Bab 17: Pelukan Terakhir

Bab 17: Pelukan Terakhir

Lev
0

Malam itu, setelah pertengkaran emosional mereka, Eva duduk di pondoknya, sendirian. Lilin-lilin yang menyala di sekitar ruangan memberikan cahaya yang redup, bayangan menari di dinding. Ia merasa lelah, lelah karena harus terus menerus bersembunyi, lelah karena harus terus menerus menghadapi perpisahan. Ia menyentuh foto Eleanor dan Harold di atas perapian, dan matanya berkaca-kaca. Ingatan tentang keluarga terakhirnya, keluarga manusia yang ia cintai, kembali menghantuinya.

Flashback.

Tahun 1970-an. Eva tinggal di Anchorage, di sebuah rumah kecil yang nyaman, bersama Eleanor dan Harold, yang sudah tua dan renta. Mereka telah menjadi keluarganya selama bertahun-puluh tahun. Eleanor, yang kini rambutnya memutih dan tangannya keriput, duduk di kursi goyangnya, merajut selimut untuk cucu-cucunya. Harold, yang kini lebih sering duduk di kursi malasnya, membaca koran dengan kacamata tebal.

Eva, yang terlihat sama seperti pertama kali mereka bertemu, adalah pengasuh mereka. Ia membantu mereka dengan pekerjaan sehari-hari, membacakan buku untuk mereka, dan mendengarkan cerita-cerita lama mereka. Ia tahu, waktunya bersama mereka semakin menipis.

Suatu malam, Harold memanggil Eva ke sisinya. Ia memegang tangan Eva yang masih muda. "Kau tahu, Eva," katanya, suaranya serak. "Kita tidak punya banyak waktu lagi."

Eva tidak bisa menahan air matanya. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Harold."

"Kau harus," kata Harold, tersenyum lemah. "Ini adalah siklus kehidupan. Kau adalah anugerah bagi kami, Eva. Kehadiranmu membuat kami merasa... istimewa. Kau adalah peri kami."

Eva hanya bisa menangis. Ia tidak menyangka mereka tahu. Ia tidak menyangka mereka menerima.

Beberapa tahun kemudian, Harold meninggal dalam tidurnya. Eva dan Eleanor berduka bersama, saling menguatkan. Eva menjadi pengasuh Eleanor sepenuhnya. Ia merawatnya, menemaninya, dan mendengarkan semua cerita lamanya tentang Harold.

Tahun 1990-an. Eleanor, yang kini sangat tua dan lemah, berbaring di ranjangnya. Eva duduk di sampingnya, menggenggam tangannya.

"Eva," bisik Eleanor. "Aku ingin kau tahu... bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu seperti anakku sendiri. Dan aku tidak takut mati. Aku akan bertemu Harold lagi."

Eva tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa menangis.

"Kau harus hidup, Eva," kata Eleanor. "Kau harus terus hidup. Kau harus melihat dunia. Kau harus mencintai lagi. Jangan biarkan kami menjadi alasanmu untuk berhenti. Kami akan selalu ada di hatimu."

Eleanor mengulurkan tangannya, tangannya yang keriput. Eva membungkuk dan memeluknya. Itu adalah pelukan terakhir mereka. Pelukan yang penuh cinta, penuh kesedihan, dan penuh perpisahan.

Setelah Eleanor meninggal, Eva menjual rumah itu, meninggalkan semua kenangan. Ia kembali ke Alaska, ke pondoknya yang sepi. Ia mencoba melupakan, mencoba menenangkan hatinya yang berduka. Ia mengubur dirinya dalam pekerjaan, dalam kesunyian, dalam keabadian.

Flashback berakhir.

Eva mengusap air matanya. Kisah Eleanor dan Harold adalah pengingat yang kejam. Pengingat bahwa ia tidak bisa mencintai tanpa harus berpisah. Pengingat bahwa ia akan selalu sendirian.

Namun, ia juga menyadari sesuatu. Ia tidak sendiri. Alex, dengan penerimaannya yang tulus, telah membuktikan itu. Alex telah melihat sisi dirinya yang rapuh, sisi yang paling ia sembunyikan, dan Alex tidak lari.

Ia mengambil ponselnya, yang kembali menyala. Ada pesan dari Alex. "Aku di kedai kopi. Aku tidak bisa tidur. Aku tahu kau juga tidak. Datanglah."

Eva tersenyum. Ia tahu, ini tidak akan mudah. Ia tahu, perpisahan akan datang. Tapi untuk saat ini, ia ingin berada di sana. Ia ingin berada di sisi Alex. Karena ia tahu, di tengah semua perpisahan, ada kebersamaan yang berharga. Dan kebersamaan itu, layak untuk diperjuangkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default