Bab 11: Zaki Sakit, Semua Khawatir

Bab 11: Zaki Sakit, Semua Khawatir

Lev
0

Beberapa hari setelah insiden "Basreng Lontong" gagal, keharmonisan keluarga Rahmat sedikit terusik oleh kabar yang kurang menyenangkan. Zaki, si bungsu yang ceria dan paling semangat dalam urusan kuliner, tiba-tiba jatuh sakit. Badannya demam tinggi, dan dia terlihat lesu, tidak seaktif biasanya.

Pagi itu, saatnya sarapan dengan menu Roti Berongga Viral, kreasi Aisyah yang terinspirasi dari media sosial. Rotinya yang lembut dengan isian cokelat yang melimpah sudah tersaji di meja. Namun, kursi Zaki kosong.

"Zaki mana, Bu? Tumben belum bangun," tanya Ayah Rahmat.
Ibu Salma keluar dari kamar Zaki dengan wajah sedikit khawatir. "Badannya panas sekali, Pak. Semalam sudah Ibu kompres, tapi belum turun juga demamnya."

Seketika, suasana ceria di meja makan lenyap. Sarah dan Aisyah langsung beranjak dari kursi mereka dan menuju kamar Zaki di lantai bawah.

Di kamar Zaki, suasananya hening. Zaki terbaring lemah, matanya terpejam. Ibu Salma dengan telaten mengompres kening Zaki, sementara Ayah Rahmat membaca doa-doa pendek dan mengusap kepala putranya.

"Kita bawa ke dokter saja, Bu?" usul Ayah Rahmat.

"Nanti kalau panasnya belum turun juga, kita ke dokter. Ibu mau coba buatkan bubur khusus dulu. Kadang kalau sakit begini, enaknya makan yang lembut dan hangat," jawab Ibu Salma, jiwa keibuannya mengambil alih komando.

Ibu Salma pun bergegas ke dapur. Dia tidak memasak bubur ayam biasa, melainkan bubur beras putih yang dimasak dengan kaldu ayam kampung asli, ditambahkan irisan jahe, sedikit garam, dan taburan bawang putih goreng yang renyah di atasnya. Sederhana, tapi penuh gizi dan kasih sayang.

Sarah dan Aisyah menjaga Zaki, membacakan dongeng, dan memijat pelan kakinya. Ayah Rahmat menghubungi guru Zaki untuk mengabarkan bahwa Zaki tidak masuk sekolah.

Setelah bubur matang, Ibu Salma membawa semangkuk hangat ke kamar Zaki. Zaki yang lemas, awalnya enggan makan.

"Zaki makan sedikit ya, Nak. Biar cepat sembuh. Ibu buatkan bubur spesial," bujuk Ibu Salma lembut.

Dengan sabar, Ibu Salma menyuapi Zaki. Suap demi suap, bubur hangat itu masuk ke mulut Zaki. Perlahan, wajah Zaki mulai terlihat lebih segar. Rasa hangat dan gurih dari bubur kaldu jahe itu memberikan kenyamanan pada perutnya yang kosong.

"Enak, Bu. Hangat," ujar Zaki dengan suara lemah.

"Alhamdulillah," ucap semua anggota keluarga serentak, lega melihat Zaki mau makan.

Setelah makan, Zaki minum obat penurun panas dan kembali tidur. Demamnya berangsur turun sore harinya. Keluarga Rahmat berkumpul di ruang tengah dengan perasaan lega.
"Tadi itu bubur paling enak yang pernah Zaki makan, Yah," cerita Zaki yang sudah mulai ceria, duduk bersandar di sofa.
Ayah Rahmat tersenyum. "Itu bukan cuma bubur, Nak. Itu bubur kasih sayang. Dimasak dengan doa dan kekhawatiran kita semua."

Momen Zaki sakit mengajarkan keluarga Rahmat tentang pentingnya kesehatan dan betapa berharganya kebersamaan di saat susah. Mereka belajar bahwa makanan terenak di dunia bukanlah Dubai Chocolate viral atau Lontong Orari legendaris, melainkan hidangan sederhana yang disajikan dengan penuh cinta dan kepedulian. Kesehatan adalah nikmat terbesar yang seringkali luput disyukuri, dan keluarga adalah tempat terbaik untuk merasakan dukungan tanpa syarat.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default