Bab 11: Rayyan Zuhayr dan Misi Menyelamatkan Planet

Bab 11: Rayyan Zuhayr dan Misi Menyelamatkan Planet

Lev
0

Rayyan Zuhayr, si bungsu berumur sembilan tahun, adalah pengecualian dalam keluarga Levℛyley. Sementara ibu dan kakak-kakaknya fasih berbicara soal SEO, rating, dan live shopping, dunia digital Rayyan sangat terfilter. Ponselnya hanya berisi aplikasi edukasi Islam, dongeng audio kisah nabi, dan beberapa game islami sederhana. Belanja online baginya hanyalah cara cepat mendapatkan buku cerita atau mainan edukasi yang dia inginkan.

Suatu hari, guru kelas Rayyan di SD Islam mengumumkan proyek sains bertema lingkungan. Setiap siswa diminta membuat presentasi tentang cara menyelamatkan planet.
Rayyan langsung antusias. Dia memang anak yang sangat peduli lingkungan. Saat di rumah, dia selalu cerewet mengingatkan kakaknya untuk mematikan keran air atau memilah sampah plastik.

Malam harinya, saat makan malam, Rayyan mengumumkan misinya. "Ayah, Ibu, teman-teman, Rayyan punya misi penting: Menyelamatkan Planet!"

Keluarga itu terdiam, lalu tersenyum. "Masya Allah, misi yang mulia, Nak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Levℛyley.

"Rayyan mau presentasi tentang cara mengurangi sampah plastik dari belanja online," jelas Rayyan serius. "Kan di rumah kita banyak banget paket tiap hari. Kardusnya numpuk."

Anindya langsung tersedak air minumnya. Merasa tersindir. "M-maksudnya?"

"Iya, Bu. Kata Pak Guru, plastik itu merusak laut di Banjarmasin. Ikan-ikannya bisa mati. Kalau kita belanja online terus, nanti sungainya penuh sampah," tutur Rayyan polos.
Wajah Anindya memerah. Meskipun dia selalu menekankan etika dan halal dalam belanja, dia seringkali lupa soal dampak lingkungan dari kemasan paket-paketnya.

Aisyah, si sulung yang bijak, menengahi. "Ide yang bagus, Rayyan. Kita bisa tunjukkan cara mendaur ulang kardus dan plastik bekas paket jadi barang yang berguna."

Rayyan mengangguk semangat. "Betul, Kak! Rayyan juga mau cari tahu toko online mana yang pakai kemasan ramah lingkungan."

Keluarga Levℛyley kembali ke mode "tim misi". Kali ini misinya bukan belanja, melainkan riset digital tentang toko online ramah lingkungan. Levℛyley membantu Rayyan mencari artikel ilmiah dan berita tentang polusi plastik di Kalimantan Selatan. Aisyah mencari komunitas pecinta lingkungan di Banjarmasin yang aktif mengedukasi masyarakat. Maryam mencari tutorial DIY (Do It Yourself) mendaur ulang kardus bekas menjadi kotak pensil atau pot tanaman. Ghina, tentu saja, mencari toko online yang mengklaim ramah lingkungan dan membaca review kejujuran klaim tersebut.

"Aku nemu toko kosmetik halal dari Bali, Bu! Mereka pakai kemasan kaca dan karton daur ulang. Review-nya positif banget soal packagingnya," lapor Ghina.

"Bagus! Coba cek SEO-nya, Ghin. Kalau bagus, kita bisa rekomendasikan di seminar kampus Aisyah nanti," kata Anindya, kini sudah berubah haluan jadi pejuang lingkungan digital.

Rayyan, dengan bimbingan ayahnya, mulai menyusun presentasinya. Dia membuat grafik sederhana tentang jumlah paket yang diterima keluarga mereka dalam sebulan dan potensi sampah yang dihasilkan. Dia juga menyertakan foto-foto kreasi daur ulang kardus buatan Maryam.

Hari presentasi tiba. Rayyan tampil percaya diri di depan kelasnya di SD Islam. Dia menjelaskan misinya dengan lugas dan penuh semangat. Teman-temannya terdiam mendengarkan fakta-fakta tentang sampah plastik dari belanja online.

"Jadi, teman-teman, kita bisa tetap belanja online tapi harus pintar milih toko yang ramah lingkungan. Dan yang paling penting, kita bisa daur ulang kemasannya jadi barang yang berguna. Itulah cara kita menyelamatkan planet," tutup Rayyan, disambut tepuk tangan meriah dari teman dan gurunya.

Rayyan berhasil mendapatkan nilai tertinggi untuk proyek sainsnya. Tapi lebih dari itu, dia berhasil memberikan kesadaran baru bagi keluarganya.

Malam itu, di rumah, tumpukan kardus bekas belanjaan di gudang terlihat berbeda. Kini mereka terlihat seperti tumpukan potensi baru, siap disulap menjadi sesuatu yang bermanfaat. Anindya berjanji akan lebih selektif memilih toko online yang peduli lingkungan.

Keluarga Levℛyley belajar lagi. Dari si bungsu yang polos, mereka diingatkan bahwa setiap tindakan di dunia digital, termasuk satu klik "Beli Sekarang", memiliki dampak nyata di dunia fisik, di Banjarmasin tercinta mereka. Dan sebagai keluarga muslim, menjaga alam adalah bagian dari iman.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default