Aroma basah kayu ulin yang tersiram embun pagi selalu menjadi penanda mulainya hari di Distrik Tanjung, Tabalong, pada tahun 1933. Matahari baru saja mengintip malu-malu di balik rimbunnya pohon karet, memancarkan sinar keemasan yang menembus sela-sela dinding rumah panggung milik keluarga Muhammad Hifni. Di dalam kamar yang diterangi lampu minyak tanah yang mulai meredup, Hifni sedang berdiri di depan sebuah cermin kaca buram.
Hari ini adalah hari yang penting, sekaligus mendebarkan. Sebagai seorang pemuda Pangreh Praja—sebutan untuk pegawai negeri pribumi di era Hindia Belanda—penampilan adalah segalanya. Dengan telaten, Hifni mengancingkan beskap putih bersihnya yang kaku karena kanji. Ia merapikan kain sarung tenun Samarinda yang membalut pinggangnya, lalu memasang peci hitam di kepala.
Hifni menatap pantulan dirinya sendiri. Di satu sisi, seragam ini menjanjikan status sosial yang dihormati dan gaji yang cukup dalam mata uang Gulden. Namun di sisi lain, seragam ini terasa seperti rantai tak kasat mata. Setiap hari, ia harus menundukkan kepala di hadapan Meneer kontrolir Belanda yang angkuh, berpura-pura patuh pada aturan administrasi kolonial yang kerap mencekik leher rakyatnya sendiri.
"Hifni, lekas turun, Nak! Sarapanmu sudah siap. Jangan sampai kamu terlambat dan membuat Tuan Besar Belanda itu mengamuk lagi," suara lembut ibunya memecah keheningan pagi dari arah dapur bawah.
Hifni menghela napas panjang, tersenyum kecil, lalu mengambil tas kulit tuanya yang berisi tumpukan berkas laporan logistik pasar. Ia melangkah turun melewati anak tangga kayu ulin yang berderit nyaring—sebuah melodi khas rumah Banjar yang selalu dirindukannya setiap kali bepergian jauh.
Di meja makan, seiring dengan kepulan uap dari teh hangat, aroma Nasi Kuning khas Banjar dengan lauk haruan (ikan gabus) masak habang langsung menyapa indra penciumannya. Di sudut meja, seekor kucing lokal berbulu oranye-putih gemuk tiba-tiba melompat naik dengan santai, mengendus-endus ujung piring Hifni.
"Hus! Pus! Turun. Ini makanan sarapan Abah, bukan jatahmu," usir Hifni dengan nada bercanda sambil mencolek hidung kucing tersebut. Kucing itu hanya mendengkur pelan, lalu mengeong protes sebelum melompat turun mencari perlindungan di balik kaki ibunya.
"Kamu ini, Hifni. Sudah tahu kucing itu paling senang mengincarmu kalau sedang pakai seragam dinas. Mungkin dia tahu, kalau kamu jadi pejabat, jatah ikan asinnya bisa naik pangkat juga," seloroh ibunya sambil menyerahkan sebungkus roti gandum—oleh-oleh dari pegawai keturunan yang sengaja disisihkan untuk bekal Hifni.
Hifni tertawa renyah. Humor-humor kecil seperti inilah yang membuatnya tetap waras di tengah tekanan kerja yang luar biasa. Usai meneguk teh hangat dan mencium tangan ibunya, ia melangkah keluar menembus kabut pagi Tanjung. Tugasnya hari ini adalah memeriksa pasokan komoditas di sekitar wilayah Murung Pudak, wilayah yang belakangan ini mulai ramai karena geliat pencarian sumber minyak oleh perusahaan kolonial.
Perjalanan menuju kantor dinas ditempuhnya dengan berjalan kaki menyusuri jalanan tanah yang masih becek sisa hujan semalam. Di sepanjang jalan, sesekali ia berpapasan dengan warga lokal yang memikul keranjang berisi karet mentah atau sayuran menuju pasar. Mereka selalu mengangguk hormat seraya berucap, "Selamat pagi, Pak Diang." Hifni membalasnya dengan senyuman ramah dan batin yang bergejolak. Mereka menghormatinya sebagai pelindung, padahal Hifni tahu, posisinya saat ini sangat terbatas untuk bisa membela mereka secara terang-terangan dari tarikan pajak kolonial yang mencekik.
Namun, ada satu hal lain yang membuat langkah kaki Hifni pagi ini terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Jalur perjalanannya menuju Murung Pudak akan melewati sebuah pondok bambu sederhana yang terletak di tepi barat pemukiman. Tempat itu bukan sembarang pondok; tempat itu adalah sebuah sekolah liar—atau yang biasa disebut Belanda sebagai Wilde Scholen—di mana anak-anak pribumi diajari membaca, menulis, dan mengenal dunia luar.
Dan di sanalah ia berada sekarang. Pengajar di pondok itu adalah Rina Rufida.
Dari jarak sekitar lima puluh meter, Hifni memperlambat langkah kakinya. Ia berpura-pura sibuk memeriksa tali sepatunya yang longgar, padahal sepasang matanya tertuju penuh ke arah beranda pondok bambu tersebut. Di sana, Rina sedang sibuk menyapu halaman dengan sapu lidi. Gadis itu mengenakan baju kurung sederhana dengan kerudung kain paris yang disampirkan rapi, mencerminkan kesopanan dan keteguhan akhlak seorang wanita Muslimah Banjar.
Rina adalah anomali di zaman itu. Di saat sebagian besar perempuan pribumi dibatasi ruang geraknya hanya di sekitar sumur dan dapur, Rina justru mendobrak batas. Dengan modal pengetahuannya yang didapat secara otodidak dan jaringan keluarganya yang sempat mengenyam pendidikan, ia membuka kelas bahasa asing dan dasar-dasar agama untuk anak-anak miskin secara gratis.
Tiba-tiba, embusan angin kencang menerpa halaman pondok, membuat beberapa lembar kertas tugas anak-anak yang diletakkan di atas meja luar terbang berhamburan ke tanah.
"Astaga..." pekik Rina pelan, langsung berlutut mencoba memunguti kertas-kertas yang terbawa angin hingga ke tepi jalan tanah.
Melihat kesempatan itu, jiwa ksatria Hifni bergejolak, mengalahkan rasa gengsinya sebagai seorang pegawai pemerintah yang kaku. Dengan sigap, ia berlari kecil dan berhasil menginjak selembar kertas yang hampir masuk ke dalam parit berair. Ia memungut kertas itu, membersihkan sisa tanah yang menempel dengan ujung jarinya, lalu menyodorkannya kepada Rina yang kini sudah berdiri tegak di hadapannya.
Mata mereka bertemu untuk beberapa detik. Keheningan mendadak menyelimuti jalanan Tanjung yang sepi.
"Terima kasih banyak, Tuan Pangreh Praja," ucap Rina dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan. Ia memberikan sedikit anggukan hormat, menyadari seragam dinas kaku yang dikenakan oleh pemuda di depannya.
Hifni berdehem, mencoba menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Sama-sama, Galuh Rina. Kebetulan angin pagi ini sedang kurang bersahabat. Dan tolong, jangan panggil saya 'Tuan'. Di luar kantor, saya tetaplah Hifni, anak Banjar biasa yang kebetulan mencari makan lewat administrasi kertas mereka."
Mendengar jawaban jujur dan sedikit jenaka itu, seulas senyum tipis terukir di wajah Rina. Senyuman yang membuat Hifni merasa bahwa seluruh tekanan kerja dari Meneer Belanda dalam sebulan penuh seolah menguap begitu saja.
"Baiklah, Saudara Hifni. Terima kasih atas bantuannya. Anak-anak sebentar lagi datang, saya harus bersiap," ujar Rina kembali merapikan berkas di tangannya.
"Silakan, lanjutkan tugas mulia Anda. Mendidik mereka adalah investasi terbaik untuk masa depan tanah Tabalong kita," balas Hifni dengan tatapan penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikannya lagi.
Hifni pun berpamitan dan melanjutkan langkahnya menuju kantor dinas dengan dada yang bergemuruh. Cinta di era pergerakan tidak diungkapkan dengan surat-surat gombal atau untaian bunga, melainkan lewat rasa kagum pada visi, misi, dan keteguhan iman masing-masing. Hifni tahu, perjuangannya ke depan akan semakin berat. Ia harus menjaga posisinya di pemerintahan demi bisa melindungi gerakan rahasia seperti yang dilakukan Rina, sekaligus berharap suatu hari nanti, di bawah ridha Allah SWT, ia bisa meminang sang guru bahasa untuk membangun keluarga yang harmonis di atas tanah Indonesia yang merdeka.
Kisah perjuangan, dilema moral, dan romansa suci di bumi Tabalong baru saja dimulai. Bagaimana kelanjutan taktik Hifni dalam melindungi kelas rahasia Rina dari endusan intelijen Belanda?
