambut tawa Hifni.
Kehidupan PNS mereka memang penuh warna. Ada drama di kantor, ada komedi di rumah, dan ada pelajaran berharga di lapangan. Hifni kini paham, menjadi abdi negara di daerah sepert Tabalong membutuhkan keseimbangan antara profesionalisme dan pemahaman mendalam tentang masyarakatnya yang Islami dan guyub.
