Banjarmasin diguyur hujan deras sore itu. Hujan yang turun tanpa aba-aba, membuat orang-orang bergegas mencari tempat berteduh. Vania, yang baru saja keluar dari sekolah, tidak sempat membuka payungnya. Ia berlari ke toko buku terdekat, berharap bisa menunggu hujan reda di sana.
Vania memasuki toko buku dengan napas terengah-engah. Rambutnya sedikit basah, dan bajunya yang tadinya rapi kini terlihat kusut. Ia melihat-lihat buku, mencoba mencari ketenangan di tengah riuhnya suara hujan.
Tiba-tiba, sebuah suara familiar menyapanya. "Assalamualaikum, Vania."
Vania menoleh. Di depannya berdiri Lev Ryley, dengan sebuah buku di tangannya. Vania terkejut, sekaligus merasa canggung. Ia tidak menyangka akan bertemu Lev di sini, lagi-lagi dalam keadaan yang tidak sempurna.
"Waalaikumsalam, Lev," jawab Vania. "Tumben di toko buku?"
"Saya mencari buku cerita untuk Naufal," jawab Lev. "Kamu sendiri? Kenapa basah-basahan?"
"Saya terjebak hujan," Vania menunduk. "Tidak sempat membuka payung."
Lev tersenyum. "Mau saya belikan teh hangat? Toko ini punya kafe di dalamnya."
Vania mengangguk. Mereka berdua berjalan ke kafe di dalam toko buku. Lev memesankan teh hangat untuk Vania, dan kopi untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di kursi yang menghadap ke jendela, menyaksikan hujan yang turun semakin deras.
"Jadi... bagaimana perasaanmu setelah saya bilang suka?" tanya Lev, memulai pembicaraan.
Vania terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jantungnya berdegup kencang.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang," kata Lev, seolah tahu apa yang Vania rasakan. "Saya cuma mau memastikan, kalau kamu tidak merasa tertekan."
"Tidak, Lev. Saya cuma... bingung," Vania jujur. "Semuanya terjadi terlalu cepat. Kita kenal dari kejadian lucu, lalu tiba-tiba kamu bilang suka. Saya merasa... seperti mimpi."
"Memang seperti mimpi," Lev tersenyum. "Tapi ini kenyataan, Vania. Saya tulus. Saya tidak mau main-main."
Vania menatap Lev, mencari kejujuran di matanya. Ia melihat ketulusan, dan ia merasa tenang.
"Lev... saya juga merasakan hal yang sama," Vania berkata, suaranya pelan.
Lev terkejut. "Benarkah?"
Vania mengangguk. "Sejak pertama kali bertemu, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Saya merasa tertarik. Tapi... saya takut. Saya takut jika ini cuma sementara."
Lev menggenggam tangan Vania. "Saya tidak akan membuat kamu takut, Vania. Saya akan membuktikan kalau saya serius. Saya akan membimbingmu, dan saya akan menjaga kamu."
Vania merasa nyaman dengan genggaman Lev. Ia merasa aman. Ia merasa, ini adalah takdirnya. Takdir yang tidak ia duga, dan takdir yang paling indah.
Hujan di luar mulai reda. Pelangi muncul di langit, memberikan pemandangan yang indah. Vania dan Lev saling menatap, dengan senyum di bibir mereka.
"Jadi, kamu mau jadi pacar saya?" tanya Lev.
Vania tersenyum. "Saya tidak mau pacaran, Lev. Saya mau langsung menikah."
Lev terkejut. "Serius?"
Vania mengangguk. "Kalau kamu serius, kita langsung nikah. Kalau tidak, kita putus."
Lev tertawa. "Saya serius, Vania. Saya sangat serius."
Mereka berdua saling berpegangan tangan. Di bawah langit Banjarmasin yang kini cerah, dengan pelangi yang indah, Vania dan Lev memulai kisah cinta mereka. Kisah cinta yang dimulai dari insiden bebek, es kelapa muda, dan kencan buta yang gagal. Kisah cinta yang mereka harapkan akan berakhir bahagia.
